CHAPTER 7 : KECEWA

1461 Kata
Hari Sabtu kembali tiba, hari ini Alya akan bertemu dengan keluarga Aydan untuk makan siang bersama. Alya tampak gugup, padahal dia sudah tampil cantik dengan memakai dress motif bunga warna biru tua panjang di bawah lutut dan lengan sampai siku. Rambutnya diikat separuh, tidak lupa juga jepitan kecil menghiasi rambutnya. Polesan make-up tipis di wajah Alya membuat wanita itu tampak cantik alami. Meski Ratih dan Anna mengatakan bahwa tidak akan ada yang mampu menolak kecantikan Alya, entah mengapa perempuan 25 tahun itu tetap merasa waswas. Alya tidak henti-henti menghela nafas dia duduk di teras rumah, di sana ada beberapa kursi tempat orang-orang akan duduk sambil menunggu seblak buatan Ratih. Kalau sekarang belum ada lagi pembeli, biasanya akan ramai saat pagi menjelang siang atau pada sore hari. Tiba-tiba mata Alya teralihkan oleh ketiga malaikat kecilnya yang menghampiri. "Cemangat Mama!!!" sorak mereka seperti mengajak perang. Anna yang mengintip aksi Triplet hanya bisa menepuk jidat, memang ia yang meminta ketiga gadis kecil itu mengucapkan kata semangat, tapi tidak seperti tadi juga. Alya terkikik geli. Ketiga putrinya benar-benar bisa mengurangi kecemasan dihatinya. Dia kembali berpikir kalau memang Aydan adalah jodohnya, jalan bersama Aydan pasti dipermudah. "Makasih sayang-sayangnya mama." Alya mengecup pipi chubby tiga buah hatinya itu. Tidak berapa lama Aydan datang dengan setelan santai, kaos panjang dan celana bahan panjang berwarna krem. Dia terpesona melihat tampilan Alya. Memang dress itu dia yang belikan, tapi tidak menyangka saat Alya memakai bisa secantik ini. Apalagi polesan make-up dan tatanan rambutnya sangat sesuai. "Mas kok bengong?" Suara Alya mengagetkan Aydan. "Habis lihat bidadari jadi tersepona." Aydan mengedipkan mata membuat Alya terkekeh. "Ya sudah yuk berangkat," ajak Aydan yang diangguki ragu oleh Alya. Aydan segera memberitahu bahwa ayah bundanya tampak antusias berkenalan dengan Alya sehingga tidak perlu cemas. Alya pun jadi lega mendengarnya. *** Rumah besar dua lantai terpampang jelas di mata Alya, rasa minder itu kembali hadir dalam benaknya. "Apa ayah dan bunda mas Aydan sudah tahu kalau aku punya anak?" tanya Alya sebelum mereka keluar dari mobil. "Belum Sayang, tapi nanti pelan-pelan kita kasih tahu." Aydan menggenggam tangan Alya. Dia berpikir harus membuat ayah dan bundanya suka terlebih dahulu kepada Alya barulah mereka memberitahu fakta itu. Namun, Aydan yakin kedua orang tuanya pastilah langsung suka dengan kekasihnya ini, apalagi dengan sikap Alya yang lemah lembut. Ketika Aydan dan Alya turun dari mobil, Aydan baru menyadari ternyata ada mobil lain di sana yang tidak ia ketahui. Apa ada tamu? batin Aydan. Saat mereka masuk, keduanya disambut oleh ART rumah Aydan. "Mbok, Ayah sama Bunda mana?" tanya Aydan. "Itu Den, di ruang keluarga," jawab si Mbok sambil melirik sedikit ke arah Alya seperti ada kecemasan di mata si Mbok karena yang ia tahu anak majikannya mau mengenalkan pacarnya. "Kenapa, Mbok?" tanya Aydan merasa gelagat aneh dari ARTnya. "Tidak apa-apa, Den. Ayo mari silakan masuk, Non." Alya tersenyum mendapat perlakuan ramah itu. Sesampainya di ruang keluarga, terlihat sepasang suami istri yang dipastikan adalah ayah dan bunda Aydan sedang bercengkerama dengan seorang gadis cantik berpakaian modis dan elegan. Aydan bingung tak mengenali gadis itu, sedangkan Alya sudah dilanda kegugupan. Hayfa, bunda Aydan menatap putranya itu penuh senyum. Namun, sama sekali tidak menatap Alya. Entah mengapa Alya sudah merasa tidak dipedulikan di sini, begitu pun dengan Hasan, ayah Aydan hanya menatap sang putra. "Kebetulan kamu sudah pulang, Nak. Ini kita kedatangan tamu anaknya teman bunda, namanya Thalita." Hayfa dengan semangat memperkenalkan Thalita. "Dia putri Irsyad Marwan teman ayah, pengusaha sukses," lanjut Hasan. Kedua orang tua itu benar-benar menganggap Alya tak terlihat. Aydan dibuat heran mengapa orang tuanya seperti ini sudah jelas dari seminggu yang lalu Aydan memberitahu akan memperkenalkan kekasihnya pada ayah bundanya hari Sabtu ini. Bahkan kemarin dan hari ini pun dia sudah mengingatkan dan mereka terlihat welcome, tapi sekarang mereka sama sekali tidak menanyakan soal Alya. "Ayah, Bunda, ini kenalkan pacarku Alya," ucap Aydan yang tidak menanggapi orang tuanya memperkenalkan Talitha. "Siang Om, Tante, saya Alya," sapa wanita itu dengan ramah. "Oh, kamu yang namanya Alya, umur berapa dan kerja di mana sekarang?" Belum apa-apa Hayfa sudah menanyakan pekerjaan sambil meneliti penampilan Alya dari atas ke bawah. Menurutnya cantik, tapi asal usulnya tidak jelas. "Saya 25 tahun dan seorang i—" "Dia bantu-bantu di kedai bibinya," Aydan memotong jawaban Alya. Lelaki itu tahu bahwa Alya akan berkata jujur kalau dia seorang ibu rumah tangga. Alya kaget karena Aydan berbohong. Kedai? Dia hanya membantu jualan seblak di depan rumah. "Kerja cuma bantu-bantu di kedai, apa bagusnya? Contoh Thalita yang usianya sama dengan kamu sudah jadi wanita karier yang sukses, sudah jadi manajer di kantor ayahnya." Thalita yang dipuji demikian oleh Hayfa tersenyum congkak ke arah Alya. "Palingan nepotisme, 'kan manajer di kantor ayahnya kalau di kantor lain baru aku percaya dia wanita karier yang sukses," sahut Aydan, tidak terima kekasihnya direndahkan. Hayfa dan Hasan geram kepada sang putra yang menjelekkan Thalita. "Banyak yang bilang begitu, tapi saya orangnya tidak peduli komentar negatif dan lebih memilih bekerja keras membuktikan kemampuan saya," balas Thalita dengan senyum kepalsuan dalam hati ia kesal karena merasa tersindir, tapi ia juga merasa tertantang untuk mendapatkan Aydan. Tidak mungkin 'kan dia kalah dengan seseorang seperti Alya. "Betul itu, Om suka mental kamu Thalita. Mindset seorang yang akan sukses memang seperti itu." Hasan memuji Thalita. "Kamu memang lulusan apa, Alya? Kenapa hanya bantu-bantu di kedai, tidak kerja kantoran atau semacamnya?" tanya pria paruh baya itu. "Saya lulusan SMA, Om." Alya berkata jujur. Di kampungnya saja lulusan SMA sudah bisa dibilang berpendidikan tinggi karena kebanyakan hanya lulusan SMP di sana. "Cuma SMA? Kelihatan sih dari wajahmu tidak punya masa depan cerah," sindir Hayfa dan diangguki oleh suaminya. "Paling kalau nikah nanti cuma bisa meloroti uang suaminya," lanjutnya menatap penuh cemooh kepada Alya. Semua kata-kata Hayfa seperti menusuk dàda Alya, tapi apa salahnya lulusan SMA banyak kok yang sukses. Rezeki orang 'kan beda-beda, Tuhan sudah mengaturnya. Masalah pendidikan saja, orang tua Aydan sudah menjelekkannya apalagi ketika tahu dirinya sudah mempunyai tiga putri kecil. Aydan semakin tidak suka dengan sindiran orang tuanya."Memang tugas suami menafkahi istri—" "Tidak usah dibahas, kami tunggu kalian dari tadi untuk makan siang. Ayo kita makan." Hasan memotong ucapan sang putra. Akhirnya Aydan menurut dan bersama dengan Alya mengikuti orang tuanya serta Thalita menuju ruang makan. "Ini masak banyak khusus untuk menyambut kamu," ungkap Hayfa pada Thalita menekankan kata khusus. Sepanjang makan siang kedua orang tua Aydan selalu memuji Thalita dan beberapa kali sindiran tertuju pada Alya. Perempuan itu merasa tidak tahan di sana, tapi dirinya harus menjaga sopan santun untuk tidak berlari pergi meninggalkan rumah itu, tapi pada saat salah satu sindiran sangat mengena di hatinya, dia memilih untuk menyerah. "Kamu tahu Afkar abangnya Aydan pernah kepincut sama cewek kampung, cantik sih, tapi kerjaannya di ibu kota ternyata jual diri mana tiba-tiba hamil dan ngaku-ngaku itu anak Afkar. Untunglah Afkar bisa membuktikan bahwa cewek itu enggak benar. Ya, orang pendidikan rendah memang begitu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang seperti jual diri dan mencari pria-pria kaya. Benar-benar menjijikkan." Hayfa bercerita kepada Thalita, tapi sesekali matanya melirik Alya seperti mencemooh. Thalita pun melakukan hal yang sama dan membalas harus hati-hati memilih wanita. Perasaan Alya campur aduk dia ingin memberitahu bahwa dirinya perempuan baik-baik, tapi fakta mengatakan ia bahkan punya anak tanpa suami. Hati Alya sakit, tapi dia yakin seratus persen jika dirinya tidak jual diri, itu bertentangan dengan prinsipnya. "Maaf Mas Aydan, Om, Tante, Mbak Thalita sepertinya saya harus pulang. Terima kasih jamuan makan siangnya. Maaf sudah mengganggu makan siang kali ini yang khusus untuk Mbak Thalita." Buat apa di sana kalau dirinya hanya sebagai bahan cemoohan bukan sebagai tamu yang ditunggu dengan antusias seperti kata Aydan tadi ketika menjemputnya. Alya berdiri dan membungkuk sedikit sebagai penghormatan. Lalu dia berbalik melangkah cepat menuju pintu luar. Namun, ia bisa mendengar ucapan dari Hasan yang menyebutnya tidak sopan dan dibalas oleh Hayfa. "Kalau bukan cewek enggak benar kenapa dia pergi dan merasa tersindir. Kayaknya benar deh dia punya niat jelek." Alya berusaha jalan lebih cepat karena Aydan mengikutinya, dia menulikan telinganya dari panggilan Aydan. "Al …." Aydan menggapai tangan Alya, mencoba membalikkan tubuh kekasihnya itu untuk menghadapnya. "Aku pulang Mas, lain hari kita obrolin lagi kelanjutan hubungan ini." "Tapi Al—" "Tolong Mas mengertilah." Alya menatap mata Aydan yang terlihat sedih. "Kamu masih mau berjuang bersama, 'kan, Al?" Alya tahu Aydan sangat mencintainya, tapi baru pertama kali bertemu keluarga Aydan saja hatinya sudah tak kuat. "Nanti kita bicarakan lagi, sekarang aku benar-benar ingin pulang." "Aku antar." "Tidak Mas biarkan aku sendiri dulu." Aydan melepaskan tangan Alya. Dia tahu kekasihnya itu butuh waktu menenangkan diri. Aydan mengeluarkan beberapa helai uang di dompetnya untuk ongkos Alya dan menawarkan memesan ojek online, tapi perempuan itu menolak sehingga Aydan kembali ingin mengantar Alya. Namun, akhirnya Aydan mengalah membiarkan Alya pergi, tapi masih ia ikuti diam-diam sampai Alya menaiki angkutan umum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN