“Siapa Mas?” tanyaku penasaran. Dia menggeleng, kemudian meletakkan kembali ponselnya setelah menonaktifkan. Aku mengerutkan kening, berusaha mencerna sendiri apa yang tengah terjadi. Kenapa wajahnya berubah seketika saat menatap layar ponsel tadi? “Enggak usah dipikirin, paling juga orang iseng.” Dia berbicara sambil tersenyum–yang menurutku untuk menutupi ketegangan. Setidaknya itu yang bisa k****a. Dia meraih kepalaku dan mengusap rambut pelan, kemudian menarik selimut dan memejamkan mata. Ah, hanya sesaat. Dia kemudian berbalik badan. Hanya itu? Ke mana perginya hasrat yang tadi hampir timbul dan ingin dia luapkan? Lupakah? Sungguh, kali ini mungkin akan lebih sulit bagiku untuk terpejam. Entahlah, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam sana. Mengikis rasa damai dan ketenan

