CHAPTER 8 : HUJAN

1406 Kata
Alya menahan tangisnya. Dari tadi dia berusaha untuk tegar agar tidak menangis di sana. Ini bahkan lebih menyakitkan dari bayangannya. Penolakan sekaligus cemoohan, padahal orang tua Aydan belum tahu dia telah memiliki anak, kalau tahu apa jadinya. Alya memegangi perutnya yang terasa perih. Di saat seperti ini maagnya kambuh. Dia memang hanya dua sampai tiga suap makan di sana. Bagaimana bisa makan kalau nyatanya dia hanya sebagai bahan cemoohan? Ini sepertinya dekat kampus Anna, sebaiknya pergi ke kafe Hazer Achilles, batin Alya. Dia ingat ketiga malaikat kecilnya sering merengek meminta pergi ke kafe itu dari seminggu yang lalu. Tujuan utamanya adalah ingin bertemu Om Gema pemilik kafe yang diceritakan putri-putrinya sangat baik, kakak dari dosen datarnya Anna. Namun, Alya belum bisa mengajak karena kesibukan dan tidak ingin Triplet malah jadi merepotkan. Angkutan umum berhenti di depan kafe, Alya bergegas masuk dan memilih makanan. Dia memesan nasi bakar untuk disantap siang ini. Saat pesanan datang dan dia menyuapkannya teringat saat dirinya dan Aydan makan siang di kafe ini. Aydan juga menyuapinya nasi bakar. Tidak terasa air mati Alya jatuh membasahi pipi. Akhirnya ia menangis. Tidak tahu lagi apakah ini akhir kisahnya bersama Aydan atau dia harus berjuang bersama Aydan kembali. Alya mengusap pipinya yang basah dan melanjutkan makannya. Sebenarnya dia tidak berselera, tapi ia paksakan. Sementara itu, Gema keluar dari ruang kerjanya sembari memantau situasi kafe Sabtu siang ini, ternyata cukup ramai. Namun, pandangannya sekarang fokus menatap seorang wanita yang sangat ia kenali. Kenapa dia di sini? Bukannya kemarin dia pura-pura tidak mengenaliku? Apa dia tidak tahu bahwa kafe ini punyaku? Gema merasa aneh saja kalau Alya sampai tidak ingat nama belakangnya yang dipakai di kafe ini. Ya, wanita yang ia lihat adalah Alya Fazila, perempuan itu dalam kondisi buruk sekarang. Gema ragu untuk mendekati, apa harus dia meluapkan lagi rasa marahnya atas kekacauan yang Alya perbuat sekitar tiga setengah tahun yang lalu. Tapi, dia sedang baik-baik saja sekarang. Malah semakin baik karena bertemu Triplet sabtu kemarin. Ngomong-ngomong tentang Triplet, dia belum memberitahu Gion untuk meminta Anna membawa mereka kembali ke kafe karena Gion masih dalam seminar di luar kota sampai hari Senin. "Apa dia menangis?" gumam Gema melihat ada yang salah pada Alya saat ini. Alya sangat cantik dengan dressnya, tapi perempuan itu mengusap terus pipinya yang Gema sadari, Alya sedang mengusap air matanya. "Ck, apa peduliku." Gema ingin kembali ke ruangannya. Namun, jiwa penasaran dirinya malah semakin meronta. "Ehm." Gema berdehem dan duduk di hadapan Alya. Perempuan yang sedang menunduk dan menyuapkan makanan sambil menangis itu pun mengangkat kepalanya menatap Gema bingung. Alya menoleh ke sekitar. Apa tempatnya penuh? "Tempatnya penuh ya, Mas? Masnya duduk saja di sini sebentar lagi saya selesai." Karena tempat yang ramai Alya pikir sudah penuh, sebenarnya masih ada tempat kosong lain. Di lantai dua pun masih ada. Alya menyuapkan makanannya tergesa. Dia merasa kasihan pada Gema yang mungkin sudah lapar, mengingat telah pukul setengah dua siang, tapi Gema tidak mendapatkan kursi. Gema hanya bisa terperangah tak mengerti. Sampai tiba-tiba Alya kembali bersuara. "Mas pesan dulu saja makanannya, nanti biar mbak waiter yang bersihkan. Saya takut masnya nanti maag kayak saya kalau belum makan jam segini." Alya menyeruput cepat minumannya. "Permisi, Mas." Alya langsung pergi meninggalkan Gema yang hanya diam mematung tak bersuara. Mas? Ya, Gema tahu kalau Alya orang Jawa, tapi bukannya dia selalu memanggil Gema, Abang. Mereka dulu dekat karena memang Gema menyayangi Alya bagai adik, tapi disalahartikan oleh Alya. Setelah Gema termenung tidak mengerti, suara gemuruh terdengar. Beberapa pengunjung kafe terkejut dan selanjutnya rintik hujan cukup deras mulai membasahi ibu kota. Gema sedikit penasaran apakah Alya sudah pergi, tapi ternyata perempuan itu berdiri di depan kafenya sedang hujan-hujanan sambil menengadahkan kepalanya ke langit. "Ck, kebiasaan!" Gema langsung bergegas mencari payung. Alya suka hujan, tapi dia hujan-hujanan kali ini dalam rangka sedih. Dia berharap hujan bisa memperbaiki suasana hatinya, tapi bisa jadi hujan memperburuk keadaannya. Rintik hujan menetes cukup deras di wajahnya. Tentu karena dia memang menengadahkan kepalanya. Sakit! Wajah dan hatinya sakit. Terbayang masa indah sudah enam bulan ini menjadi kekasih Aydan. Pria baik dan dewasa yang gigih mengejarnya, walau tahu bahwa dirinya memiliki tiga putri. Bahkan, Aydan sangat menyayangi putri-putrinya. Namun, ternyata orang tua Aydan sama sekali berbeda. Apa yang harus dia lakukan, tetap maju memperjuangkan cintanya atau mundur? Di tengah kegalauannya tiba-tiba wajahnya tidak lagi terasa sakit terkena derasnya tetesan hujan. Ada payung biru dalam pandangannya dan Alya kemudian menoleh ke arah samping. "Loh, Mas yang tadi, kan?" Alya berkata walau air matanya masih mengalir. "Kamu mau sakit hujan-hujanan seperti ini padahal banyak tempat teduh!" Suara pria itu naik beberapa oktaf seperti memarahi Alya. Tentu dia adalah Gema. "Saya lagi sedih, Mas. Kalau di sinetron yang lagi sedih pasti ada adegan hujan-hujanan." Gema terperangah mendengar apa yang diucapkan Alya. Dia tidak mengerti jalan pikiran wanita itu. "Alya, ternyata kamu semakin bodoh!" sindir Gema yang masih setia memayungi wanita itu. "Kok Mas tahu nama saya?" "Kamu benar-benar tidak ingat siapa saya, Alya?!" Gema terlihat kesal. Alya menggeleng cepat, mana pernah dia bertemu pria tinggi, tubuh atletis dengan wajah tampan dan sorot mata tajam seperti Gema. Di kampungnya tidak ada yang seperti ini. Kecuali warga kampungnya ada yang operasi plastik, tapi mana mungkin. Alya pusing karena tidak bisa mengingat ditambah lagi masih dengan perasaan sedih terbayang penolakan orang tua Aydan dan momen kebersamaan bersama kekasihnya itu. Meski berpacaran baru enam bulan, tapi kenal dan merakit momen bersama sudah satu tahun. Apalagi Aydan adalah pacar pertamanya—mungin. "Saya pusing karena gak bisa ingat, saya juga lagi sedih ...." Gema menjadi tidak tega. Tangan pria itu terulur menepuk-nepuk kepala Alya. Gema bertanya-tanya apa yang terjadi kepada Alya kenapa bisa sesedih ini, tapi yang ingin sekali ia tahu adalah kenapa Alya tidak ingat dirinya. Apa pura-pura? Gema rasa tidak. Alya merasakan kehangatan yang tidak asing pada tangan Gema yang menepuk kepalanya. Apa sebenarnya aku kenal mas ini? Tidak berapa lama angkutan umum jurusan ke rumahnya pun mulai terlihat. "Mas, itu angkotnya sudah datang. Makasih ya." Alya menghentikan mobil angkot itu. Setelah angkot berada di depan keduanya, tangan Gema menutup payung dan menyerahkannya pada Alya. "Ini ambil!" Karena suara itu seperti perintah Alya mengambilnya dan segera menaiki angkot. Angkutan umum itu melaju membelah jalanan yang basah. Alya sibuk memandangi payung di tangannya. Dia juga menepuk kepalanya dengan tangan sendiri. Siapa ya kok aku tidak ingat? Apa seseorang yang aku kenal dua tahun sebelum hilang ingatan? Bodoh, kenapa aku tidak tanya namanya? Saat sampai di rumah, Anna dan Ratih memandang heran Alya, bajunya basah, tapi dia bawa payung. Harusnya 'kan Alya diantar oleh Aydan, ini kenapa pulang sendiri. Ada yang tidak beres pikir mereka berdua. *** Malamnya setelah menidurkan tiga malaikat kecilnya, barulah Alya mau menceritakan tentang makan siang tadi. "Apa!? Jahat sekali orang tua mas Aydan?! Ingin kusumpel mulutnya pakai bawang bombai!" Anna terlihat kesal, begitu juga Ratih. "Jadi, kamu mau gimana, Nak? Mau mundur?" tanya Ratih. Alya menggeleng. "Aku belum tahu, kalau Mas Aydan inginnya tetap mempertahankan hubungan ini." "Kalau aku jadi Mbak Alya sih milih mundur. Aku tuh orang yang enggak mau mempertahankan suatu hubungan kalau ada yang membuatku sakit hati. Apalagi ini baru tahap pacaran." Anna memberi pendapatnya. Pengecualian kalau orang tua Aydan menyesal dan meminta maaf. "Ann, tapi tadi aku dengar Thalita itu anaknya bapak Irsyad Marwan. Kok rasanya aku pernah dengar nama bapaknya." Hal inilah yang mengganjal dalam benak Alya. Pernyataan itu membuat Anna dan Ratih terkejut. "Lah itu kan ayahku, Mbak. Berarti yang Mbak maksud itu Thalita Indira. Salah satu wanita bersifat dajjal di rumah ayah. Ck, kirain beneran wanita karier hebat, ternyata wanita licik." "Jadi, itu saudara tirimu, anak ibu tirimu!?" tanya Alya cukup kaget. "Aku tidak mengakui, tapi iya Thalita itu anak pertama si Arshila dan anak keduanya namanya Varisha. Entah kenapa Ayah sampai sekarang masih belum mengetahui sifat asli tiga dajjal itu, malah mengusirku. Nanti kalau ayah sakit atau jadi bangkrut karena mereka aku tidak peduli." Pernyataan dari Anna membuat Alya tercengang. Ternyata Jakarta itu sempit dia bahkan bisa tak sengaja bertemu saudara tiri Anna. Alya tahu kalau pun Anna berbicara tidak peduli dengan sang ayah, tapi dalam hatinya dia sangat peduli. Istilahnya lain di mulut lain di hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN