Sudah beberapa hari ini Aydan mengunjungi Alya, membujuk perempuan tiga anak itu untuk bisa berjuang bersamanya kembali.
Hari itu, setelah mengikuti Alya yang telah masuk ke dalam angkutan umum, Aydan kembali ke rumah dengan keadaan marah. Kenapa orang tuanya sampai seperti itu pada kekasihnya.
Ketika masuk rumah, Aydan yang melihat orang tuanya tampak tertawa bersama Thalita di ruang keluarga, segera menghampiri mereka dengan tatapan murka.
"Ayah, Bunda, kita perlu bicara?! Dan maaf sekali saudari Thalita wanita karier yang sukses sebaiknya Anda meninggalkan rumah kami!" Aydan tahu maksud orang tuanya mengundang Thalita untuk menjodohkannya dengan wanita itu dan akhirnya berdampak mencemooh kekasihnya.
"Aydan kamu tidak boleh begitu memperlakukan tamu!" Suara Hasan, ayah Aydan naik satu oktaf. Aydan terkekeh miris mendengar ucapan sang ayah.
"Terus apa yang kalian lakukan dengan kekasihku. Mencemoohnya karena tidak berpendidikan setingkat dengan Thalita yang kalian banggakan. Aku tidak menyangka kalian bisa menghina orang lain seperti itu. Dulu Ayah dan Bunda adalah panutanku, tapi maaf sekarang tidak lagi."
"Kenapa kamu melawan seperti ini, Nak? Pasti gara-gara wanita tidak jelas itu!" Hayfa tidak suka dengan sikap Aydan yang menyalahkan mereka.
"Aku berubah, tentu tidak, tapi ayah bundalah yang berubah. Dulu kalian selalu penuh kasih sayang, menanamkan kesederhanaan kepadaku, menanamkan sikap saling menghormati dan saling menghargai, tapi sekarang kalian menghina orang lain dan itu kekasihku. Apa ajaran kalian hanya kata-kata saja dan tidak perlu dipraktikkan?"
"Kami hanya mengujinya kalau dia wanita baik-baik tentu tidak akan tersindir sampai pergi seperti tadi." Hayfa tak mau kalah di sini.
"Ya coba Bunda yang ada diposisi dia. Mungkin Bunda bukan hanya pergi, tapi akan mengamuk sejadi-jadinya sampai membanting barang. Sudahlah aku tidak mau berdebat, kalau kalian masih mau berbincang dengan Thalita ya silakan. Angkat saja dia jadi anak kalian kalau perlu!" Aydan memilih ke kamarnya untuk menenangkan diri.
Beberapa hari kemudian orang tua Aydan meminta maaf dan mereka akan menyetujui keputusan Aydan jika Alya terbukti wanita baik-baik.
"Bagaimana dengan Triplet? Apa orang tua mas akan menerimanya?" tanya Alya.
"Kita pelan-pelan memberitahu mereka," jawab Aydan. Dia sebenarnya sedikit ragu jujur soal ini. Namun, mau tidak mau harus berkata apa adanya. Alya pun sama dia masih bimbang mau berjuang dengan Aydan lagi atau tidak. Dia takut sakit hati kembali karena keluarga pria itu, tapi di sisi lain dia mencintai Aydan.
Sebagai permintaan maaf Aydan mengajak Alya dan Triplet untuk berbelanja di mal. Tentu triplet bersemangat karena mereka suka belanja. Hanya saja Vanya tak seperti biasa. Dia masih ingin bertemu Gema daripada berbelanja.
Alya menyetujui itu, mereka berlima akhirnya pergi bersama. Tanpa diduga ada seseorang yang mengikuti Aydan dari rumah Alya hingga ke mal.
"Halo Tante, mereka pergi ke mal." Penguntit itu menghubungi seseorang.
"Baik, Tante akan menyusul ke sana," jawab di seberang telepon.
Thalita mengintip dari kejauhan Aydan bersama Alya dan ketiga putrinya yang sedang berada di toko mainan. Dia menyeringai sudah tidak sabar melihat reaksi Hayfa yang akan datang melihat Alya sudah mempunyai tiga putri.
Thalitalah yang mengikuti Aydan ke rumah Alya dan membuntutinya sampai mal. Ia juga telah menghubungi Hayfa untuk ke mal itu, melihat sendiri seperti apa Alya.
Namun, ada satu hal yang harus Thalita laporkan pada bundanya karena dia melihat Ratih di rumah Alya. Tidak menutup kemungkinan Anna juga tinggal di sana.
Sementara di tempat lain Gema sedang menuju ke mal bersama ayah bundanya. Mereka akan berbelanja barang-barang untuk di sumbangkan ke panti asuhan. Aarash dan Shopia memang rutin bersedekah seperti ini.
Hari ini Gema bertugas sebagai sopir. Lihat saja kedua orang tuanya duduk di belakang, sedangkan dia di depan sambil menyopiri keduanya.
"Kapan kamu mau kenalkan pacarmu itu ke Bunda?" Di tengah perjalanan Shopia bersuara.
"Nanti, Bun, kalau aku sudah yakin." Bagaimana dia bisa memperkenalkan pacar karena orang yang dimaksud oleh Shopia adalah Alya. Kalau dipikir lagi Alya juga sudah punya pacar, 'kan?
***
Suara tamparan menggema di dekat toko pakaian. Alya ditampar cukup keras oleh wanita paruh baya di hadapannya yang ia kenali sebagai bunda Aydan. Sudut bibirnya berdarah karena cincin yang digunakan Hayfa cukup tajam. Mungkin dia sengaja memakai cincin seperti itu untuk menyiksa Alya.
Penindasan itu tak bisa dicegah oleh Aydan karena dirinya dihalangi oleh dua anak buah bundanya yang berbadan kekar. Sedangkan Thalita yang ada di sebelah Hayfa tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar wanita kurang ajar! Berani sekali kamu memperalat anakku untuk kepentinganmu dan juga putri-putrimu itu!!!" Tangannya terulur untuk menjambak rambut Alya, tapi bisa Alya hindari.
"Saya tidak pernah memanfaatkan siapa pun. Mas Aydan yang mengajak saya dan putri saya ke sini." Alya memang sering menolak pemberian Aydan. Kali ini dia menerima karena melihat putrinya berbinar ingin mainan itu.
"Enggak usah ngeles kamu, Tante sepertinya benar deh dia dari kampung ke ibu kota jual diri buktinya sudah punya tiga anak dan sekarang mendekati putra tante." Thalita mengompori agar Hayfa semakin emosi.
"Bun, jangan seperti ini, malu dilihat banyak orang!" Aydan bersuara. Memang beberapa pengunjung di dekat sana sedang memperhatikan mereka. Seperti mendapat tontonan gratis dan ada pula yang ingin merekam.
"Biar semua yang di sini tahu wanita seperti apa kekasihmu ini!"
"Maaf saya harus pergi!" Alya lebih memilih pergi mengajak ketiga putrinya. Vanya dan Vela sudah tampak menangis ketakutan. Sementara Viona menatap tajam Hayfa yang menampar mamanya tadi.
"Mau ke mana kamu, urusan kita belum selesai wanita mùrahan!!!" Hayfa berteriak kencang, dia memegang pergelangan tangan Alya, lalu menampar wanita itu.
Kembali tamparan perih di belah pipi yang sama Alya dapatkan. Sudut bibir Alya kembali terluka lebih dalam. Sementara Alya berusaha tetap kuat tidak menangis demi putrinya.
"Tolong lepaskan saya!" Dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman wanita paruh baya itu dan berhasil, tapi rambutnya malah ditarik oleh Thalita.
Hayfa ingin menampar untuk ketiga kalinya sebanyak jumlah putri Alya yang memanfaatkan Aydan. Agar Alya jera tidak mendekati Aydan lagi, padahal putranya sendiri yang tergila-gila dengan Alya.
Viona yang melihat itu tidak terima, dia memukul-mukul kaki Hayfa. "Nenek sihillll!!! jeritnya. Hayfa tanpa sadar menendang bocah kecil itu karena kemarahan yang menggebu.
"Vio!!!" teriak Alya yang masih berusaha terbebas dari jambakan Thalita dan berhasil, Alya segera memeluk Vio yang jatuh tersungkur.
"Vio!!!" Suara yang sama terdengar diantara pengunjung yang tidak sengaja melihat kejadian itu dari kejauhan.