Aerul. Dialah saingan seumur hidupku. Lewat jalan apa pun, secara tersembunyi atau pun terang-terangan dia selalu ingin membuka jalan persaingan di antara kami. Membuat pembatas dan menyatakan permusuhan. Itulah sifatnya. Sialnya dia memang selalu selangkah lebih maju di depanku. Seperti sekarang, dia mengambil Kia-ku tanpa izin. Bahkan putri kandungku memanggilnya dengan sebutan ayah–batu besar seakan menghantam telak menembus ke dalam hati. Menyakitkan. Salahku memang, meninggalkan Kia saat dia membutuhkan. Namun, aku tak punya jalan lain. Semua karena wanita itu. Ya, semua salahnya. Dia membuatku tak bisa membuat pilihan. Keputusan besar akhirnya berpucuk pada penyesalan dalam. Aku kehilangan Kia-ku. Gara-gara memenuhi tantangan wanita itu–membuatku benar-benar tak berkutik. Tentu saja

