#11. Dia Lelakiku

1086 Kata
Udah pernah nonton film L.O.R.D? Sebagai motivasi, aku mengisi waktu dengan menikmati film ini berulang kali. Apalagi ketemu sama karakter Silver, duh, bikin lumer, deh. ?? Layaknya peran Silver dalam kisah ini, aku juga butuh dukungan dan kritik kalian tentang karyaku. Cukup atau kurangkah, aku tak akan bisa menelitinya sendiri. Semoga kalian menikmati kisah ini. Love u all, Readers *** Kusuma duduk di seliri. Sengaja dia tak mengizinkan para dayang menata rambutnya. Mungkin dia ingin menghindar dari kejenuhan barang sejenak dengan memainkan helai - helai panjang itu, atau mungkin dia punya ide baru untuk menatanya sehingga lain dari biasa. Ah, tidak! Bagaimana itu bisa terjadi jika pikirannya hanya tertuju pada hal lain. Dia bahkan tidak bisa memilih sisir yang benar sekarang. Seharusnya, sisir bergerigi renggang itu yang menjadi pembuka sebelum yang terpegang kini. Sisir perak bergerigi tipis dan padat, itu akan menyiksa dan mungkin mencabut beberapa helai dari kumpulannya. Sebagai permulaan, tak ada kendala berarti. Gerak tangannya lancar. Ketika dia mengulang, sisir itu terhenti di pertengahan jalan dan sulit dilajukan. Akar - akar rambut Kusuma menjerit kala dia memaksa. Alhasil, gadis itu mencabut sisir dan melemparnya sembarang. Jadilah putriku yang baik, kalimat dingin itu kembali muncul di benaknya. Di hadapan cermin, dia mengusap wajah dan menampakkan raut angkara yang tak pantas untuk ditunjukkan kepada dunia. Jiwa liar yang terkurung serasa mulai melakukan perlawanan. Dia ingin terbebas dan menuntun raga melakukan apa yang semestinya dilakukan. Namun, Kusuma masih cukup tangguh untuk meredamnya. Dia mengatur jalur pernapasan dengan sempurna hingga magma di kepala kembali tenang dan tak berulah. Dia kembali mengambil sisir di meja. Akan tetapi, dia tak yakin bisa menggenggam benda itu dengan baik. Tangannya gemetar. Ada rasa sakit yang tiba - tiba menguat dalam d**a. Entah bagaimana dia mengontrol perasaan yang satu ini. Sulit, sebab hingga kini dia belum menemukan cara yang tepat untuk menahannya. Dia terpuruk, lagi. Di saat seperti ini, kedatangannya sangat tidak tepat. Daun pintu terbuka lebar. Suara jejak kaki mengisi setiap inci bilik Kusuma, memantul ke sana - ke mari, mendekat hingga jemari lentik menyapa pundaknya. "Bolehkah?" Kanjeng Ratu menengadahkan tangan di samping pipi Kusuma. Dia seakan enggan memberikan sisir itu. Ragu, tapi dia sadar bahwa posisi yang didudukinya bukanlah tempat yang pantas untuk menentang permintaan itu. Tidak lagi. Ketika jemarinya membelai kepala Kusuma, Kanjeng Ratu merasakan kembali keasyikan yang telah lama terlupa. Kelembutan rambut yang menyenangkan tuk dimainkan, juga bagaimana dia dulu menatanya sedemikian rupa hingga gadis itu tersenyum mengaguminya. Kenangan akan masa lalu kembali terngiang. Bagaimana dulu gadis yang dipilihnya mengumbar senyum dan tawa di kerajaan. Bagaimana dia begitu membutuhkan kehadirannya di kala jenuh. Rasa itu masih sama meski waktu telah mengubah gadis kecilnya. "Kusuma, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin kamu percaya, bahwa semua yang kulakukan semata - mata hanya karena aku menyayangimu. Maaf bila caraku tidak berkenan." Kusuma menghela napas dan menahannya untuk beberapa detik, lalu menoleh ke belakang seiring hawa panas yang berembus dari hidung. Dia merengkuh tangan wanita itu, menggenggamnya dengan lembut dan berkata, "Bunda, mohon ampuni hamba yang telah berperilaku di luar batas." "Tidak - tidak, Sayang. Bunda bisa memahaminya." Kanjeng Ratu mengelus kepala, juga jalur basah di pipi Kusuma, "namun, ada sesuatu yang harus kamu tahu." "Bunda, apa pun itu, hamba tidak ingin mengejar kebenarannya." Kusuma telah mengambil keputusan. "Kusuma, ini menyangkut pria itu dan... apa yang terjadi padaku akhir - akhir ini." Kanjeng Ratu menundukkan kepala, lalu mundur perlahan dan memilih jendela sebagai tempat perhentian, "semua berawal dari kesalahanku berabad - abad tahun yang lalu. Ada seorang pria yang bertapa di Pantai Parang Kusumo, Danang Sutawijaya, pemimpin Kerajaan Mataram. Pertapaannya telah mengusik ketenangan laut selatan. Badai menerjang tanpa henti, air laut bergejolak, istanaku hampir hancur dibuatnya." "Lalu, apa yang terjadi, Bunda?" Kusuma mendekat. Dia mulai tertarik akan sosok yang mampu menandingi Penguasa Laut Selatan. "Dia berhasil menembus kerajaan dengan mudah." Wanita penyuka warna hijau itu tersenyum, "dia tampan dan berwibawa, dia memiliki kekuatan yang cukup mengesankan. Hatiku pun jatuh padanya. Aku ingin bersanding dengan Sutawijaya. Kebetulan, saat itu dia ingin membuka wilayah di sekitar pantai. Dia butuh bantuan, aku menawarkan pertolongan. Aku berjanji akan menjaga wilayah kekuasaannya hingga akhir zaman." "Kalian menikah?" "Iya. Begitu juga keturunannya. Aku adalah istri gaib mereka." Kusuma berjingkat. "Maksud, Bunda. Kalian tidak menikah secara lahir?" Kanjeng Ratu beranjak menuju kabinet, mengamati satu per satu koleksi putrinya: miniatur kereta kencana yang terbuat dari perak dan emas, kerang yang menyimpan puluhan butir mutiara berwarna nude pink, dan selendang sutra yang tersusun rapi di gantungan. Wanita itu tertarik pada sutra berwarna hijau dan berlama - lama mengamati motif bunga di ujungnya. "Iya, tapi dia harus melayaniku secara batin. Dan sebagai balasan dari sumpahku, semua pemegang takhta Mataram dan keturunan Sutawijaya harus menjadi suamiku. Jika tidak, maka negeri itu akan kembali terjun dalam kemiskinan dan bencana akan melanda silih berganti." "Bukankah kerajaan itu telah terbagi dua, Keraton Yogyakarta dan Surakarta? Apakah kesepakatan itu masih berlanjut?" Keingintahuan Kusuma semakin menjadi. Dia ingin mengorek semua berkas dari masa lalu yang tak tersentuh olehnya. "Janjiku tak sebatas terpecahnya Kerajaan Mataram, Kusuma. Separuh kesaktianku ada dalam mustika itu. Dialah yang menjadi jaminan sumpahku dan dia pula yang akan memilih siapa suamiku berikutnya." Kusuma bergeming. Bibirnya bergetar. Hati kecilnya ingin membantah, menentang, dan mematahkan ucapan Kanjeng Ratu. Namun, dia tak punya cukup keberanian untuk melakukan itu. Ada sekumpulan manusia yang akan hancur oleh kependekan pikirnya. "Tidak mungkin!" Kanjeng Ratu mengambil sutra hijau, lalu kembali mendekati gadis yang fokus memandangnya. "Aku telah mengunjungi keraton. Aku bisa merasakannya, Kusuma. Aura pemilik mustika itu ada di Alas Purwo. Aku bahkan mencium jejaknya di istanamu." Dia mengalungkan selendang ke leher Kusuma dan berkata, "lepaskan dia, putriku! Sebab kelahirannya telah digariskan untuk menjadi suamiku." Kalimat itu bagai sianida yang menyelinap ke tenggorokannya. d**a Kusuma memanas. Mungkin zat itu telah menimbulkan korosif parah di sana. Dan ini terasa janggal. Sudah hal biasa jika bundanya melakukan perkawinan dengan manusia. Dia bahkan tidak lagi peduli akan hal itu. Akan tetapi, apa yang dia rasakan kini tak bisa dimengerti. Kenapa begitu sakit? "Kusuma." "I-iya, Bunda. Tapi, bagaimana jika dia menolak?" Putri Padjajaran itu tersenyum. Setelah apa yang dia lakukan kepada ibu dari calon suaminya, penolakan tidak akan pernah terjadi. "Aku akan menjemputnya," ucap Kanjeng Ratu sebelum mengurai. Kusuma meraba organ yang berdetak di balik tulang rusuk. Dia menekur, sudut matanya mengerut, seakan - akan dia ingin berkenalan dengan rasa itu. Kemudian, gelengan kepala terjadi. Dia mengurungkan niat dan tak ingin bersinggungan dengannya lagi. *** to be continue .... *** NB : Ini hanya kisah fiktif belaka. Tidak ada kaitannya dg sejarah maupun mitos yang ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN