Secepat kilat kudorong pintu agar tertutup kembali. Namun, terlambat. Dia lebih dulu menahan, hingga akhirnya bisa menerobos ke dalam.
“Kia.” Dia tersenyum. “Kamu di sini?” suaranya seakan menggema memenuhi ruang pendengaranku, dan aku benci ini.
“Bukan urusan kamu,” ucapku sambil menatapnya tajam.
“Tentu saja menjadi urusanku, ini rumahku.”
Aku mendengus kesal. Tidak salah memang, dia juga putra rumah ini. Namun, apa haknya mempertanyakan keberadaanku di rumah ini? Bukankah dulu dia membuangku?
Ya, Tuhan. Kenapa dia harus kembali?
Dia maju selangkah, mendekat, dan membuatku mundur beberapa langkah. Sungguh, aku ingin dia membaca kebencian pada tatapanku dan berhenti. Namun, dia tidak akan mengerti. Aku tahu sifatnya yang selalu ingin menang dan sulit untuk mengerti kemauan orang lain.
Aku menatapnya tajam. Dia masih terlihat sama. Semua masih seperti dulu. Hanya di kedua sisi wajahnya ditumbuhi bulu halus. Berbeda dengan Mas Aerul yang lebih terawat dan bersih.
“Kia, aku ... aku rindu. Kamu ... makin cantik pakai jilbab, Sayang,” ucapnya pelan sambil terus membuatku mundur.
Rindu? Ke mana dia pergi saat aku membutuhkan dulu. Dengan mudahnya sekarang dia mengucap rindu. Aku yakin, tak ada getar sedikit pun ketika mendengarnya.
Kalimat itu dulu sering kudengar darinya dan kebahagiaan seakan bertambah beberapa lapis saat mendengarnya dulu. Sekarang? Sungguh, begitu menyesakkan dan aku benci itu keluar dari mulutnya.
“Kia ....” Dia berusaha meraih tanganku, tetapi dengan cepat aku menepis.
“Pergi, Ngga. Jangan ganggu aku!” ucapku tegas. Napas sudah mulai tak teratur. Aku terus berusaha menjauh darinya, tetapi dia seakan tak mengerti dan terus mendekat. Kelopak mata sudah terasa mulai memanas, sebentar lagi mengembun.
Tuhan, tolong kirimkan kekuatan padaku.
“Kia, maafin aku. Aku ... aku menyesal. Tolong maafin aku, Kia. Kumohon!”
Aku menggeleng. Tidak semudah itu. Aku memang melihat kesungguhan di matanya. Namun, hati ini menolak untuk mengacuhkan. Rasa yang dulu ada untuknya telah menjelma menjadi rasa yang bertolak belakang. Hanya kebencian yang tersisa sekarang.
Aku juga bukan baru belajar melupakannya, tetapi kesalahan itu tidak akan pernah bisa kumaafkan. Kebencian ini terlanjur mengakar dalam, tidak mudah bisa ditebus dengan sikap manis yang dia suguhkan. Memaafkan tidak semudah seperti yang orang selalu katakan.
“Kia, dengar! Aku ... aku salah. Aku tahu, tapi aku datang untuk menebus kesalahan itu.” Suaranya parau dan sedikit bergetar, tetapi hati ini terlanjur membeku untuknya. Apa dia pikir menebus kesalahan semudah mengucap kata maaf?
“Kia ..., Sayang ....”
Aku menggeleng lagi. Langkahku habis terbentur dinding. Kini bulir mata sukses merebak keluar. Dia mengurung dengan kedua tangan yang ditahan pada kedua sisi tubuhku. Aku menggeleng dan memejamkan mata yang sudah berair. Kucoba meluruhkan tubuh ke bawah agar dapat keluar dari kurungannya, tetapi tangannya ikut bergerak mengikuti.
Kumohon, jangan paksa aku, Ngga.
Ah, dia tidak akan pernah mengerti keinginan seorang Kiara. Sejak dulu. Perlahan dia mencoba meraih tanganku. Aku benci kenapa dia harus memaksa.
Namun, pegangannya mengendur dan lepas begitu saja saat seseorang berdiri tepat di hadapanku menghadang tubuh Angga yang tadi tidak bisa lagi kuhindari.
“Aerul, jangan ikut campur! Ini urusanku dengan Kia,” ucapnya pelan.
“Aku berhak ikut campur. Aku berhak menghalangi siapa pun yang mengganggu istriku,” ucap Mas Aerul tegas.
Aku menahan isak di belakang punggungnya. Kurasakan dia menggenggam jemari ini. Hangat. Genggaman yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Sungguh, aku seakan melayang seketika. Dalam sekejap mampu meleburkan rasa takut yang sejak tadi menyerang.
Angga terlihat menyeringai, tak percaya. “Istri?”
“Iya. Wanita yang dulu kamu sia-siakan. Dia istriku. Keberatan?” Mas Aerul mengangkat tangan kami yang saling menggenggam tepat di depan mata saudaranya itu.
Aku ingin kamu tahu, Mas, ada setitik bahagia menyusup di antara rasa takut.
Bolehkah dia menggenggam lebih lama, aku tak takut apa pun bila tangan ini dalam genggamannya. Rasa takut yang bersumber dari apa pun tidak akan bisa menyentuh hati ini.
“Sopan sedikit, Bro. Aku ini kakakmu,” ujar Angga dengan tatapan penuh amarah.
“Kakak?” Pertanyaan Mas Aerul lebih terdengar sebagai ejekan. “Bukankah seorang Kakak seharusnya mengajarkan hal baik pada adiknya? Lalu ... menebarkan benih pada seorang gadis kemudian kabur dari tanggung jawab, apakah itu baik untuk dicontoh?” ujar Mas Aerul lagi dengan berapi-api. Dia seakan ingin meluapkan segala kemarahan pada pria di hadapannya.
Aku memejamkan mata untuk ke sekian kali, merasakan kembali luka yang menganga, perih. Sepenuhnya sadar, ucapan Mas Aerul bukan untuk membuka luka di hati ini, melainkan untuk mengingatkan akan kesalahan yang telah Angga perbuat dulu. Benar saja, pria bertopi biru navy bungkam seketika. Dia menunduk dalam.
Tak lama kemudian, dia layangkan tatapannya untukku–melalui celah bahu Mas Aerul. Entahlah, aku melihat tatapan lemah yang memerah di sana. Aku tak ingin peduli, sungguh.
Seakan tidak ingin membiarkan hal itu lebih lama lagi, Mas Aerul kemudian membawaku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu–dengan tangan masih dalam genggamannya.
Dia mengajakku duduk di tepi ranjang. Bulir bening sejak tadi semakin merebak tak terelakkan. Isakku semakin menjadi. Dia mendekatkan tubuhnya, membiarkanku bersandar dan terisak di dadanya. Lama dia membiarkanku terbenam di sana. Tanpa kata tanpa suara, hanya tarikan napas teraturnya yang terdengar.
Dia berusaha menenangkan lewat usapan halus di bahuku. Pria bermata teduh itu bergeming sampai akhirnya aku tenang. Aku bangun dari sandaran di dadanya. Dia menyapu jejak air mata yang tersisa. Sungguh, perasaan ini menjadi tak menentu mendapatkan perlakuannya siang ini. Aku harap dia tak mendengar detak jantung yang seperti genderang bertalu–seakan tidak tahu malu.
“Makasih, Mas,” ucapku sambil menatapnya. Dia menarik bibirnya melukiskan senyum yang ... lama kurindukan.
“Bukankah melindungi istri adalah kewajiban suami?” Kalimat sederhana itu mampu mendamaikan hati yang tadi dipenuhi sesak. Sungguh.
Merasa aneh dengan sikapnya? Tentu saja, untuk pertama kali selama pernikahan aku mendengar dia membahas tentang kewajiban di antara kami. Ada setitik bahagia menyusup menggantikan perih yang tadi menyapa. Aku baru sadar, dia belum melepaskan genggamannya sejak tadi. Berharap tangannya bisa lebih lama mengurung jemari ini.
“Maaf, Ki,” ucapnya dengan suara yang berbeda kini.
“Selama ini aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu.”
Ah, apa lagi ini?
Aku yang tadi menunduk, memberanikan diri untuk menatap, seakan tak percaya dia mengucapkan kalimat itu. Dia menarik tangannya, melepas genggaman.
Aku menggeleng. “Nggak, Mas, yang sebenarnya kamu sudah cukup baik. Aku bisa melewati semua karena dukungan dari kamu,” ujarku kemudian.
Aku tidak tahu pasti apa yang tengah ada di pikirannya, tetapi juga hanya mengatakan apa yang ada di dalam sini. Kenyataannya dia dan Mama yang membuatku bangkit selama ini. Mereka benar-benar seakan menebus kesalahan yang tidak mereka lakukan.
“Apa kamu masih mengharapkan dia?”
Yang kuharapkan kamu, Mas.
Tatapannya menelisik, seperti menembus ke dalam sudut hati. Aku menggeleng, tanpa ada kalimat apa yang ingin kubuat. Dia mengangguk, menyelipkan senyum tipis di bibirnya.
“Kenapa, Mas?” Apa aku ....” Ah, aku tak sanggup bila dia berkeinginan untuk melepasku.
Jangan, Mas. Kumohon tetaplah menjadi suamiku, meski aku tidak mampu menempati ruangan di hatimu.
“Enggak apa-apa.” Dia menunduk.
Tahukah kalian, aku tidak pernah berkesempatan untuk berbincang lama dengannya sebelum ini. Sungguh, Mas Aerul sungguh aneh, aku tidak memahaminya.
“Masih ada perasaan khusus untuk dia?” Dia menatap lagi hingga aku gelagapan dibuatnya.
“Sama sekali enggak.”
Perasaan ini terpaut padamu, Mas. Kedatangannya sama sekali tidak berpengaruh.
Dia kini menundukkan kepala lagi, mengulum senyum. Entahlah, tetapi bolehkah aku memaknai sesuatu?