Kenapa untuk bahagi aja. Pengacaunya selalu lebih banyak dari pada penenangnya
___
Raja tau Mentari sedang mengontrol detak jantungnya saat ini. Apalagi tangan gadis itu yang tak mau lagi berpegangan pada pinggang Raja
Mentari turun dari boncengan sepeda, gadis itu membuka gerbang rumahnya yang bercat hitam dengan berjalan terseok-seok
"Masuk dulu, lo pasti capek" Mentari mengambil alih sepedanya sementara Raja berjalan mengikuti Mentari dari belakang. Tak ada pilihan lain, Raja memang lelah sekali rasanya, lagi pula selagi ia menunggu Ipong menjemputnya lebih baik Raja mencoba mengenal keluarga Mentari
"Assalamualaikum, Mentari pulang!" Mentari membuka pintu rumahnya setelah mengucap salam
Terkejut bukan main, saat Mentari mendapati Bundanya dan Farah tengah mengintip dibalik gorden, keduanya langsung berdiri tegak dengan terkejut, Mentari menatap kesal pada Bundanya dan Farah
"Bundaaa! Kak apaan sih kalian. Ngintip mulu kerjaannya. Bintitan baru tahu rasa "
Bundanya Mentari- Jihan dan Farah hanya cengengesan, malu karena ketahuan mengintip, apa salahnya coba. Mereka hanya ingin mengetahui cowok yang pulang bersama Mentari
Sementara Raja, hanya tersenyum sopan pada Jihan dan Farah"sore tante"
"Pacaranya Tari ya? Ihhh adek gue pinter banget cari cowok?" Farah nampak terpesona dengan wajah Raja, malah mungkin Farah tak sadar kalau ia sudah maju berdiri didepan Raja, membuat Mentari meringis merasa malu pada Raja atas tingkah i***t kakaknya itu
"Anak Bunda. Polos-polos pacarnya mirip artis ihh" Jihan nampak bertingkah lebih parah dari Farah. Ia malah memutari Raja sambil berdecak kagum
"Astagfirullah Bunda! Inget papa, mau jatah nyalonnya dikurangin gara-gara keganjenan" ucap Mentari kesal
"Kakak juga. Inget pacarnya tuh si Angga. Mau diputisin lagi gara-gara kakak suka jelalatan"
Jihan dan Farah nampak melotot kearah Mentari, Mentari langsung kicep dibuatnya , aneh tapi nyata. Kadang orang yang harusnya marah malah dimarahin sama yang salah
Jihan menarik Raja duduk di sofa ruang tamu, tanpa melepas pandangannya dari wajah Raja
"Nama kamu siapa?" tanya Jihan dengan antusias setelah duduk disofa dengan jarak yang nemplok banget sama Raja, apalagi Farah malah ikut-ikutan duduk disamping Raja, hingga jadilah Raja yang duduk di tengah keduanya
"Rajata Arsen tante" balas Raja sopan, ia sempat heran juga dengan keluarga Mentari yang langsung menerimanya dengan antusias
"Wahhh, lo anaknya penulis novel favorit gue dong?" tanya Farah antusias
"Mariana Renata! Bunda. Sumpah please gue boleh nitip tanda tangan mama lo gak. Please!" Farah merengek tanpa tahu malu
Mentari menepuk jidatnya tak kuasa melihat tingkah ajaib Bundanya dan kakaknya, Mentari berjalan menuju dapur sepertinya tak ada yang ingat kalau tamu itu harus dilayani. Dikasih minum dan cemilan. Bukannya di interogasi
Mentari membuat jus jeruk untuk Raja setelah meletakkan tasnya diatas meja makan
"Kamu pacarnya Mentari?beneran?" tanya Jihan dengan heboh
"Iya tante, saya pacarnya Mentari"
Farah menepuk tanganya kuat"syukur kan si Miko. Rasain tuh anak. Mentari diembat kan akhirnya"
"Kak ngapain bawa-bawa Miko sih. Kita kan cuma temen dari orok doang" balas Mentari sebal, Mentari meletakkan segelas jus jeruk segar untuk Raja
"Udah jangan diajak ngomong terus. Minum dulu"
Raja tersenyum kearah Mentari, jujur sebelumnya Raja merasa akan canggung grogi atau semacamnya saat bertemu dengan keluarga Mentari, tapi nyatanya malah mereka sangat welcome pada Raja. Belum ketemu ayahnya sih. Tapi setidaknya Raja mengenal keluarga Mentari
Ponsel Raja berdering nyaring tanda pesan masuk
From Ipong
Ipong yang ucul, dah diluar rumah pacar lo. Keluar!!
Raja mengantongi kembali ponselnya"saya permisi ya tante, kak. Mau pulang dulu"
"Yaaah kok cepat banget. Nginep aja"
"Bundaa!" tegur Mentari pada Bundanya itu. Bagaimana bisa Bundanya itu jadi kegatelan, pakai disuruh menginap. Wahh parah memang. Kalau Miko saja tidak pernah di suruh menginap nah Raja, yang baru ketemu semenit langsung disuruh menginap
Jihan berdecak kearah Mentari"yaudah ya nak Raja. Hati-hati pulangnya. Jangan sampai lecet loh"
Raja hanya mengangguk sambil tersenyum, ia menyalami Jihan lalu tersenyum ramah pada Farah. Asli, kalau semua sikap cowok kayak Raja yang baru dua hari pacaran kemudian mengharuskan mengenal keluarga sang pacar, mungkin semua cewek akan merasa dihargai
Mentari berjalan disamping Raja berniat mengantar Raja sekedar sampai gerbang"maaf ya. Bunda sama kak Farah. Bikin lo risih"
Raja menatap Mentari yang berjalan disampingnya"gapapa, gue seneng keluarga lo nerima gue. Boleh kapan-kapan gue main ke rumah lo lagi?"
Mentari langsung mengangguk antusias"boleh! Jangan kapok. Nanti gue masakin makanan spesial buat lo"ujar Mentari antusias
Raja tersenyum, keduanya sudah berdiri di gerbang rumah Mentari dan menemukan Ipong yang berdiri disana dengan motor merah Raja
"Tunggu bentar Pong!" teriak Raja, sementara Ipong hanya tersenyum mengangkat dua jempolnya
"Malam minggu. Boleh gue datang ke rumah lo?"
"Boleh ,gue tunggu" Mentari tersenyum senang. Raja benar-benar pacar idaman. Sudah sopan, baik, mementingkan perkenalan dengan keluarga Mentari, malam minggunya di rumah Mentari lagi
Senyum terukir diwajah Raja, pria itu berjalan menjauh dari Mentari namun baru dua langkah Raja kembali berbalik menatap Mentari yang masih berdiri digerbang
" Gue suka cewek yang bisa masak" setelah berkata seperti itu Raja berbalik kemudian menaiki motornya dengan Ipong yang berada didepan
"Bye ibu negara" Ipong melambaikan tangannya pada Mentari, setelah itu keduanya pergi dari pandangan Mentari
Sumpah, Raja itu dapat dua penghargaan hari ini, pacarable dan menantuable. Mentari gak nyangka kalau masih ada cowok kayak Raja. Benar-benar beruntung rasanya Mentari
"Aaaa beruntungnya gue!!" Mentari meloncat senang
"Huahh Bunda, Farah rasa Mentari udah gila" Farah menggelengkan kepalanya, Jihan dan Farah tengah berdiri di teras menatap Menari yang meloncat kegirangan
"Jangan kasih tau ayah kalau Mentari punya pacar. Nanti Mentari disuruh putus"Jihan mewanti-wanti untuk Farah, karena putrinya itu punya mulut yang sangat ember
"iya Bunda. Farah juga senang kalau Tari punya pacar yang kayak Raja. Sopan yah Bun?"
"Hmm, dia sopan banget"
___
Asap rokok mulai keluar dari mulut pria tampan itu, sesekali ia melirik ponselnya yang terus berdering, nama Mentari tertera disana
Pria itu berdecak sebal setelahnya membuang puntung rokoknya ke tanah
"Angkat napa sih Mik, berisik ponsel lo" pria berkasos oblong dengan celana sobek-sobek itu berdecak
"Iye, ni juga Miko ganteng angkat"
"Si t*i. Ganteng dibawa" ketus Galih
Miko keluar dari dalam mobilnya
"Mikoo!!" teriak gadis diseberang sana
Miko mengusap kupingnya yang langsung terasa panas"nih bocah, kelakuan gak berubah. Teriak mulu kerjaaanya"
"Apaan sih lo boncel" ketus Miko
Mentari berdecak disebrang sana"tinggi gue tuh 160, masih lo katain boncel. Lo pasti cari pacar yang tingginya 500 cm lo ya?"
"Cewek gue kan lo sayang" Miko terkekeh pelan
"Sayang sayang. Gue udah soult out. Lo kemana aja sih, udah tiga hari gak ada kabar. Mama lo khawatir tau. Ga kasian apa?"
"Lo juga ga pernah ketemu gue lagi. Mik, lo tega ya sama gue, gue kan butuh temen curhat, kak Farah tuh gak bisa diajak curhat. Ujung-ujungnya malah dia yang curhat nantinya. Ayolah Mik balik ya. Udahan marahannya sama mama lo, lo ga tau apa gue tuh kha-"
"Budeg budeg. Ngocehhhh mulu kerjaan lo. Bosen gue dengernya. Besok gue pulang kok sayang. Janji deh" balas Miko merayu
Mentari menepuk jidatnya, Miko tetaplah Miko, selalu saja memanggil Mentari sayang, baby, honey seperti orang pacaran. Mungkin beberapa hari lalu Mentari tak masalah, tapi beda sekarang. Karena Mentari sudah punya Raja
"Pulang loh ya. Janji. Gue mau berbagi kabar bahagia" panggilan itu diakhiri sepihak membuat Miko menatap tak percaya pada layar ponselnya, hanya Mentari yang berani melakukan hal itu pada Miko
"Mik!, balapan bentar lagi mulai. Cabut yuk" ucap Galih dari dalam mobil
"Ya bentar" balas Miko acuh
"Tar Tar, gue tau apa yang mau lo curhatin. Lo udah jadian sama si b*****t kan. Nyesel lo jadian sama dia Tar" Miko mengetatkan rahangnya kuat menahan gejolak emosi yang mulai menguasainya
Tbc