Kaluna memeluk lengan Dhika, matanya tak bisa lepas dari pemandangan di seberang rak, di mana Vita kini tenggelam dalam obrolan hangat bersama Rangga. Ada sinar berbeda di wajah Vita, sinar yang jarang Kaluna lihat akhir-akhir ini. Antusias, matanya berbinar, seakan lupa dengan semua sakit hati yang semalam begitu berat diceritakannya. Kaluna merasakan jantungnya berdetak kencang, bukan hanya lega tapi juga girang. Akhirnya… Vita terlihat punya dunia lain selain Marcel. Kaluna menoleh sekilas ke arah suaminya. Dhika, dengan ekspresi tenang namun menyimpan senyum penuh arti, berbisik pelan di telinganya. “Sayang, kalau rencana ini berhasil… aku minta imbalan, ya. Kamu inget kan?” Kaluna mengerjap, setengah sadar pada bisikan nakal itu. “Jangan ngomongin itu dulu kenapa sih.” “Staycation

