Aku pernah berpikir, menikahi gadis yang tak pernah kukenal adalah sebuah kesalahan. Bagaimana tidak, aku harus menanggung kealahan yang tidak pernah kubuat. “Kenapa harus aku, Ma?” Aku protes keras saat itu. “Karena kamu anak Mama,” jawab Mama cepat. “Apa menjadi anak Mama adalah sebuah kesalahan? Sampai kapan Mama terus membela Angga dan melempar kesalahannya ke wajahku? Apa aku nggak boleh sekali-kali menolak keinginan Mama?” Kali ini aku protes lebih panjang. Mengungkit kesalahan yang Mama lakukan berulang kali padaku. “Kali ini saja, Rul. Mama janji, ini yang terakhir, Nak. Setidaknya, kasihanilah gadis itu. Mama tahu, kamu punya perasaan, Sayang. Satu-satunya yang bisa menolong dia hanya kamu, Nak.” Mama memohon kali ini. Terbuat dari apa hatinya? Tak terhitung lagi Angga menya

