3

1233 Kata
Kalau memang mengenalmu adalah salah, mungkinkah aku harus pura-pura lupa, dan menganggap semua hanya mimpi yang terlalu indah Semalam Raja benar-benar menelpon Mentari, meskipun dalam waktu sangat singkat tak lebih dari tiga menit, sungguh sampai sekarang rasanya Mentari itu sedang bermimpi. Bagaimana bisa cintanya bersambut dengan sangat indah, aplagi Raja sampai rela mengirimkan memo pada Mentari. Yah meskipun isi memonya itu kaku dan tak lebih dari dua kata. Seperti hai, pagi, siang, udah makan. Itu saja tapi sungguh saat Mentari tau itu semua dari Raja, orang yang disukainya Mentari sangat bahagia. Entah bagaimana Mentari menggambarkannya, karena sekarang hatinya tengah berbunga-bunga. Dengan banyak kupu-kupu berterbangan dihatinya. Mentari berjalan dengan gembira di lorong sekolah, gadis itu terus tersenyum disepanjang lorong. Meskipun Mentari tidak mengerti kenapa Raja mengirimkan memo, rela jadi secret admire nya tapi tak tau maksud pria itu, karena Raja tak mengatakan suka atau nembak Mentari. Tapi yang pasti ini adalah tahap pdkt alis pendekatan yang tak Mentari duga. Naya menatap heran sahabatnya yang baru saja memasuki kelas dengan senyuman idiotnya yang lebih tampak seperti orang gila. Kelas masih cukup sepi karena masih terbilang pagi, karena paling mereka akan bergerombolan masuk jika bel sudah berbunyi. Naya memyenggol lengan Valerie yang duduk disebelahnya"si Mentari ga gila kan Val?" Valerie melirik Mentari dengan sama herannya dengan Naya"masa iya dia beneran ngayal yang ngirim memo, itu si Raja. Kemarin dia nelpon gue. Bilangnya yang ngirim memo selama ini itu Raja"bisik Valerie pada Naya Mentari duduk disebelah bangku Valerie dan Naya, dibaris kedua urutan ke dua, Wandapun menatap Mentari dengan ngeri "Tar, kesembet apaan lo. Senyum lo ngeri tau gak"ujar Wanda yang duduk sebangku dengan Mentari "gue lagi bahagia. Karena cinta gue gak bertepuk sebelah tangan kaya si Naya ke kak Ando" Mendengar kisah cintanya disebut Naya sontak melotot kearah Mentari"eh gue tabok lo ya nyebut-nyebut si Ando. Lagian itu hoax.  Yang nolak Ando gue kali"kesal Naya Mentari tersenyum mengejek"giliran di tolak aja, dikata-katain. Kaya gue dong Raja ngirim memo ke gue, semalem kita juga telponan" Naya menatap Valerie "beneran gila Val"bisik Naya Valerie berdiri lalu duduk di bangku depan meja Mentari dan Wanda"udah ya Tar, nanti gue comblangin lo sama cowok yang lebih ganteng dari Raja. Tapi jangan jadi ngayal gini Tar, kejauhan"nasihat Valerie Mentari menatap Valerie serius"kalian gak percaya kalau memonya Raja yang kirim?"tanya Mentari Ketiga sahabatnya mengangguk kompak"ishh, beneran. Nih gue telopon Rajanya ya"usul Mentari Ketiga sahabatnya diam saat melihat Mentari mengeluarkan ponselnya dan tampak menghubungi seseorang karen ponselnya yang ditempelkan ditelinganya, Mentari berdecak sebal karena panggilannya tak dijawab "gak dijawab"kata Mentari sedih Valerie menatap iba pada sahabatnya itu"udah ya nanti gue kenalin sama Oby, atau sama Gaga, sama Dimas mau?"tanya Valerie antusias "ga mau itu kan mantan lo. Gue ga nerima yang bekas temen sendiri ya"kesal Mentari "tapi Tar, hayalan lo udah kejauhan takutnya lo gila beneran"ucap Wanda "he eh, kan ngeri Tar"lanjut Naya "tau ah, kalian nih. Gue tuh serius tau. Yang ngirim memo itu Raja. Ya Allah"Mentari tampak frustasi karena sahabatnya menganggapnya berimajinasi Bel masuk berbunyi membuat keempat gadis yang masih berbincang itu menghentikan sejenak pembicaraan mereka. Mentari merasa sebal dengan teman-temannya yang sama sekali tak percaya padanya, bahkan mereka menganggap Mentari gila dan berimajinasi. Segitu tidak pantaskah Mentari dengan Raja. Sampai sahabatnya sendiri tidak percaya pada apa yang Mentari ceritakan. ___ Langakah kaki gadis itu pelan, dengan wajah yang murung. Mentari berjalan menyusuri lorong sekolah, gadis itu bahkan mengabaikan ajakan Wanda yang mengajaknya ke kantin Dari kejauhan Mentari tampak melihat Raja yang tengah berbincang dengan seorang adik kelas, yang Mentari tau bernama Jihan, gadis dengan badan langsing, rambut panjang dan feminim. Kelihatan keduanya tengah berbicara dengan serius sampai akhirnya dari kejauhan Mentari melihat Raja tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Jihan. "terlalu banyak cewek yang suka sama Raja. Gue cuma bagian gak berarti yang sekedar mampir dihidup dia"desah Mentari pelan Apa memang benar kata Valerie kalau Mentari hanya berhalusinasi karena terlalu menyukai Raja. Mendadak rasa sakit menyerang ulu hati Mentari terasa nyeri. Memang salah kalau Mentari menyukai Raja, memang salah kalau Mentari berharap, slaah kalau Mentari melihat Raja dari kejauhan sebagai orang yang bahkan tak Raja sadari ada. Kalau memang ini salah, kenapa takdir harus membuat Mentari mengenal Raja, kenapa harus Mentari yang menyukai Raja, bukan Raja yang menyukai Mentari. Semuanya terasa rumit bagi perempuan. Bahkan untuk jatuh cinta duluan pada seorang pria pun sudah salah, tidak salah kalau suka tapi salah kalau jatuhnya. Katanya selalu ada rahasia dibalik takdir. Lalu sebenarnya rahasia apa yang ada untuk pertemuan Raja dan Mentari. Seorang cowok berjalan disamping Mentari dengan langkah senada, namun gadis disebelahnya sama sekali tak sadar Raja berjalan disebelahnya "ngelamun aja"ujar Raja menatap lurus kedepan Mendengar suara yang dikenali Mentari, membuat gadis itu menghentikan langkahnya lalu mendongak menatap Raja yang menatapnya sekarang dengan lurus, keduanya terpaku untuk beberapa saat "lo ngagetin gue"ucap Mentari pelan,lalu kembali berjalan menuju kantin "lo gak kelihatan kaget"balas Raja santai "aaaa gue kaget"seru Mentari lesu, Raja hanya terkekeh melihat tingkah konyol Mentari. Gadis di sampingnya ini begitu polos Mentari menghentikan langkahnya lalu menatap Raja dengan serius, matanya menatap Raja dari atas sampai bawah, lalu Mentari memajukan wajahnya semakin dekat dengan wajah Raja, Raja hanya diam, ia sempat menahan nafasnya karena tindakan tak terduga Mentari Akhirnya Mentari memundurkan wajahnya, lalu berdecak sebal"kalau lo itu imajinasi, tolong pergi. Gue ga berharap untuk harapan palsu"ujar Mentari jengkel Raja menarik sudut bibirnya geli, ia tak mengerti Mentari bermaksud apa, tapi entah kenapa Raja merasa semua yang dilakukan Mentari itu lucu "mau ke kantin bareng?"tanya Raja "ini beneran Raja?"tanya Mentari polos "iya ini Raja. Ayo ke kantin bareng"ulang Raja Mentari mengangguk sebagai jawaban, gadis itu menatap punggung lebar Raja yang berjalan didepannya dengan jarak yang tak terlalu jauh, bahkan sangat dekat Raja gak phpin gue kan- batin Mentari curiga Gak mungkin ah, Raja kan baik-Mentari mengangguk membenarkan ucapan batinya Suasana kantin tampak ramai, bahkan di tengah meja kantin ada Valerie, Wanda dan Naya yang sekarang menatap Mentari dan Raja yang berjalan bersama memasuki kantin, Naya bahkan menganga lebar, tak urung Valerie dan Wandapun menatap kaget kearah Mentari "oh my good! Demi Zayn Malik yang nyelingkuhin gue sama Gigi Hadid. Ini nyata kan Nay, Wan?"desis Valerie kearah kedua teman-temannya itu "ini serius Val, Nay mata kita gak mungkin salah lihat"pekik Wanda "gila si Mentari dia bukan anak yang soleh banget tapi dapetnya---"Naya berdecak kagum "ini malaikat salah nyeleksi anak soleh ini"ujar Valerie ngawur Banyak orang yang responnya pun sama heran dan kagetnya saat melihat Rajata Arsen, cowok yang memang diketahui banyak didekati cewek karena kesempurnaan sikap, otak bahkan wajahnya, namun Raja sama sekali tak pernah terlihat santai dan sedikit berbeda karena tak mungkin Raja mengajak cewek untuk makan satu meja dengannya, karena bagi Raja semua senyumannya pada semua orang hanya berupa keramah tamahan belaka. Tapi entah kesamber geledek, atau Raja ketemu nenek gayung atau apa, hari ini Raja mengajak seorang gadis untuk makan satu meja dengannya. Itu agak aneh. Banyak yang mempertanyakan siapa sosok wanita yang bersama Raja saat ini, karena mereka sama sekali tak mengenal terlalu baik gadis itu. Tapi tidak dengan teman-teman sekelas Mentari yang berdecak kagum pada Mentari karena gadis itu bisa bersama duduk disatu meja yang sama dengan Raja. Raja menyantap semangkuk bakso dihadapannya dengan santai, namun Mentari menatap sahabatnya yang duduk dengan jarak terhalang satu meja di tempat Mentari dan Raja duduk Mentari menatap ketiga sahabatnya mengejek, dan tanpa sepengethuan Raja Mentari menjulurkan lidahnya mengejek ketiga sahabatnya yang masih tampak shock melihat Raja dan Mentari. Tbc···
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN