Perang Dingin

1386 Kata

Aku bisa melihat raut bahagia Mama saat melihatku pulang bersama Mas Aerul. Dia belum sempat mengatakan apa pun. Namun, garis bahagia itu lenyap seketika saat menatap gawang pintu. Kami saling pandang dan menoleh–mengikuti jejak arah pandangan Mama. Angga masuk dari sana dengan muka masam yang termakan kecewa. Mas Aerul tidak berbicara sepatah kata pun. Namun, aku melihat wajahnya berubah pias saat Mama terlihat mengekor Angga ke kamarnya. Dia terdiam hingga Mama menghilang di balik pintu kamar Angga. Aku menangkap Mas Aerul tersenyum miring sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat adegan yang ditunjukkan Mama. Kemudian dia mengajakku untuk segera masuk ke kamar–tanpa suara. Setelah memintaku duduk di atas tempat tidur, Mas Aerul membuka lemari pakaian, kemudian menurunkan koper di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN