Dia Kembali

1291 Kata
Lagi-lagi aku tidak mampu menyelami hatinya. Kata orang, kita bisa membaca hati lewat tatapan mata, tetapi aku tak menemukan apa pun di sana. Atau mungkin aku yang terlalu bodoh? Entahlah. Dia pernah melakukannya dua tahu lalu. Saat aku terpukul dalam rasa kehilangan. Ayah–orang yang menemaniku selama dua puluh tiga tahun–pergi begitu saja atas panggilan Illahi. Aku yang baru saja bangkit dari kesakitan karena terabaikan, harus kehilangannya saat tengah berusaha memperbaiki dan menebus kesalahan atas kebodohan diri sendiri. Kini Mas Aerul hanya menatapku dalam diam. Ya Tuhan, dia tak pernah berhenti membuat jantungku melompat, meski tak sebutir aksara pun terucap dari bibirnya. Sekuat tenaga mencoba tegar agar benteng pertahanan ini tidak melemah. Aku tak ingin Mas Aerul melihatku lemah. Harus kuat! Tak akan kubiarkan air mata ini jatuh di hadapannya. Ya Allah, teguhkan hati ini setidaknya hanya di hadapannya. Tidak lama kemudian, Mama datang bersama Kinan. Dia menatap aneh, mungkin tadi melihat pemandangan ganjal dari kami. Tanpa basa-basi Mas Aerul cepat beranjak dan berlalu meninggalkan kami bertiga–masih dalam kebisuan. Membuat diri ini tidak mampu menutupi keterpakuan atas perlakuan ambigu yang kuterima pagi ini. Cepat, aku menguasai diri, menoleh pada kedua orang yang baru saja datang. Mama juga terlihat sudah siap. Dia terlihat lebih muda saat mengenakan setelan kebaya pesta warna hijau lumut. Mama memang tidak menyukai warna terang. Kinan juga sudah dibuat cantik oleh Mama, putri kecilku mengenakan baju dengan warna senada dengan omanya. Dia cantik seperti putri. Aku meraih tubuh mungilnya dan membawa ke dalam pelukan. “Anak Bunda cantik banget, sih?” Aku tak henti-henti menghujaninya dengan ciuman membuat dia tertawa geli. Sejenak melupakan gundah hati yang sejak tadi menerpa. “Jadi, Bunda nggak diajak, nih?” candaku padanya. “Kata Oma, Bunda harus istirahat,” jawab Kinan dengan bahasa khasnya. Aku tersenyum, mendaratkan ciumanku sekali lagi kemudian menurunkannya dari gendongan. Mama mengajakku duduk di tepi ranjang, dia mengulurkan tangan untuk mengusap bahuku. Aku berusaha tersenyum, menyembunyikan segala keresahan hati yang sejak semalam terus menggelayuti hati. “Kamu bisa menyembunyikannya dari Aerul, tapi tidak akan bisa menutupi dari Mama. Jangan katakan kamu baik-baik saja kalau kamu terluka, Kiara.” “Mama apaan, sih? Aku baik, Ma, benaran.” Sebisanya aku mengiringi kata dengan senyum. Ya, inilah diriku. Lebih sering lain di mulut dan lain pula di hati. Tidak ingin orang lain mengasihani. Sudah cukup belas kasihan yang mereka selalu hadirkan untukku. Apa aku terlalu lemah di hadapan mereka? Walau sebenarnya aku tahu, menutupi hal itu percuma kulakukan di hadapan Mama. Beliau sangat paham akan diriku, bahkan melebihi diriku sendiri. Sejak awal bertemu dengannya Aku yakin dia bukan orang sembarangan. Kenyataannya aku selalu nyaman dengan wanita paruh baya ini. Kasihnya padaku begitu tulus, bahkan melebihi pada anak-anaknya sendiri. Bertemu dengan Mama adalah takdir yang paling kusyukuri dalam hidup ini. Mama kembali membawaku ke dalam pelukan. “Menangislah, Kiara. Mama di sini,” ucapnya lembut. “Maaf, ini salah Mama. Semua yang terjadi dalam hidup kamu, ada titik kesalahan Mama di dalamnya. Maaf. Lagi-lagi kamu harus menderita karena ulah anak-anak Mama. Tolong maafkan Mama. Maafkan Mama ....” Mama yang memintaku menangis, tetapi dia yang berlinang air mata kini. Sedikit pun aku tidak pernah menyimpan dendam untuknya Semua yang terjadi di masa lalu juga berbibit dari kesalahanku sendiri. Aku menggeleng. “Enggak, Ma. Sama sekali bukan salah Mama,” ucapku pelan. Perasaan ini memang sensitif, tetapi beruntungnya aku masih membawa diri dan menempatkan waktu dengan baik. Sedikit pun tidak ada air mata yang keluar saat di depan Mama. Namun, tangisku pecah menganak sungai begitu kudengar deru mobil Mas Aerul meninggalkan rumah. Setelah hari ini aku akan jarang melihat dirinya. Mungkin aku akan lebih merindukan dia. Dengan kerinduan yang lebih dalam dan pasti sulit untuk dileburkan. *** Hingga sore hari, aku masih setengah berharap bahwa pernikahan itu tidak benar-benar terjadi. Semakin lama hati ini semakin tak rela jika dia menikahi wanita lain selain diriku. Kurasakan semakin perih pada bongkahan merah di sana. Namun, aku hanya bisa menelan pil pahit yang bernama kecewa saat kulihat Mama hanya pulang berdua bersama Kinan. Ya, aku berharap Mas Aerul pulang kembali dan pernikahan keduanya tidak pernah ada. Cukup lama aku memandang pintu utama rumah ini. Penuh harap sosoknya muncul dan membelah gawang pintu. Namun, sosok yang kutunggu tak kunjung ada. Bahkan hanya sekedar bayangan pun tak jua muncul. “Bunda.” suara kecil itu hadir mengejutkan sambil menarik ujung bajuku. Aku kemudian duduk berjongkok agar dia tidak mendongak untuk menatap ibunya. Jemarinya tergerak pelan menyentuh pipi yang baru kusadari ternyata basah. Aku segera menyeka sendiri dengan cepat, lalu membuang muka sesaat. Akhirnya, aku tidak lagi mampu menyembunyikan luka. Kudengar Mama memanggil Mbak Rini yang masih di dapur–memasak untuk makan malam sebelum dia pulang. Mama meminta wanita itu menunda kegiatan masaknya dan meminta memandikan Kinan. “Nanti biar saya lanjut sendiri saja masaknya,” ucap Mama yang disambut anggukan dari Mbak Rini. Mama membawaku masuk kamar tanpa mengatakan apa pun. Aku hanya menuruti tuntunan langkahnya. Hari itu akhirnya aku mampu mencurahkan semua rasaku di hadapan Mama. Kubiarkan semua lepas tanpa penghalang. Membiarkan air mata tumpah sejadinya, mengarus deras dalam kerapuhan. Ya, aku serapuh ini. Aku tak lagi sekuat batu karang yang terhempas gelombang. Aku lemah dalam balutan luka. Rapuh serapuh-rapuhnya. Semua karena cinta yang kubiarkan terbalut dalam senyuman palsu. *** Aku ingin bercerita sedikit tentang mereka. Mas Aerul dan Riyana Sena. Mereka sudah cukup lama menjalin hubungan. Sejak Mas Aerul masih di bangku kuliah dan Riyana masih SMA. Hingga saat ini Riyana masih menjadi Mahasiswa tingkat pertengahan. Mereka terpaut usia lima tahun. Riyana Sena gadis yang baik, supel, dan murah senyum. Wajar saja jika Mas Aerul jatuh cinta, wajahnya yang rupawan mampu membius mata siapa pun yang memandang. Aku tak tahu pasti kapan pertemuan pertama mereka. Menurut Mama, Mas Aerul membawa Riyana ke rumah setelah mereka satu tahun menjalin hubungan, Riyana masih kelas tiga SMA waktu itu. Mas Aerul sudah menyiapkan rumah untuk mereka tinggali setelah menikah. Sebab itu aku sempat berpikir dia pasti akan jarang sekali berkunjung setelah menikah dengan Riyana. Namun, sepekan setelah hari pernikahannya, dia selalu datang ke rumah saat jam makan siang–jam istirahat kantor–untuk makan siang dan istirahat. Juga menyempatkan diri untuk mengajak Kinan bermain. Alasannya, Riyana masih di kampus saat jam istirahat kerjanya. Setidaknya bisa melihat Mas Aerul setiap hari di rumah. Ini baik untukku juga untuk Kinan yang selalu menanyakan keberadaannya setiap malam selama satu pekan ini. Setiap hari aku harus mencari jawaban yang berbeda. Aku pun harus selalu siap untuk Kinan yang baru saja belajar–tanpa sosok orang yang dia panggil ayah–setiap malamnya. Menyesal kenapa sebelumnya aku membiarkan Mas Aerul selalu menemani Kinan menjelang tidur. Seperti hari ini, aku melihatnya tertidur bersama Kinan yang juga terlelap di atas tempat tidurku. Semenjak beberapa hari ini Mas Aerul tidak pernah lagi beristirahat di kamarnya sendiri, padahal Mama tidak pernah lagi menyita kunci kamarnya. Aku tengah membereskan isi lemari saat mendengar pintu rumah ada yang mengetuk. Mbak Rini pamit izin kerja hari ini karena ada acara keluarga. Sementara Mama sedang keluar menghadiri acara arisan dengan teman-teman sejawatnya. Jadi, dengan terpaksa aku melangkah ke depan untuk membuka pintu. Entah siapa tamu yang datang saat masa istirahat siang. Tidak ada perasaan apa pun saat membuka pintu, tetapi aku tidak mampu lagi berdiri sempurna saat menemukan siapa yang datang. Kedua kaki seakan tak mampu menopang berat tubuh. Aroma khas bakarat menguar lembut. Masih kuingat betul. Pria bertubuh jangkung dengan setelan celana jin dan kaos santai juga sebuah topi menutupi rambutnya. Dia menatapku heran dengan mata elangnya. Ah, sungguh aku muak. Tatapan itu dulu menghanyutkan, tetapi sekarang aku lebih memilih membuang muka daripada harus bersitatap dengannya. “Kia?” suara itu ... Ah, aku juga sungguh muak mendengarnya. Tuhan, mengapa dia harus kembali?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN