Part 3 : Menjelang Pernikahan

1981 Kata
Satu minggu lagi pernikahan Mas Aerul dan Riyana akan digelar. Dia terlihat sibuk mondar-mandir menyiapkan segala bentuk keperluannya. Aku merapatkan selimut, mengurangi hawa dingin yang seakan menjamah celah pori-pori. Mendadak sore tadi kepala terasa pusing sehingga aku memilih istirahat lebih cepat. Sedang Kinan dibawa ibu mertua untuk tidur bersamanya, karena mengetahui kondisi tubuhku yang kurang fit. Apalagi di luar hujan rintik-rintik membuat dingin semakin menusuk tulang. Aku terkesiap saat tiba-tiba pintu kamar terbuka, susah payah memasatkan pandangan ke arah pintu. Kulirik jam di dinding dan mencoba bangun saat melihat bayangan tubuh Mas Aerul di sana. Pukul sebelas malam. Ini tidak biasa. Sungguh. Dia tidak pernah masuk ke kamarku selarut ini. Apa yang terjadi? Seketika tempo ritme detakan di dalam dadaa kiri bertambah cepat. “Maaf, Ki. Aku numpang tidur di sini, ya?” Mungkin hal seperti ini hanya terjadi pada kami. Seorang suami minta izin pada istrinya untuk tidur satu kamar. “Mama kunciin kamarku lagi. Di luar dingin banget,” keluhnya kemudian. “Iya, Mas. Nggak pa-pa,” ucapku pelan setengah gugup. Dia yang tengah sibuk melepas kancing kemejanya menoleh saat mendengar jawabanku. “Kamu kenapa, Ki? Kok suaranya beda?” Dia mendatangiku dan duduk di tepi ranjang. “Nggak pa–pa, kok, Mas.” Dia menatapku lekat. “Nggak apa-apa gimana? Muka kamu pucat gitu,” ucapnya kemudian, disusul dengan tangannya mengulur pada dahiku lembut. Sekilas ingin menikmati sentuhan tangannya yang jarang sekali kudapatkan. “Kamu demam, Ki. Aku antar ke dokter, ya.” Aku menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Mas. Aku juga udah minum obat. Ini udah mendingan, kok.” “Benaran? Tapi panas banget, Ki.” Aku mengulum senyum. Ada kecemasan dari suaranya dan ... aku suka. Sesederhana itu arti bahagia untukku. “Tangan Mas yang dingin karena habis dari luar. Di luar ‘kan hujan. Makanya terasa panas pas pegang aku,” gumamku pelan, sekuat tenaga berusaha membuat agar suara ini terdengar biasa saja. “Enggak. Emang panas banget ini, Ki,” ucapnya lagi cemas. Aku menggeleng lagi membuat kepalaku terasa lebih nyeri, refleks menimbulkan rintihan kecil dariku. Terlihat buru-buru Mas Aerul beranjak dari duduk, kemudian keluar dari kamar. Rasa kecewa mulai menyusup pelan di dalam kalbu. Dia meninggalkanku. Namun, di luar dugaan, dia kembali dengan membawa mangkuk besar dan sehelai selampai kecil. Perlahan dia memintaku berbaring kembali, kemudian meletakkan selampai yang dibasahi dengan air hangat di atas dahiku. Tidak ada yang dapat kulakukan selain menuruti kemauannya. Adakah sejumput rasa di hatinya untukku? Jika boleh aku ingin sakit saja, agar dia selalu melimpahkan perhatian pada wanita malang ini. Biarkan saja merasakan sakit yang tak seberapa ini. Menikmati perhatian dan perlakuan lembutnya sudah melebihi obat mana pun. Bolehkah aku berharap lebih? Setidaknya suatu saat dia akan sudi mengarungi lautan kasih bersamaku. Mungkinkah? Tapi dia akan menikahi permaisuri hatinya sesaat lagi. Mungkin ini momen yang terakhir. Setelah ini, dia pasti akan lebih sibuk, menuai kasih bersama ratunya. Kiara, harapanmu hanya akan tinggal harapan. Tak kan jadi nyata. Mas Aerul bukanlah pria yang mudah berpindah ke lain hati. Sekali saja nama itu terukir di dalam kepingan hatinya, ia akan menjadi relief indah di dalam sana. Aku tahu persis itu. Untuk pertama kalinya selama tiga tahun pernikahan, aku merasakan haru yang menguap menyejukkan hati yang selama ini gersang. Entah ini mimpi atau nyata, tetapi aku tidak ingin ini cepat berakhir. Bolehkah memohon pada Tuhan, untuk menghentikan waktu sejenak. Agar bisa merasakan sentuhan lembutnya lebih lama. Mendadak hening, tidak ada suara yang tercipta di antara kami. Entahlah, mungkin dia juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan aku sibuk mengendalikan kemelut di dalam sana agar tidak kentara. Namun, sialnya ada sesuatu yang merebak mengalir di pelipisku. Sungguh tidak mampu dibendung. Tidak seperti biasa, kali ini aku tak mampu menyembunyikannya. Kubiarkan saja yang setetes terjatuh. Tidak mungkin menghapus di hadapannya, aku hanya berharap dia tak melihat. Please, jangan lihat. Jangan lihat. Batin ini seakan mengucap mantra. Akhirnya kupilih untuk memejamkan mata, itu lebih baik. Paling tidak membantu mengurangi gejolak hati yang tengah melanda. Namun, pelan kurasakan ibu jarinya menyentuh pelipis dan sudut mata. Ya, dia menepis bulir mataku yang tadi jatuh. Tahu bagaimana intensitas denyut jantungku meningkat? Rasanya naik sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Aku tidak ingin kembali membuka mata. Kali ini keberanian untuk bertatapan dengannya seakan sirna. Mas Aerul bergeming, seakan tidak ingin mengatakan apa pun. Dia kemudian beranjak dari duduk. Membiarkan kain saputangan masih menempel di dahiku. Derit pintu lemari terbuka terdengar. Aku memang menyimpan beberapa pakaian Mas Aerul di sana dan beberapa lagi di kamarnya sendiri. Samar-samar kurasakan dia kembali, lalu mengganti kain kompres dan meletakkan lagi di dahi. Setelah itu, tidak tahu apa lagi yang terjadi. Rasa kantuk kembali datang dan membuatku tak lagi menyadari apa pun yang terjadi. *** Aku baru terbangun saat samar-samar kudengar suara Azan Subuh berkumandang. Kepala masih terasa pening, tubuh juga masih terasa lemah, rasanya seluruh badan terasa nyeri.. Aku terkesiap saat menyadari tangannya kubawa dalam dekapan. Entah sejak kapan, yang jelas aku mendekapnya sangat kuat. Sehingga dia tidak bisa melepaskan dengan mudah. Buru-buru aku melepaskannya membuat Mas Aerul yang menyadarkan kepalanya di samping tubuhku juga ikut tersentak. Dia mengerjap, menjemput penuh kesadaran, kemudian mengucek mata perlahan. Ah, ternyata seperti itu muka Mas Aerul saat baru bangun tidur, terlihat menggemaskan. Kulihat dia mengibaskan sebelah tangannya. Mungkin kebas karena tidak bisa bergerak terlalu lama. Bodohnya aku. “Maaf, Mas. Gara-gara aku tangan Mas jadi kebas, ya,” ucapku pelan. Dia menggeleng sambil tersenyum. “Nggak apa-apa. Kamu gimana?” tanyanya sambil mengulurkan tangan menyentuh keningku. Lagi. “Panasnya nggak turun juga. Habis Subuh kita ke rumah sakit,” ujarnya kemudian. Tanpa menanggapi, aku mencoba bangun. Seberat apa pun kepala ini, panggilan-Nya tidak boleh diabaikan. Sudah cukup aku terlalu banyak menimbun dosa di masa lalu. Seakan mengerti, dia menuntunku hingga ke kamar mandi. Entah mengapa, kaki terasa lemas hingga tidak mampu menumpu berat badan, membuatnya lebih erat merangkul bahuku agar tubuh ini tidak terjatuh. “Maaf, Mas. Aku ngerepotin, ya?” ucapku berat. Dia hanya menggeleng tanpa suara. Bagi pasangan lain mungkin mendapatkan perlakuan seperti ini adalah hal lumrah, tetapi bagiku ini anugerah terindah. Rasa sakit fisik yang kurasakan seakan tertebus dengan perhatiannya kini. Meleleh hati seketika dibuatnya. Dengan bantuan dari Mas Aerul akhirnya kewajiban di waktu fajar bisa kulaksanakan, meski tidak mampu berdiri. Samar-samar kudengar suara ibu mertua menggerutu dari dapur. Beberapa hari ini Mama memang sering mengomel karena ulah pembantu barunya. Kemarin karena si Mbak datang terlambat, sekarang entah apa lagi. Mas Aerul yang baru membantuku membereskan mukena, dia berlalu keluar setelah membantuku untuk berbaring lagi. “Irit boleh, pelit jangan. Kalau kayak gini caranya cucuku bisa kekurangan gizi.” Kini suara Mama dapat kudengar lebih jelas karena Mas Aerul tidak menutup pintunya kembali. “Ada apa, Ma? Pagi-pagi udah ngomel-ngomel aja.” Suara Mas Aerul menimpali. “Ini, nih, ada aja ulahnya bikin Mama senewen.” “Mama juga dikontrol, dong, Ma. Mbak Rini, 'kan, belum ngerti, Mama bisa jelasin baik-baik. Mama kenapa, sih, belakangan bawaannya marah-marah terus,” tambah Mas Aerul lagi yang tidak dijawab oleh Mama. Mas Aerul benar, ibu mertua beberapa hari ini memang kerap mengomel karena masalah sepele. Ajaibnya, aku tidak pernah menjadi sasaran omelan wanita paruh baya itu. Siapa lagi kalau bukan anaknya sendiri atau Mbak Rini yang menjadi sasaran petuahnya. Suara Mama tidak terdengar lagi, hanya tinggal suara Mas Aerul tengah berbicara dengan Mbak Rini. Entah apa lagi yang mereka bicarakan, aku tidak tahu. Kepala yang terasa semakin berat membuatku memilih untuk memejamkan mata. Samar-samar masih terdengar ada langkah mendekat. Aku mencoba membuka mata. Berat. Mama menghampiri, kemudian duduk di sebelah pembaringanku. “Gimana keadaan kamu, Nak? Udah enakan?” Suara lembutnya terdengar. Aku mengangguk perlahan. Aku masih merasakan tangan dinginnya menggenggam jemari. Refleks dia meletakkan satu tangan lagi di atas dahiku. “Mendingan apanya?” Mama menarik napas. “Aerul!” Suaranya kini terdengar cemas. Entah karena apa lagi, aku tak tahu pasti. Suara Mama dan Mas Aerul terdengar semakin jauh. Dalam sekejap tubuh ini seakan berpindah ke ruangan asing. Entah apa, hanya aku sendiri di sana. *** Suara bising terdengar saat kembali mampu membuka mata. Aku menoleh ke sekeliling ruangan yang bercat putih. Berusaha bangkit saat menyadari kini bukan lagi berada di kamarku atau kamar lain yang ada di rumah. Susah payah mencoba bangkit, tetapi tak berhasil. Kepala memang masih pusing meski tak sehebat tadi. “Pokoknya tunda dulu urusan kamu, Mama minta kali ini aja kamu dengarin Mama!” Itu suara ibu mertuaku. Suaranya pelan, tetapi menandakan sebuah ketegasan. Aku menoleh pada pintu yang diperkirakan sebagai arah sumber suara. “Tapi, Ma. Nggak bisa semudah itu. Apa kata keluarga Riyana nanti? Gimana aku menjelaskan ke mereka?” Bisa kupastikan itu suara Mas Aerul. Dia di sini. Topik apa yang tengah mereka bicarakan, aku tidak terlalu mengerti. Ingin beranjak dan menyusul mereka, tetapi apa daya, kemampuan seakan enggan mendekat. Tubuh seakan tidak ingin diajak kompromi. Hati berucap syukur saat tiba-tiba tubuh Mas Aerul menyembul dari balik pintu. Dia setengah berlari menghampiri. Kami bersitatap untuk sejenak. Entahlah, nadiku bersorak riang saat tatapannya secara refleks menjurus ke retina, sungguh tidak tahu malu. “Syukurlah, kamu sudah bangun, Ki,” ucapnya kemudian. Aku bergeming, tidak ingin berbasa-basi, seperti bertanya berada di mana seperti lagaknya tokoh sinetron yang berakting bangun dari pingsan. Sejak melihat bentuk ruangan dan tempat tidur yang kutempati, serta infus di tangan, aku tahu kini tengah berada di rumah sakit. “Mama mana, Mas?” tanyaku akhirnya karena sejak tadi Mama tidak kunjung masuk. “Mama sudah pulang, besok ke sini lagi,” jawabnya datar. Terlihat seperti ada yang berbeda dari dirinya. Entah apa. Tatapannya ... tatapannya beda, tidak seperti biasanya. Aku yakin itu. Seperti ... ah, aku tidak mampu menggambarkannya. “Mas, apa aku boleh minta sesuatu?” tanyaku pelan. Sungguh, aku sudah tidak tahan lagi. Dia mengangguk sambil tersenyum tipis. “Aku mau pulang,” ucapku pelan. Dia terlihat menghela napas panjang. Mungkin mengira aku akan meminta macam-macam. Seperti menunda pernikahan atau meninggalkan Riyana. Ah, memang siapa diriku? Angan ini terlampau tinggi, seakan lupa bagaimana rasanya jatuh. “Besok aja, sekarang sudah malam. Sekalian nunggu hasil tes lab keluar.” Malam? Apa aku tidur terlalu lama? Artinya seharian ini Kinan ... dan entah tes lab apa yang dia maksud. “Kinan gimana, Mas?” tanyaku cemas. Putri kecilku itu tidak akan bisa terpisah lama dengan ibunya ini. Mas Aerul mengatakan Kinan baik-baik saja. Dia bahkan menunjukkan foto gadis kecilku tengah tertidur yang dia dapat dari Mama. Waktu di jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Mas Aerul tak beranjak dari duduknya. Benarkah dia akan menemaniku lagi malam ini? “Tidurlah!” ucapnya memecahkan kesunyian di antara kami. Aku menggeleng, mana mungkin bisa tidur, aku baru saja bangun dari tidur panjang. Dia menundukkan kepala menatap pada sisi tepi brankar tempatku berbaring. Ada garis tak biasa di wajahnya, entah mengapa kali ini aku bisa menangkap bahwa dia tengah dirundung masalah. “Mas ....” Dia mendongak, menatap padaku. “Maaf, tapi kalau tidak keberatan, aku bisa menjadi tempatmu berbagi masalah,” ucapku hati-hati. Setidaknya dia mau berbagi denganku–istrinya–walaupun itu berbentuk masalah. Banyak hal yang dia lakukan untuk seorang Kiara. Dialah pahlawan dalam sejarah hidupku. Sekali lagi dia membuatku bangkit setelah terjatuh dalam keterpurukan. Jadi, tidak masalah jika dia ingin membagi bahagianya. Bahkan aku rela jika hanya dibagi masalah dan kesedihan. Itu pun jika dia rela berbagi. Entahlah, aku tak pernah bisa berhenti berharap darinya. Di dalam hati ini masih terus menggenggam harap bahwa suatu saat dia akan memberi hatinya untukku, sedikit saja. Ya, tak masalah jika sedikit saja. Karena itu, aku sama sekali tidak menolak saat dia meminta izin untuk menjemput kebahagiaannya sendiri bersama Riyana Sena. “Nggak apa-apa,” ucapnya pelan. “Istirahatlah!” Begitu sulitkah membaginya, Mas? Tidak masalah jika kau bercerita tentang ratumu itu. Percayalah aku akan mendengarnya. “Aku tinggal dulu sebentar,” ucapnya kemudian sambil berdiri. Aku mengangguk sebelum kemudian dia memutar tubuh membelakangiku dan pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN