Duduk di batu besar, Kusuma berusaha berkawan dengan alam. Dia lempar pandang ke hamparan padang sabana, menyaksikan Rusa yang saling kejar, banteng yang sedang menikmati santap paginya, juga merak jantan yang memperlihatkan pesonanya--dikembangkannya bulu - bulu ekor nan cantik itu. Mereka indah jika hati tak berkabut duka.
Untuk pertama kali, dia harus ingkar janji demi titah bundanya. Apa yang akan dikatakan lelaki itu nanti? Haruskah dia akan benar - benar melepas Putra?
Sementara itu, gagak hitam bertengger di dahan pohon pinus. Dia mengamati gadis murung itu. Setelah tersebar kabar akan adanya pesta, Nawala penasaran akan sikapnya. Gadis yang selalu memburu keramaian, kini menjahit mulut dan memilih tempat yang sunyi.
"Nawala, berhentilah mengawasiku seperti itu! Kemarilah!" titah Kusuma.
Burung pemakan bangkai itu turun dan mewujud menjadi pria rupawan, seraya berjalan ke arah Kusuma. "Salam Yang Mulia," ucapnya tunduk.
"Bisakah kita melupakan tata krama hari ini?" Kusuma menepuk - nepuk ruang kosong di kanannya, "duduklah dan ceritakan lelucon untukku!"
"Tapi Putri ...." Nawala dibuat terkejut dengan perintah itu. Selama ini, tak pernah sekali pun dia berani mendekat apalagi duduk berdampingan dengan junjungannya. Nawala terdiam. Tak selangkah pun dia ambil untuk berada lebih dekat dengan Kusuma. Jarak yang selalu tercipta di antara mereka tidak boleh dilanggar.
Gadis itu menoleh ke belakang. Dia bersungut. "Kamu bukan anak kecil yang harus diseret, bukan?" Kusuma mendesah, lalu menyokong punggungnya dengan kedua lengan di belakang. "Hilangkan rasa canggungmu! Temani aku malam ini. Layaknya seorang kawan lama yang duduk di satu meja, mengobrol bersama secangkir kopi dan sepiring gorengan."
"Kebiasaan manusia lagi?" Nawala menyamakan posisi dengan Kusuma. Dia duduk di samping gadis itu, dengan tungkai menggantung di tepi tebing. "Kenapa Anda lebih tertarik dengan kehidupan manusia? Bukankah dunia kita lebih mengasyikkan. Kita punya kekuatan yang tidak dimiliki oleh mereka. Bisa pergi ke mana pun tanpa memikirkan kemacetan lalu lintas ataupun kehabisan bahan bakar di tengah jalan. Kita tidak perlu membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari - hari."
"Itulah sebabnya dunia ini sedikit membosankan. Tidak ada sesuatu yang harus kita perjuangkan."
Nawala terdiam. Perkataan sang puteri kerajaan ada benarnya. Keseharian mereka tak lebih dari mengamati dan menjaga gerbang istana. Tak ada tantangan yang berarti.
Jeda panjang di antara mereka. Embusan angin kian jelas terdengar. Kicauan burung pun demikian.
"Putri tidak menghadiri pesta?" Nawala kembali membuka obrolan. Pertanyaan itulah yang sedari tadi ingin dia ajukan.
"Bukannya aku tidak ingin hadir. Aku hanya ... aku sedang mencari alasan yang tepat." Kusuma menundukkan kepala.
"Alasan? Apa untuk mengingkari janji kebebasan kepada manusia itu?" Nawala meneliti mimik wajah gadis di sampingnya. Kusuma tampak bimbang. "Adakah sesuatu yang tidak hamba ketahui, Putri?"
"Bunda menginginkannya. Cepat atau lambat, dia akan menjadi ayah tiriku. Pesta itu diadakan untuk menyambutnya." Kusuma memeluk lutut, lalu mengembuskan napas dan berdecap, "kenapa ada garis takdir seperti ini? Dia pria yang jujur. Yeah, walau sifat tidak patuhnya sedikit menyebalkan, tapi aku merasa ini tidak adil baginya."
Nawala mengernyit. "Kanjeng Ratu Kidul adalah sosok yang bijaksana. Mungkinkah beliau berperilaku demikian? Saya rasa, Kanjeng Ratu Kidul hanya mengikuti aturan yang tercipta sejak dulu kala, Tuan Putri."
"Terkadang, sosok yang bijak pun bisa egois," sahut Kusuma santai sembari menerawang jauh ke depan.
"Apa dia menerimanya?" Nawala bersila.
"Entahlah. Namun, dari senyum Bunda aku bisa membaca, bahwa lelaki itu akan menyetujuinya. Bunda memiliki pesona yang luar biasa mengagumkan. Adakah lelaki yang bisa menolaknya?" Berucap memang mudah, tetapi kejujuran hati tak pernah ingkar. Dia sangat berharap Putra menolaknya, meski kemungkinan hanya berkisar sepuluh persen.
Senyum gadis itu manis dan menyenangkan bila tak berselimut kepalsuan. Garis bibirnya tak sejalan dengan mata dan hati. Ada beban yang mengganjal dan butuh pelepasan. Kusuma bukanlah seseorang yang mahir dalam hal kebohongan. Dia terlalu bodoh hingga Nawala bisa menangkapnya dengan mudah.
"Alasan hanya berguna jika kita ingin lari dari sesuatu."
Kusuma menatap Nawala, matanya menyipit sejenak sebelum senyum indah merekah. "Baiklah. Aku akan menghadapinya." Dia berdiri. Sambil menyodorkan tangan, dia berkata, "aku butuh pasangan di pesta."
***
"Kamu menyukai pestanya?" tanya Ratu Kidul. Suaranya terdengar begitu tenang.
Namun, Putra tak tertarik untuk mendengar ucapan wanita di sampingnya itu. Mata Putra liar menelusur setiap jengkal aula. Dia juga tak luput meneliti satu per satu wanita yang melintasi pintu. Namun, gadis itu belum jua menampakkan batang hidungnya.
Sementara, segerombol amarah telah membentuk koalisi dalam d**a. Mereka meneriakkan baris tuntutan sambil menggenggam tombak janji. Telah terpatri sumpah, bahwa demonstrasi tak akan usai sebelum terjalin kesepakatan pasti.
Pemilik singgasana tersenyum manis. "Tak kusangka, parasmu mirip dengannya. Kebetulan yang menyenangkan."
Putra membalas senyum Kanjeng Ratu. Setelah memetik sebiji anggur dan memakannya, dia berkata, "Kamu salah. Aku lebih tampan darinya."
"Eeem, mungkin benar. Rupa klasik bergaya modern, itulah kamu."
Keduanya tertawa dan tampak bahagia. Pemandangan menyesakkan bagi gadis yang baru saja bergabung ke pesta. Kusuma kecewa sebab pria yang dianggap berbeda, nyatanya sama. Jubah kerajaan telah menghapus kesan kesederhanaan lelaki itu.
Dia melingkarkan tangan di lengan Nawala, lalu membelokkan langkah. Mereka menerobos kumpulan tamu yang sedang menikmati gerak lemah gemulai para penari di tengah aula.
Di tengah langgam Jawa, ada irama lain dalam diri Kusuma. Nada syukur atas teringkarnya janji. Dia mungkin akan menghapus memori tentang momen itu.
Kehadiran Kusuma menjadi pusat perhatian beberapa orang. Kanjeng Ratu tampak mengabaikan sikap Kusuma. Lain halnya dengan Putra, dia ingin menghampiri dan berbincang empat mata dengan gadis itu. Dia pun mempertanyakan status lelaki yang bersamanya. Sementara, Sekar dan Lastri menatap mereka dengan curiga. Keakraban yang tak pernah terlihat itu pun menjadi pemandangan apik bagi Safitri, tapi tidak bagi Narendra. Tangan senapati baru itu mengepal di balik lipatan lengan.
"Putri, ini ... sedikit tidak nyaman," protes Nawala.
"Anggaplah ini sebuah karunia untukmu dan nikmatilah!" jawab Kusuma sembari menyahut segelas minuman dari nampan pelayan.
Mereka berhenti di samping guci setinggi satu meter bermotif naga. Beberapa tangkai bunga sedap malam mengisi benda itu. Terlihat, tak hanya satu, tapi cukup banyak hingga aromanya sempurna mengisi ruang lapang. Mereka menghiasi tepian aula dan beberapa bersanding panggung singgasana. Warna putih, melambangkan kesucian atau kematian. Entah mana yang digunakan Kanjeng Ratu untuk memaknai pesta.
"Bunda berpindah selera. Aku pikir dia menyukai Oriental Lily untuk sebuah pesta besar," ucap Kusuma.
"Bunga ini hanya dipakai ketika Kanjeng Ratu akan melakukan pernikahan dengan Raja Mataram berikutnya." Nawala mulai menyadari sesuatu. Dia membanting pandangan pada Kusuma.
"Apa hanya aku yang tidak mengetahui perjanjian itu?" tanya Kusuma sambil tersenyum tipis.
Nawala membawa gadis itu ke balkon. "Maaf, Putri. Hamba pikir perjanjian itu telah berakhir sebab yang terpilih tidak memiliki keturunan laki - laki." Nawala berusaha meyakinkan Kusuma. Sinar matanya menandakan keseriusan.
"Jika benar begitu, bagaimana bisa pria yang duduk di sana memakai jubah kerajaan dan mahkota permata, Nawala? Mustika yang melingkar di lehernya pun menggariskan takdir itu. Dia, lah, yang terpilih. Dia yang akan menjadi pengganti keturunan Panembahan Senapati saat ini," bantah Kusuma dengan nada lembut.
"Tidak mungkin, Yang Mulia. Pernikahan itu hanya akan dilakukan dengan calon raja berikutnya. Dia hanya pria dari keluarga biasa."
Mata Kusuma membeliak. "Kamu menemukan keluarganya?"
Nawala mengangguk. "Iya. Dia tinggal tak jauh dari Pantai Parangkursi. Dia tinggal bersama ibunya, Lasmini."
"Ibu yang malang. Dia pasti menanti putranya."
Gumaman Kusuma dibantah gelengan kepala Nawala. "Bukan itu yang hamba saksikan. Dia tampak santai, seolah tak terjadi apa - apa."
Kening Kusuma mengerut. Ada teka - teki yang tersaji di hadapannya dan itu menarik untuk dipecahkan. Ya, jika saja pria itu tak mengumbar senyum kepada bundanya, mungkin permainan ini akan segera dia lajukan.
"Mau menemani aku menari? Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk pesta penyambutan ini," ucap Kusuma sebelum beranjak kembali menuju aula.
Nawala tak habis pikir dengan sikap Kusuma yang mulai rumit untuk dimengerti. Seperti sapi yang dicocok hidungnya, dia menurut tanpa peduli risiko dari kepatuhan itu. Menari bersama putri kerajaan laut selatan, meski hanya sebagai hadiah kecil sebelum kata sambutan, tetap saja bernilai lain di mata beberapa orang.
"Ibunda, izinkan hamba ikut meramaikan pesta ini," ucap Kusuma tanpa ragu.
"Aku menunggu tarian terindahmu putriku."
Gamelan Jawa kembali dimainkan. Gong, kenong, dan rekan - rekannya memiliki suara yang berbeda. Namun, perbedaan itulah yang menyatukan mereka menjadi irama indah. Semua tak luput dari kemahiran dan kekompakan para pemusik. Mereka mengikuti pakem yang ada meski peranti modern ikut andil di dalamnya.
Tangan Kusuma merentang, kepalanya menengadah sembari merapal mantra. Selang beberapa saat, sinar biru keluar dari telapak tangannya, memanjang lalu berputar membentuk spiral. Kemudian, cahaya itu pudar dan menampakkan besi tipis berukir naga emas di pangkal.
Narendra terkejut. Sepasang alisnya seakan - akan ingin berjabat tangan ketika mata lelaki itu memicing. "Pedang naga emas," gumamnya.
***
to be continue ....
***
NB : Ini hanya kisah fiktif belaka. Tidak ada kaitannya dg sejarah maupun mitos yang ada.