Aku memegang tangan ibu mertua yang dingin. “Ma, aku udah bilang nggak pa-pa. Mas Aerul pantas bahagia.” Pelan mencoba menenangkan Mama.
Kalian tahu, bagaimana susah payah menyembunyikan gejolak hati? Mungkin aku bisa bahagia melihat dia nanti bahagia. Bukankah mencinta memang harus begitu? Bahagia saat melihat orang kita cintai bahagia.
“Tapi ingat, Aerul. Jangan pernah ceraikan Kiara, Mama enggak rela.” Mama berdiri kemudian beranjak dari apitan kami, berjalan menuju tempat tubuhnya menghilang setelah menutup pintu kamar.
Kami saling menatap. Entah kenapa tatapannya berbeda kali ini. Karena tidak ingin tenggelam di dalamnya, cepat kulempar pandangan pada tempat di mana Kinan berada.
Mas Aerul berdiri dan melangkah meninggalkanku tanpa sepatah kata pun lagi. Aku mengikutinya dengan ekor mata. Dia menuju meja makan. Baru ingat jika dia belum makan siang tadi. Sepulangnya dari luar, dia langsung mengajak untuk bicara tadi.
Aku tidak tahu dia pergi ke mana sepagian tadi. Bisa jadi baru saja menemui Riyana Sena–sang gadis yang memiliki singgasana ratu di hatinya. Aku berdiri mengikuti langkah Mas Aerul, berniat melayani dia makan.
“Aku ambilin, Mas.” Aku merebut piring yang sudah ada di tangan. Mengisi nasi dengan ukuran porsinya, juga lauk pauk yang segera kutata di atas meja.
Dia bergeming tak menanggapi, kemudian duduk di salah satu kursi, menghadap meja makan. Entah mengapa aku merasa dia menatapku.
“Berhentilah melayaniku, Ki. Aku enggak pernah memberikan hakmu.” Kalimat ini sudah terlalu sering terdengar darinya, tetapi tidak pernah kutanggapi. Meskipun begitu terasa selalu menusuk perlahan di dalam sana, hingga membuat tanganku gemetar saat menghidangkan makanan di hadapannya.
Cepat aku menarik tangan sebelum dia melihat. Selama ini aku mampu menunjukkan ketegaran dan kekerasan hati bak batu karang di hadapannya.
Dia mulai menyantap makanan. Kubiarkan dia makan dengan lahap, sambil sesekali mengamatinya. Mas Aerul memang terbiasa makan dengan cepat. Tidak sampai lima menit isi piring sudah habis tak tersisa. Aku menuangkan minum untuknya saat dia sudah sampai pada suapan terakhir.
“Ki.” Suaranya sedikit tegas, menyebabkan diriku sedikit tersentak. Mungkin karena aku tidak menghiraukan ucapan.
“Kamu ngerti 'kan maksudku?”
Aku mengangguk pelan, menarik napas dalam pelan-pelan agar tidak terlalu kentara jika rasa gugup tengah meretas hati.
“Anggap saja aku sedang membalas kebaikanmu untuk Kinan, Mas. Aku juga enggak akan menuntut apa pun dari Mas Aerul,” ucapku pelan.
Sengaja memakai Kinan sebagai alasan. Namun, aku menunaikannya bukan untuk balas budi, tapi memang keinginan murni dari hati untuk melayani. Hanya ini yang bisa kulakukan, karena kewajiban yang lain dan lebih dari ini aku tidak diberi hak olehnya untuk menunaikan.
“Dari awal aku udah bilang, Kinan selamanya akan menjadi anakku, dan kamu jangan menjadikan ini beban.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, dia berdiri dan berjalan menuju wastafel, mulai membasuh piring bekas dia makan.
Aku bergeming sambil memandang punggungnya yang sedikit bergoyang-goyang karena efek gerakan tangan yang membasuh piring dengan sabun. Terkadang timbul hasrat ingin memeluk tubuh jangkung itu dari belakang, tetapi keadaan kembali menyadarkan tentang siapa aku di hati Mas Aerul.
Aku ingin memiliki dia seutuhnya. Menjadikan dia tempat bersandar kala lelah, atau tempat berbagi keluh saat gelisah. Entahlah. Salahkan jika aku berharap? Bukankah aku istri sahnya? Salahkah bila aku bermimpi kelak kami akan mendayung bersama perahu ini? Perahu kecil yang hanya ada aku dan Mas Aerul. Sekali lagi hanya aku dan dia.
Ya, Allah. Salahkah bila aku tak rela dia menikahi Riyana Sena?
“Ada apa, Ki?” Suara Mas Aerul begitu mengejutkan. Dia sudah berdiri di hadapanku. Ah, tatapan matanya yang teduh membuat lupa bahwa dia tidak pernah menginginkan diri ini.
Aku menggeleng, membuang titik-titik harapan semu yang tadi berterbangan dia atas kepala. “Eh, i ... iya, Mas. Enggak ada apa-apa. Aku temani Kinan main dulu.” Aku beranjak meninggalkan dia setelah melihat anggukan kepalanya.
Dia kemudian duduk di sofa yang menghadap layar televisi, sambil berkutat lama dengan ponsel di tangan. Aku hanya melirik sepintas. Tidak lama kemudian terdengar dering telepon dari ponsel miliknya. Suara lembut membalas sapaan salam dari lawan bicara. Sudah bisa dipastikan siapa teman bicaranya bila intonasi suara seperti itu. Entahlah, telingaku yang terlalu sensitif dan berlebihan atau memang seperti itu adanya. Pastinya, bongkahan merah di dalam sana seperti tersayat perlahan mendengar kemesraan yang dia pamerkan meski hanya lewat udara.
“Iya, Sayang. Hati-hati, ya. Kasih kabar kalau sudah sampai.”
Tidak salah lagi, Riyana Sena di sana. Aku bergeming, berpura-pura sibuk menemani Kinan mengambilkan puzzle yang dia tata secara acak. Jika boleh memilih, sungguh aku tidak ingin mendengar pembicaraan mesra mereka. Dia hampir tidak pernah berusaha menghindar dariku saat menerima telepon dari permaisuri hatinya itu.
Tidak seperti biasa, Mas Aerul cepat mengakhiri sambungan teleponnya. Aku segera melempar pandangan ke lantai saat mata kami terpaksa bersitatap. Setelahnya, kembali merasa bila sepasang maniknya tak berhenti menatap kami. Entahlah, aku tidak berani menoleh lagi untuk memastikan. Sampai akhirnya dia beranjak dari tempat duduk dan membenamkan tubuh di balik pintu kamarnya. Ya, kamarnya sendiri. Sudah dipastikan kami pun memiliki kamar masing-masing.
Ah, kelopak mata memanas lagi, mengembun, dan merebak tak terelakkan lagi. Aku terisak dalam kesendirian dan kehampaan.
Tanpa disadari, ternyata Kinan menoleh menatap padaku. Bodohnya diri ini, lupa bahwa ada Kinan di sini.
“Nda,” panggilnya pelan. Dia berdiri mendekat setelah meletakkan potongan puzzle di lantai.
Cepat aku menepis sisa bulir mata yang mengarus di pipi. Sialnya, masih bersisa dan putri kecilku menyadari. Entahlah dia mewarisi jiwa sensitif sepertiku.
“Nda na–nis, ya?” Lidahnya mencoba mengeja kata “menangis” di hadapanku. Cepat aku menggeleng.
Tanpa diduga, dia berlari menjauh, menuju salah satu pintu kamar. Itu kamar Mas Aerul. Aku cepat berlari mengejarnya, tetapi terlambat, dia sudah menggedor pintu kamar orang yang dia panggil ayah itu.
“Ayaaah,” teriaknya di depan pintu. Buru-buru aku menyusulnya.
“Kinan, jangan sayang, Ayah lagi istirahat. Jangan ganggu, ya,” bujukku pelan setengah berbisik. Lalu mengangkat tubuhnya membawa ke dalam gendongan dan beranjak meninggalkan pintu kamar suamiku, sebelum pemilik kamar menyadari kehadiran kami. Namun, terlambat. Pintu terbuka saat aku berdiri dan tubuh jangkungnya menyembul dari balik pintu.
“Kenapa, Sayang?” tanya Mas Aerul menatap pada Kinan.
Aku menggeleng. “Nggak pa-pa, Mas. Lanjutin aja istirahatnya. Maaf, aku bawa Kinan dulu.” Aku memutar tubuh, mulai melangkah meninggalkannya..
“Ki ....” Aku mengurungkan langkah. Ada keraguan yang terdengar dari suaranya.
“Kamu nggak apa-apa?” lanjutnya kemudian.
Aku menggeleng tanpa menoleh.
“Ayah, Nda ...,”
“Kinan masih ngantuk kayaknya, Mas,” selaku asal dan segera meninggalkannya sebelum ucapan Kinan berhasil meluncur sukses. Tidak peduli jika membuatnya bingung.