Aku memeluk putri kecilku lama. Setelah beberapa hari dia jarang bersamaku, rasanya rindu sekali. Dia pun tampak enggan beranjak menjauh dariku, masih terus menggelendot–menikmati belaian halus yang kupersembahkan untuknya. Sampai akhirnya Mama membawanya keluar dan memintaku untuk kembali beristirahat. Ah, aku sungguh bosan harus terus beristirahat. Ini hari kedua aku pulang dari rumah sakit, tetapi Mama belum mengizinkanku untuk melakukan apa pun.
Tak lama setelah Mama keluar bersama Kinan, Mbak Rini masuk membawa baki di tangannya.
“Aku bisa ambil sendiri ke dapur, Mbak.”
“Enggak apa-apa kok. Dari pada nanti saya dimarahi Ibu.” Dia meletakkan baki berisi semangkuk bubur nasi di atas meja sebelah tempat tidur.
“Mbak, kalau Mama marah-marah, omongannya jangan diambil hati, ya. Beberapa hari ini Mama lagi sensitif karena masalah keluarga, tapi sebenarnya Mama baik kok,” ucapku karena mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
“Iya, Mbak Kia ....”
Ah cara dia menyebut namaku mengingatkan pada seseorang–yang sungguh tidak ingin kumasukkan ke dalam ingatan lagi.
“Saya juga memang salah waktu itu, jadi, wajar kalau Ibu marah. Lah wong masakan saya tidak terasa bumbunya, wajar saja Ibu marah, padahal sebelumnya Ibu sudah ngajarin,” tambahnya panjang sambil senyum-senyum.
Aku ikut menarik senyum, Mama memang royal bumbu saat memasak. Katanya, kalau tidak banyak bumbu akan terasa hambar. Masakan Mama memang lumayan enak.
Mama juga salah satu pahlawan dalam hidupku selain Mas Aerul. Dia merangkul saat yang lain membuangku. Darinyalah aku merasakan pelukan hangat dari seorang ibu yang selama ini kurindukan.
“Ya sudah, saya pamit ke dapur dulu, Mbak. Masih ada pekerjaan.”
Aku mengangguk setelah mengucapkan terima kasih. Dengan malas meraih mangkuk berisi bubur buatan Mama. Katanya, penderita tifus tidak boleh makan yang keras-keras. Jadi, Mama hanya mengizinkanku makan bubur saja.
Mama beberapa hari ini memang terlihat sedang sensitif. Kemungkinan aku tahu apa penyebabnya. Dia seperti sedang memendam kemarahan pada putranya. Seperti pagi tadi, Mama marah saat Mas Aerul pamit keluar pagi-pagi sekali.
Pernikahan Mas Aerul tinggal tiga hari lagi, wajar saja jika dia sangat sibuk. Namun, kelihatannya Mama tidak ingin ikut sibuk. Bahkan dia uring-uringan melihat putranya itu terlalu sibuk mondar-mandir ke sana kemari.
Usai menghabiskan makanan, aku keluar dari kamar membawa mangkuk bekasn
ke dapur. Kulihat Mama tengah duduk mengawasi Kinan bermain, tetapi tatapannya kosong. Entah apa yang tengah menggelayuti pikirannya. Aku menghampiri perlahan, lalu duduk di sampingnya.
“Ma,” tegurku, karena wanita paruh baya itu seakan tidak menyadari kehadiranku. Seakan terkejut, dia menoleh tiba-tiba.
“Mama kenapa?” tanyaku pelan.
“Kamu kok keluar kamar, Sayang? Kamu belum sembuh, 'kan?” ucap Mama cemas seakan tidak mendengar pertanyaanku.
Dia memegang tanganku setengah menarik untuk berdiri. Aku menggeleng.
“Aku bosan istirahat terus, Ma.” Mama mengulurkan tangan untuk membelai kepalaku lembut. Dengan senyum tulus menghias di bibirnya. Sungguh, kasih Mama melebihi apa pun. Apa yang tak pernah kudapat dalam hidup sebelumnya, aku mendapatkannya dari Mama. Namun, masih samakah nanti saat dia sudah memiliki menantu yang sebenarnya? Entahlah.
“Maafin, Mama. Mama gagal bujuk Aerul untuk tidak menikah lagi,” ucapnya tiba-tiba. Dia kemudian menunduk.
Aku bergeming sesaat. Aku paham, Mama selama ini selalu marah pada Mas Aerul karena masalah pernikahan kedua putranya. Dia lakukan semua untukku. Aku tak pernah mengatakan apa pun padanya tentang perasaan yang sebenarnya pada Mas Aerul, tetapi dia tahu seakan mampu menyelami isi hati ini.
“Kamu harus cepat katakan sama dia, Ki. Bilang sama dia kalau kamu mencintainya. Sebelum dia terlanjur menikahi gadis itu,” ucapnya kemudian.
Aku melepaskan genggaman tangannya perlahan.
Tidak semudah itu, Ma.
Lagi pula apa gunanya mengatakan itu pada Mas Aerul, jika dia sendiri hanya memberikan hatinya untuk satu nama. Tidak ada ruang sedikit pun untuk namaku di sana.
“Ayo, Ki. Waktumu tinggal sedikit lagi. Begitu dia pulang ke rumah, katakan saat itu juga. Jangan nanti-nanti, atau kamu menyesal nantinya,” ujar Mama berapi-api.
“Mama nggak rela, kalau sampai dia meninggalkan kamu. Kamu juga berhak bahagia, Nak,” tambah Mama lagi.
Matanya mulai mengembun. Aku yang tidak tahu harus menjawab apa, hanya menunduk dalam diam. Apa yang Mama katakan aku tidak mungkin melakukannya. Aku bukanlah orang yang mudah mengakui perasaan, terlebih itu adalah perasaan yang bertepuk sebelah tangan.
Aku tidak ingin membuat Mas Aaerul menjadi canggung nantinya. Cukuplah biar kugenggam sendiri perasaan ini. Kalaupun ada cintanya tersisa sedikit saja untukku, biarlah cinta itu mencari jalannya sendiri. Sementara aku akan terus menanti di sini. Biarlah selamanya aku menanti jika memang harus begitu.
Kita akan bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia–mungkin aku bisa berpegang pada kutipan ini. Meskipun sebenarnya tidak yakin. Nyatanya nyeri di dalam sana terasa begitu jelas ketika mengingat bahwa aku harus merelakan Mas Aerul untuk berbahagia dengan wanita pilihannya. Tinggal menunggu hari.
***
Akhirnya hari itu tiba. Mas Aerul menghampiri sebelum berangkat ke lokasi acara pernikahan mereka. Dia mengenakan setelan jas abu tua dan kemeja putih di dalamnya, dilengkapi dengan dasi warna senada. Efek kilap pada jasnya menambah kesan elegan pada penampilan Mas Aerul hari ini. Sayang, dia berpenampilan sempurna seperti itu untuk dipersembahkan pada wanita lain. Bukan diriku.
Aku memilih diam di rumah hari ini. Sebenarnya bisa saja ikut dalam acaranya, tetapi kondisiku masih lemah. Aku takut di sana nanti malah merepotkan Mama atau Mas Aerul.
Dia menang sudah mengenalkanku pada Riyana sebagai kakak iparnya. Ya, Riyana yang memang tidak terlalu banyak tahu seluk beluk keluarga kami, jadi, bukan hal yang sulit untuk mengarang cerita. Tentu saja Mas Aerul yang merangkai semuanya. Aku tidak tahu mengapa dia mendasari pernikahan mereka dengan sebuah kebohongan. Dia bilang suatu saat akan mengatakan sendiri yang sebenarnya pada Riyana, tetapi nanti.
Dia menatapku cukup lama. Entah apa yang dia cari di sana. Sekuat tenaga aku mencoba menahan semua gejolak yang timbul setiap kali mendapati tatapan matanya. Andai boleh, aku ingin memeluknya sebentar saja, menumpahkan semua gundah yang tertahan. Melepas semua resah yang mengurung.
Dia terlihat menelan saliva. Sepatah kata pun belum terucap sejak tiga menit yang lalu–saat dia masuk ke kamarku.
Aku terkesiap saat tiba-tiba dia mendekatkan tubuhnya dan merangkulku dalam sebuah pelukan. Ya, seakan mendengar permintaan hati ini, dia melakukannya. Aku menahan napas. Denyut jantung seakan berhenti untuk sekian detik, kemudian berdetak lagi dengan ritme tak terkontrol. Rasa tidak percaya seakan bergelayut mendapati pelukannya secara sadar dan sengaja.
Mas Aerul masih bertahan dalam keheningannya. Tidak ada kata yang tercipta di antara kami. Aku pun tidak dapat mengeja aksara apa pun. Semua kosakata seakan hilang entah ke mana. Sampai akhirnya dia melerai pelukan kami, juga masih dalam diam. Dia pun seakan kehabisan kata-kata atau apa. Adakah sisa cinta di hatinya untuk wanita malang ini? Entahlah. Aku seakan sedang tidak mampu berpikir sekarang.