“Vita, kamu baik-baik aja ‘kan?” bisik Rangga pelan, suaranya tenggelam dalam gaung musik orkestra yang mengisi ruangan megah itu. Jemari Vita mengepal, dingin karena gugup, namun ia hanya mengangguk pelan. “Iya, aku baik-baik aja,” jawabnya, meski dalam hatinya tidak sesederhana itu. Palais Garnier sore itu berkilau dalam cahaya lampu kristal. Langit-langitnya penuh fresko emas dan merah, patung-patung marmer berdiri gagah di sisi-sisi ruangan, dan ribuan bunga mawar putih serta anggrek disusun dengan presisi di sepanjang panggung tempat acara tukar cincin berlangsung. Suara tepuk tangan pecah, riuh sekali, ketika cincin keluarga Montegard melingkar anggun di jari Layla. Musik waltz menggema, pelayan berbalut jas hitam melintas membawa tray champagne, dan para tamu kaya raya asal Pranci

