“Tapi kamu janji jangan bilang sama siapa-siapa ya, soalnya aku udah janji sama Vita,” bisik Kaluna lirih malam itu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Dhika, menjadikan tubuh lelaki itu bantal hangat. Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya kuning keemasan yang jatuh lembut di permukaan sprei bersih. Aroma mawar segar dari vas di meja nakas menyelusup pelan, berpadu dengan wangi tubuh Dhika yang masih menempel di udara. Dhika terkekeh kecil, suara baritonnya bergema pelan, hangat sekaligus menggoda. “Kalau kamu sudah janji, jangan dilanggar, Sayangku. Itu artinya rahasia Vita bukan milikmu untuk kamu sebarkan.” Kaluna mendengus manja, menggeliat kecil. “Aku bukan bocorin, aku cuma… berbagi sama kamu. Masa sih aku nggak boleh? Aku kan istrimu…” gumamnya merajuk, lalu membalikkan tubuh

