Di sebuah ruang makan tampak ayah, bunda, dua anak laki-laki mereka sedang bercengkerama sambil sarapan. Anak bungsu terkejut karena dia tiba-tiba akan dijodohkan. Padahal kakaknya sendiri belum menikah. Mereka adalah keluarga Aarash yang membicarakan perjodohan Gion.
"Bang Gema saja belum menikah, kenapa tidak dia saja yang dijodohkan?" Gion merasa tidak terima.
"Aku juga enggak mau." Gema menjawab santai. Dia yakin orang tuanya tidak akan memaksa.
"Gema sudah punya kekasih makanya kami menjodohkan kamu, Gion," jawab Shopia.
"Apa!?" Gion kaget sejak kapan kakaknya sudah punya kekasih, tapi bukan hanya Gion yang kaget, Gema pun ikut terkejut, dirinya punya kekasih kenapa dia sampai enggak tahu, padahal ini dirinya.
Gema ingin meluruskan, tapi dipikir lagi bagus juga kalau bunda dan ayahnya mengira dia punya kekasih, toh dia tidak akan dijodohkan seperti sang adik.
"Kenapa Bunda bisa tahu?" Itulah kalimat santai yang keluar dari bibir Gema, mengisyaratkan kalau dia memang benar punya kekasih.
Shopia menepuk paha Aarash, suaminya itu awalnya tidak percaya saat dia bercerita kalau Gema sudah punya kekasih.
"Tuh 'kan benar Sayang, Gema sudah punya pacar." Aarash juga ikut terkejut, ia kira Shopia salah kira ternyata melihat reaksi Gema seperti mengakui membuat Aarash percaya.
"Kemarin-kemarin Bunda tanya-tanya soal kamu sama pekerja di kafe, terus katanya …."
Shopia mulai menceritakan kejadian awalnya. Hari itu Shopia pergi ke Kafe Gema.
"Bagaimana Gema?" tanya Shopia kepada waiter kepercayaannya bernama Cakra. Lelaki muda itu diminta mengawasi jika Gema mulai mendekati wanita.
"Kemarin Pak Gema sempat mendekati perempuan pengunjung kafe yang terlihat menangis. Pak Gema juga duduk di hadapan perempuan itu. Terus tidak beberapa lama perempuan itu pergi dan tiba-tiba hujan. Habis itu, Pak Gema langsung buru-buru mencari payung dan memayungi perempuan itu yang anehnya memilih berdiri di derasnya hujan. Awalnya Pak Gema terlihat marah karena perempuan itu hujan-hujanan, tapi kemudian—" Cakra menggantung ucapannya karena masih syok dengan apa yang ia lihat.
"Kemudian, apa?" tanya Shopia penasaran.
"Pak Gema menepuk-nepuk kepala perempuan itu sambil mengusapnya, agar dia berhenti menangis." Cakra benar-benar tidak pernah melihat bosnya memberikan perhatian seperti itu kepada perempuan. Yang Cakra tahu, jika tidak ada perlu Gema juga tidak akan mengobrol dengan yang namanya perempuan.
"Terus?"
"Terus angkot datang dan perempuan itu naik angkot, tapi sebelumnya payung sudah Pak Gema berikan ke perempuan itu dan walau hujan Pak Gema tetap menatap angkot itu sampai menjauh, the end." Cakra menyelesaikan ceritanya.
"Benar atau tidak cerita kamu itu?"
"Benar, Bu. Coba tanya Mona, dia juga lihat." Akhirnya mereka memanggil Mona salah satu writer dan Mona mengiyakan cerita itu.
"Kayaknya itu pacarnya Pak Gema yang lagi sedih karena Pak Gema terlalu sibuk dan cuek, tapi akhirnya Pak Gema tidak tahan dan menunjukkan sikap peduli, kasih sayangnya, dan cintanya di depan umum." Begitulah cerita prediksi Mona.
"Apa benar begitu?" Shopia masih belum yakin.
"Ibu harus tahu kalau saya mendengar sendiri saat Pak Gema melihat perempuan itu hujan-hujanan dia bilang 'kebiasaan' dan panik mencari payung. Kalau bukan pacar pasti mantan terindah." Mona menguatkan cerita fiktifnya dan Cakra pun mengiyakan.
Shopia yang awalnya ragu menjadi percaya. Mungkin Gema belum siap memperkenalkan pacarnya kepada Shopia. Ya, bisa jadi dia masih belum siap untuk ke jenjang pernikahan karena Gema pernah gagal menikah. Atau perempuan itu ingin menikah, tapi Gema belum siap, jadi perempuan itu sedih. Shopia mulai berasumsi sendiri.
"Perempuannya seperti apa?" tanya Shopia lagi. Tentu dia ingin anaknya bersama perempuan baik.
"Wih jangan ditanya Bu, perempuannya cantik, sopan juga kelihatannya, enggak terlalu tinggi, tapi juga enggak pendek. Saya kalau punya cewek kayak gitu mah bersyukur tiap hari," jawab Cakra memuji perempuan yang digosipkan kekasih Gema.
"Pokoknya kekasih Pak Gema ini cantiknya bukan make-up, tapi cantik alami. Saya saja iri." Mona menambahkan. Perasaan senang muncul pada diri Shopia. Dia berharap Gema akan memperkenalkan perempuan itu dan berakhir di pelaminan.
"Begitu Nak ceritanya. Apa benar seperti itu?" tanya Shopia dengan mata berbinar.
Ternyata Bunda salah paham dengan Alya. Dasar waiters ember bocor, cerita pakai berlebihan segala lagi.
"Jadi, ini benaran pacar kamu atau mantan kamu Gema? Siapa namanya?" Sekarang Aarashlah yang penasaran. Begitu juga dengan Gion, tapi sayang ekspresi Gion tidak menunjukkannya.
"Kalau dibilang pacaran juga aku tidak tahu, tapi kami dekat. Namanya—
nanti saja aku beritahu kalau sudah yakin," jawab Gema.
"Sedekat apa kalian?" tanya Shopia lagi.
Gema merenung mendengar pertanyaan itu.
Kami dekat sampai karena emosi dan mabuk aku pernah merenggut sesuatu miliknya yang paling berharga, batin Gema yang tidak terucap.
***
Sementara di sebuah rumah sederhana tampak Triplet sedang mandi bersama tentu dimandikan oleh mama mereka.
Ketiganya terkikik geli saat sang mama mengusap sabun ke tubuh mereka.
Byur!
Busa di tubuh mereka menghilang tersiram air. Alya dengan sigap membungkus tubuh ketiga putrinya dengan handuk. Setelahnya triplet malah berlari ke sana kemari.
"Sayang, yuk pakai baju dulu nanti masuk angin." Alya kewalahan mengajak ketiga putrinya untuk memakai pakaian, mereka memilih berlari sambil tertawa. Alya tahu ketiganya mencontoh Anna yang biasa telat ke kampus dan setiap habis mandi pasti lari ke kamarnya hanya menggunakan handuk.
"Vio, Ela, Anya yuk pakai baju. Vio ajak adik-adiknya." Viona yang diminta oleh sang mama, jiwa kakak dalam dirinya mulai bangkit dan dia berhasil membawa kedua adiknya ke hadapan Alya.
"Kakak Vio memang hebat." Alya mencium pipi Viona. Alya tahu Viona sangat senang jika dipuji sebagai kakak yang hebat. Vela dan Vanya tentu tidak mau kalah mereka juga meminta cium, tapi Alya tidak mau sebelum mereka pakai baju.
Akhirnya Triplet sudah rapi dengan bajunya dan berhasil mendapat ciuman dari sang mama.
"Ma, Om Gema?" Vanya mendekati sang mama seperti meminta diajak bertemu dengan Gema. Alya tampak berpikir.
"Begini saja, Mama minta Tante Anna untuk menanyakan ke dosennya boleh tidak ke sana. Kalau boleh, nanti mama anterin ketemu Om Gema." Vanya tidak terlalu mengerti maksud sang mama, tapi yang dia pahami sang mama mau mengantarkannya bertemu Gema. Vanya memeluk Alya senang.
Alya jadi penasaran seperti apa sosok Gema, pemilik kafe itu. Mengapa Vanya yang susah untuk berdekatan dengan orang lain bisa langsung dekat dengan Gema. Kalau tidak salah ini sudah dua minggu Triplet selalu ingin bertemu Gema terkhususnya Vanya. Padahal biasanya kalau ketiga putrinya mempunyai keinginan tidak sampai seminggu akan lupa.
Alya melihat payung yang dia dapatkan dari seorang laki-laki yang mengenalnya, namun dia tidak ingat.
"Ini payung kafe atau payung punya masnya ya, tapi nanti kalau ke kafe aku bawa saja." Alya bermonolog sendiri.
***
"Jadi, kamu seorang dosen di fakultas ekonomi dan Bisnis?" tanya seorang pria paruh baya kepada Gion. Sekarang keluarga Gion sedang berkunjung ke rumah calon yang dijodohkan dengan Gion. Sebenarnya Gion sungguh amat tidak setuju. Namun, melawan keinginan orang tuanya dia tidak bisa. Parahnya sang kakak tidak mau membantunya.
"Iya, Om," jawabnya singkat tanpa ekspresi yang berarti. Pria paruh baya itu bisa merasakan Gion orang yang dingin. Sebenarnya dia lebih positif dengan Gema, tapi mungkin perbedaan umur Gema dan putri tirinya terlalu jauh. Apalagi menurut Shopia, Gema sudah punya kekasih. Pria paruh baya itu memang teman sepermainan Shopia, dulu mereka sempat bertetangga, sudah lama sekali tidak bertemu dan tidak sengaja bertemu dengan Shopia dan Aarash beberapa minggu lalu. Keduanya banyak bercerita, termasuk tentang anak Shopia yang belum punya pasangan, tapi sudah cukup umur.
Pria paruh baya itu mengatakan jika dia tidak mempunyai anak, tapi istrinya punya dua anak perempuan yang sulung sudah dijodohkan dengan salah satu dokter. Yang satu lagi belum punya pasangan, baru lulus kuliah, sekarang bekerja di butik yang dikelola istrinya.
Sebelumnya dia memang punya seorang putri yang sangat ia sayangi dari pernikahan terdahulu, tapi ternyata gadis kecil yang sampai remaja ia beri kasih sayang dengan tulus bukanlah putri kandungnya. Ini terbongkar saat dia sudah menikahi istri keduanya yang bernama Arshila karena sang istri pertama telah pergi meninggalkan dunia.
Pria itu—pria yang mengaku menjadi selingkuhan mendiang istri pertamanya dan mengklaim putrinya adalah putri dari pria itu, dia bahkan memberikan hasil tes DNA yang membuktikan kecocokan.
Terlalu kecewa kepada mendiang istri pertamanya, lalu sang putri yang selalu menuduh Arshila macam-macam dan berperilaku kasar kepada Arshila serta kedua putri istri keduanya itu, membuatnya lepas kontrol dan mengeluarkan kata-kata 'pergi dari rumah ini' kepada sang putri yang sebenarnya sangat ia sayangi. Tak disangka putrinya itu benar-benar pergi.
Menurut Arshila, sang putri sudah tinggal bersama ayah kandungnya di luar kota dan ayah kandung putrinya selalu meminta uang untuk biaya hidup dan kuliah sang putri.
Setelah pertemuan dengan keluarga Aarash pria paruh baya yang bernama Irsyad Marwan itu masuk ke dalam kamarnya. Dia membuka laci dan memandang bingkai foto, di sana ada foto dirinya dan sang putri yang tersenyum lebar.
"Anna bagaimana kabar kamu, Nak? Kenapa tidak pernah menghubungi Ayah sekalipun. Apa tinggal bersama ayah kandungmu lebih bahagia?" Tidak terasa air matanya menetes. Tentu dia sangat mencintai Anna Khalisa sang putri yang ia kira bukan putri kandungnya.