Aku adalah orang yang selalu berada dibelakang. Yang gak kamu sadari ada kalau kamu gak sengaja nengok kebelakang ☔
___
Suara ribut dari arah kantin tampak terdengar jelas, dikarenakan mulai banyak anak kelas sepuluh dan kelas duabelas yang mulai nimbrung meminta jatah makan.
Ketiga cewek yang masih shock itu menatap Mentari yang masih duduk dengan Raja di pojok kantin. Hanya mereka berdua di satu meja. Dan itu benar-benar mengundang mata semua orang untuk menatap kearah mereka. Bukan apa-apa. Ini benar-benar peristiwa langka. Rajata Arsen anak dari Damian dan Renata. Yang semua orang tau sejak kelas sepuluh, bahkan menginjank kelas sebelas. Pria itu tak pernah pacaran sama sekali, kalau masalah banyak yang mendekati mungkin biasa.
Tapi nyatanya Raja tak merespon mereka sesuai niat mereka yang hanya mendekati Raja. Kecuali kalau orang yang mendekatinya ada perlu dengan Raja. Masalah sekolah, olimpiade atau basket. Baru akan Raja ladeni. Tapi. Cowok itu terkenal kaku kalau dari awal ia tau ada yang mendekatinya untuk mengenal Raja lebih. Terlebih untuk pacaran. Maka Raja akan tegas menjauh.
Sebaik-baik dan seramah-ramahnya Raja, itu tak lebih dari kesopanan. Cowok itu kaku kalau mebahas yang lain. Dan dia misterius.
"Mmm Raja" gugup, jantung Mentari terasa mental kemana-mana bahkan saat menyebut nama Raja. Begitu besar efek Raja bagi Mentari. Hingga mungkin ia tak memperdulikan hal lain selain bahagia yang tiba-tiba menyergapnya dengan tiba-tiba. Tak terduga, begitu manis. Dan teramat membahagiakan
Kembali rasanya mentari lupa caranya bernafas, saat mata tajam Raja menatapnya"ya"
Oh my god suaranya sexy abis bun- Mentari menjerit dalam hati
"Itu...mmm kenapa lo ngirim memonya ke gue?" cicit Mentari. Suaranya seperti tikus yang terjepit perangkap, dan Mentari mengutuk suaranya yang tiba-tiba berubah seperti itu, ia ingin terlihat sempurna dihadapan Raja
"Gue suka"
Alis Mentari terangkat bingung"suka apa?"
Raja meluruskan pandangannya pada Mentari. Hingga dag dig dug attack kembali menyerang Mentari, baru di tatap saja sudah gugup luarbiasa, apalagi nanti Raja menembak Mentari, bisa keluar dari tempatnya jantung Mentari
"Lo"
Singkat,ambigu. Namun Mentari mengerti maksudnya. Pipi Mentari memunculkan semburat merah begitu saja, dan reaksi Mentari tak luput dari perhatian Raja. Mimpi?apa Mentari sedang bermimpi, kalau iya tolong jangan bangunkan Mentari. Ini terlalu indah untuk dilewatkan. Bahkan lebih indah waktu Mentari bermimpi menikah dengan Ji Chang Wook empat hari lalu
"Hah?" hanya itu yang bisa Mentari ucapkan
"Ayo pacaran" wajah Raja masih datar saja, namun Mentari malah makin berdebar saat wajah Raja yang cool mengucapkan kata singkat namun berimbas luar biasa bagi iman dan jantung Mentari
"Pac..pacaran?"
Raja mengangguk"mulai sekarang lo pacar gue. Lo mau kan jadi pacar gue?"
Diklaim, apa Mentari sedang diklaim oleh Raja, kalau iya Mentari akan berkata klaim gue semau lo
"Gue juga suka sama lo" balas Mentari pelan. Wajahnya benar-benar merah padam
Mentari masih diam bersamaan debaran jantungnya yang benar-benar menggila"gue benaran pacar lo?"tanyanya dengan bodoh
"Iya"balas Raja tersenyum. Sungguh lucu gadis dihadapannya ini
Ini aneh tapi nyata, seumur-umur Mentari tidak menyangka kalau Raja akan membalas perasaannya. Meskipun sangat tidak romantis karena Mentari sadar Raja menembaknya dikantin, ditengah kerumunan orang yang mungkin diam-diam menguping atau menatap Mentari. Tapi saat ini hanya bahagia yang Mentari rasakan. Dan Mentari tak butuh hal lain
Ini lebih dari cukup membahagiakan Mentari, meskipun ia tak tau sejak kapan Raja memperhatikannya, bahkan kenapa pria itu menyukainya. Itu masih misteri. Dan Mentari tak ambil pusing dengan hal itu
"Pulang sekolah bareng gue"
Mentari masih membisu. Sumpah demi apapun. Ini lebih terasa seperti mimpi yang terlalu indah. Sampai Raja menaikkan sebelah alisnya kebingungan atas reaksi Mentari yang hanya diam, menatap Raja dengan mata bulatnya dan bibirnya yang sedikit terbuka
"Yah. Nanti, gue pulang bareng lo" seru Mentari cepat, seolah sadar dari lamunannya karena melihat raut wajah Raja yang kebingungan menatapnya, suara Mentari pelan, mata gadis itu tak fokus. Seperti masih terjebak.dalam lamunannya sendiri
"Udah bel, mau gue anter ke kelas?"tawar Raja dengan ramah
"Boleh" Mentari masih tampak idiot
Ini bukan April Mop, gue yakin- batin Mentari tampak meyakinkan diri
Raja berdiri dengan tegap, menatap Mentari seolah mengatakan dengan matanya'ayo'.
Dengan gugup Mentari berdiri disamping Raja. Dengan jarak yang sangat dekat. Maka, kali ini Mentari tak perlu berdiri jauh dibelakang Raja, menatap Raja dari kejauhan. Karena nyatanya ternyata menatap Raja dari dekat jauh berlipat-lipat lebih indah.
Keduanya berjalan sejajar keluar dari kantin, banyak pasang mata yang menatap penasaran keduanya. Tapi, Mentari tak memperdulikan apapun
Matanya yang bulat menatap Raja dari samping, untuk pertama kalinya ia sadar, kalau tubuh Raja sangat tinggi, bahkan Mentari harus sedikit mendongak untuk menatap Raja
Wangi parfum Raja benar-benar membius indra penciuman Mentari, begitu membekas, siap untuk Mentari ingat
Langkah keduanya berhenti, Mentari melirik kesamping, dimana kelasnya ternyata disana. Sejak kapan kelasnya pindah? Mentari rasa kelasnya agak jauh, tapi kenapa sekarang rasanya sangat dekat. Apa ada yang memindahkannya?
"Nanti gue tunggu di parkiran"
Mentari tersenyum, lalu Raja berjalan mulai menjauh darinya. Menuju kelasnya yang terletak hanya berjeraal tiga kelas dari kelas Mentari sendiri
Spontan. Mentari memegang dadanya yang masih berdegup hebat, bibirnya terkatut menahan senyum. Gadis itu menghela nafasnya kuat
"Ya Allah. Makasih ya Allah"
"Astaga gue ga percaya ini!"Mentari menggelengkan kepalanya
Suara grasak grusuk yang berasal dari kelas Mentari membuyarkan kebahagiaan gadis itu
"Tar, lo ngapain sama Raja?"
"Lo pakai susuk ya Tar?"
"Tar, lo kenal Raja sejak kapan. Lo sepupunya ya. Tari jahara lo ihh. Ga cerita"
Gila, siapa yang menuduh Mentari pakai susuk segala. Itu mulut perlu di kasih boraks kayaknya. Mentari menatap sebal teman-temannya yang mulai mengerubunginya
Braakkk!
Pintu kelas dibuka dengan kasar, menampilkan Valerie, Wanda dan Naya yang tampak bernafas dengan kesusahan. Seperti ikan mas yang mangap-mangap didaratan
"MENTARI!" teriak Valerie heboh
"Itu tadi beneran lo sama Raja. Bukan makhluk jadi-jadian yang lo sewa" ujar Naya polos
Mentari melotot kearah Naya"gila aja lo. Gue anak soleh. Ga main begituan"ketus Mentari
"Oke-oke. Sekarang ceritain ke kita semua. Kita penasaran" Wanda menarik Mentari untuk duduk di bangkunya, kemudian dalam sekejap meja Mentari sudah dikerubungi orang-orang kepo akut. Meja Mentari seperti sedang dikerubungi semut, semua mata terfokus pada Mentari
"Kalian ga akan percaya ini" ujar Mentari sok misterius
"Apaan. Ga usah bertele-tele. Gue udah penasaran setengah mati nih" Dania berdecak tak sabaran
"Gue sama Raja...." Mentari dengan jahil menggantung ucapannya membuat teman-temannya menggeram sebal
"Pacaran"histeris Mentari
"WHAT!!" teriak mereka kompak. Membuat telinga Mentari berdengung hebat, dan dalam sekejap kelas kembali heboh karena teriakan tak terima atas kabar yang baru mereka dengar, apalagi para cowok yang mulai mengutuk mulut cewek yang mengalahkan volume speker masjid
"Ga percaya, ihhh jangan bohong dong. Masa Raja mau soult out juga. Gue udah cukup tersiksa sama Song Jong Ki yang lebih memilih Hye Kyo tau" Intan tampak mendramatisir
"Yaelahhh, lo para cabe ributin apaan sih. Rame banget hidup lo jadi cewek" teriak Doni, si maling bolpoin kelas. Pria sok ganteng yang padahal nih masih lebih mendingan tampang sempaknya dari pada mukanya sendiri
"Serah lo Don, serah" ketus Valerie
"Lo lagian Don. Ngurus para cewek. Ya ikut runyam hidup lo" Jukri nampak mulai nimbrung mengejek para cewek
"Halah, kayak hidup lo kaga ribet aja. Juk. Cewe tuh spesial. Misterius dan menggoda tau" ketus Kiki
"Hihhh, sok misterius bikin ribet dunia iya. Yang biasa di luarbiasaan. Yang kaga ribet di ribetin"balas Jukri menghina cewek
Mulailah perdebatan tentang kelebihan cowok dan cewek itu dimulai. Apa mereka tidak sadar, kalau mereka adalah makhluk beda jenis yang saling membutuhkan. Sungguh lucu.
Valerie melirik tajam pada Mentari" lo harus cerita"bisik Valerie tajam
Sementara Mentari misuh-misuh senyum seperti orang gila. Hal itu membuat ketiga sahabatnya semakin penasaran tingkat dewa.
****
Mentari membereskan alat tulisan yang berserakan diatas mejanya dengan terburu-buru. Mengingat bel pulang sekolah sudah satu menit lalu berbunyi
"Tar, pelan-pelan napa. Gak ada yang ngejar lo" Wanda memungut bolpoinnya yang jatuh akibat ulah Mentari
"Gue buru-buru. Mau pulang bareng Raja soalnya" balas Mentari masih fokus memasukkan buku ke tasnya
"Wahhh, gue masih ga percaya lo jadian sama Raja. Ini kayak april mop sumpah!" histeris Valerie
"Yang jelas ini bukan april mop. Dan gue beneran pacarnya Raja. Gue duluan, bye guys"
Mentari berjalan dengan langkah lebar dan cepat menuju parkiran. Ia tak memperdulikan lorong sekolah yang masih tampak ramai meski jam pulang sekolah sudah berbunyi
Tapi Mentari ingin cepat-cepat bertemu Raja.
Sosok Raja bisa dilihat Mentari, pria itu berdiri di bawah tangga, terlihat berbicara dengan seseorang. Dan itu wanita.
Mentari menghela nafasnya
don't be jeleous Mentari. Lo harus nanggung resiko pacaran sama cowok populer yang ramah sama semua orang. Jangan kacauin semuanya ,dan jangan jadi ceroboh
Mentari menarik seulas senyum menyemangati dirinya, ia tak melanjutkan langkahnya, ia memilih untuk diam sementara Raja menyelesaikan urusannya dengan gadis itu. Yang kalau Mentari tau dia adalah kapten chirliders bernama Viona gadis berperawakan semampai salah satu primadona sekolah
Setelah Viona pergi, Mentari kembali melanjutkan langkahnya menghampiri Raja
Saat Raja berniat menuju parkiran ia melihat Mentari yang tersenyum kearahnya
"Hai, mau langsung pulang?" tanya Raja dengan senyumnya
Mentari mengangguk antusias. Keduanya lalu, berjalan beriringan. Sesekali Mnetari melirik Raja yang menatap lurus ke depan
Motor Raja yang berwarna merah terparkir sempurna. Mentari melirik Raja yang memakai helmnya. Pria itu lalu tanpa kata menyerahkan helm itu kepada Mentari
Gak dipakaiin nih?
Mentari memakai helm berwarna coklat itu dalam diam. Lalu gadis itu menaiki motor Raja
Motor Raja keluar dari parkiran sekolah. Jakarta. Masih macet, folusi dimana-mana. Dan Mentari tak suka hal itu. Tapi mau pindah kemanapun Mentari rasa akan tetap sama.
"Kita mampir di minimarket bentar ya?" Raja melirik Mentari melalui kaca spionnya
"Boleh" jawab Mentari cepat
Raja menghentikan motornya di parkiran minimarket"mau ikut masuk?"
Mentari menggeleng"tunggu disini aja"balas Mentari dengan senyumnya
Entah apa yang akan dibeli Raja. Mentari tidak tau, ia hanya melihat Raja dari balik kaca minimarket.
Raja lalu keluar dengan satu bungkus rokok ditangannya
Raja ngerokok?
Tanpa sadar Mentari mengangkat sebelah alisnya, rasanya tidak mungkin
"Beli apa?" Mentari tak dapat menagan rasa penasarannya dan pada akhirnya gadis itu benar-benar bertanya
"Rokok" balas Raja santai
"Buat siapa?"
"Gue"
"Lo...ngerokok?"
"Ini diluar sekolah. Ga ada peraturan yang ngelarang gue ngerokok kan?"
Mentari diam, dengan kaku gadis itu menarik seulas senyum. Raja menaiki motornya kembali. Dan keadaan membisu setelahnya. Hanya bisingnya suara kendaraan yang menulikan telinga
Dan kebingungan Mentari. Karena ternyata. Ia tak tau apapun tentang seorang Rajata Arsen.
Love you readers
Kuy voment.