Kami dikejutkan dengan suara keributan dari luar. Sepertinya Mama sudah kembali. Kami saling pandang, tetapi kemudian sama-sama membuang muka.
Mas Aerul kembali mengajakku mengobrol. Mengabaikan apa yang terjadi di luar. Kali ini dia lebih banyak bicara dari biasanya.
“Mas Aerul, enggak berangkat kerja lagi? Nanti terlambat,” tanyaku tiba-tiba. Seharusnya dia sudah berangkat satu jam yang lalu, tetapi dia menggeleng.
“Kenapa? Apa karena ....”
“Enggak, aku memang sudah izin tadi,” jawabnya cepat. Dia menoleh pada pintu, samar-samar Mama terdengar menangis. Dia tampak menghela napas, kemudian berdiri. Aku ikut berdiri.
“Kamu di sini aja, jangan keluar!” ucapnya kemudian. Aku hanya mengangguk. Mas Aerul kemudian melangkah menuju pintu dan keluar. Tidak lupa dia menutup pintu lagi.
“Nda ....”
Aku menoleh ke arah Kinan yang masih terbaring di tengah kasur. Mata beningnya menatapku sambil sesekali berkedip. Karena insiden itu aku sampai lupa pada sosok kecil ini. Suara di luar tidak terdengar lagi, mungkin Mas Aerul membawa mereka sedikit menjauh.
Mas Aerul dan Angga memang bersaudara, tetapi entah mengapa mereka sangat berbeda. Mas Aerul lebih dewasa sikapnya jika dibandingkan saudaranya itu, padahal Angga yang lebih tua. Meskipun mereka hanya selisih tiga tahun.
Angga yang kukenal dulu memang baik, walaupun terkadang bersikap egois dan keras kepala. Sikap keras kepalanya itulah yang membuatku dulu luluh karena seakan tidak pernah berhenti mengejarku. Entah bagaimana caranya dia selalu ada di saat aku membutuhkan bantuan.
Sejak kecil aku tidak memiliki seorang teman dekat atau sahabat. Sampai akhirnya mengenal Angga sebagai orang terdekatku di masa kuliah. Dia baik, ramah, dan menyenangkan, itulah salah satu alasan yang membuatku menyambut uluran tali asmaranya. Meski ada wataknya yang tidak kusuka, tetapi aku tak pernah mempermasalahkan saat itu. Karena dia mampu lebih menonjolkan sifat baik dibandingkan sisi buruknya di hadapanku.
Hari-hari yang kulewati bersamanya terasa sangat membahagiakan. Seakan dunia ini milik berdua. Aku jatuh cinta untuk pertama kali, sama seperti yang dia katakan bahwa dia juga jatuh cinta. Luapan cinta yang dia tuang membuatku tenggelam di dalamnya dan lupa akan pesan-pesan Ayah. Bersamanya aku terhanyut ke dalam lembah dosa demi menyesap kenikmatan dunia yang sesaat.
“Maaf, Kia, tapi kita nggak mungkin bisa nikah sekarang.” Kalimat singkat itu terasa begitu memilukan bagiku. Tahu kenapa? Pasti tahu apa sebabnya. Aku memberi semua untuknya, tetapi hanya satu kata yang kuminta. Menikah.
Namun, dia menolak dengan dalih belum siap. Apa aku siap? Tidak. Tapi aku memikirkan Ayah. Dia tidak boleh mendapatkan lebih banyak cemooh lagi.
“Kia, aku mohon terima saranku. Aku benar-benar belum siap. Aku masih ingin menjadi orang hebat, untuk kutunjukkan pada anakku nanti. Aku belum siap menjadi seorang ayah sekarang. Tolong mengerti.”
“Kamu yang harus mengerti, Ngga. Ini anak kamu. Kenapa kamu melakukannya kalau enggak mau tanggung jawab?” tegasku setengah berbisik.
Sama sekali di luar dugaan. Dia mengelak untuk bertanggung jawab, bahkan untuk darah dagingnya sendiri. Kelopak mata sudah memanas sejak tadi, kini merebak tak tertahan di hadapannya. Dia menatapku. Tatapannya memang tidak pernah tajam untukku. Selalu penuh kelembutan. Namun, aku tidak sedang mengharap itu. Aku hanya ingin dia mengikuti satu permintaan hari ini.
Menikah.
Dia mengulurkan tangan, meraih jemari ini, tetapi aku menepisnya. Tidak akan kubiarkan dia kembali menyentuh lagi. Rasa benci sudah mulai bersemi sejak saat dia menolak kehadiran calon anaknya sendiri. Ya, dia sendiri yang menyemai bibit kebencian itu lewat sikap abai pada masalah yang ada.
Aku tidak pernah menyesal mengenal dirinya. Dia mengajarkan banyak hal padaku. Namun, kesalahan terbesar dalam hidupku adalah percaya pada perkataannya. Percaya pada mulut manisnya.
Aku mundur beberapa langkah untuk menjauh darinya, lalu memutar tubuh dan melangkah pergi. Ternyata aku salah mengenali diri Angga yang sebenarnya.
“Kia, dengar aku dulu!” Dia menghadang langkahku. Tentu saja bukan hal sulit baginya yang memiliki langkah lebih besar dariku.
“Aku cinta sama kamu, Kia. Selamanya aku cinta sama kamu, tapi untuk sekarang aku nggak bisa. Tolong, aku bakal cari cara ....”
Aku menghentikan ucapannya dengan sebuah tamparan tipis di pipi. Tidak keras–sekadar untuk menyadarkannya. Tak ada kemarahan sedikit pun di matanya setelah menerima hantamanku. Mata elangnya masih menatapku teduh.
Ah, kenapa aku sama sekali tak bisa menahan desakan bah kecil di pelupuk mata. Dia mengangkat tangan. Perlahan menyapu jejak basah di pipiku. Kemudian mendekap tubuh ini erat, sangat erat. Sehingga membuatku tak berkutik, meski memberontak sepenuh tenaga.
“Maafin aku, Kia. Aku sudah menyakiti kamu. Aku tahu ini kesalahanku. Maaf, maafin aku,” ucapnya dengan suara parau. Aku tidak mengerti apa yang ada di hatinya sekarang. Mungkinkah dia akan berubah pikiran?
Dia melepaskan setelah aku tenang. Disapunya sisa air mata yang masih menjejak di pipiku. Seperti biasa, aku terhanyut lagi dengan perlakuan lembutnya.
“Tenang dulu, ya. Kita omongin lagi baik-baik, ya. Jangan pakai emosi, oke.”
Aku mengangguk. Penuh harap dia akan melakukan permintaanku itu–permintaan sederhana seorang wanita yang telah berhasil dia semai benih di dalam rahim.
“Kita menikah, 'kan, Ngga?” Aku tidak bisa lagi menahan tanya. Kuharap dia melihat tatapan penuh permohonan dariku. Namun, bulir mata merebak kembali setelah melihat dia menggelengkan kepala lagi.
“Aku akan bertanggung jawab dengan cara berbeda.”
Sungguh, dia sangat keras kepala. Aku membenci sikap keras kepalanya saat ini. Lewat sikap keras kepala itu dia pernah mengejarku dan hati ini luluh. Namun, dengan keras kepala pula dia seolah ingin membuangku dari kehidupannya.
Aku menghela napas panjang. “Oke ....”
Kuhapus air mataku dengan kasar. Rasanya percuma berbicara dengannya.
“Oke, pergilah ke mana pun kamu suka,” ucapku terakhir kali sebelum pergi membawa luka yang terlanjur meradang.
Aku tidak tahu ke mana harus membawa diri. Tiada tempat berbagi selama ini selain pada Angga dan Ayah. Aku hanya punya keduanya. Namun, salah satu sosoknya sudah kuanggap mati sejak saat ini. Aku kini hanya seonggok daging hina penuh dosa.
Bukan aku tidak memiliki teman untuk berbagi, tetapi memendam sendiri lebih baik daripada harus berbagi. Apa lagi orang yang selama ini kupercayakan untuk menggenggam harga diri, dia tak punya peduli. Sungguh, mulai saat ini hanya ada rasa kebencian yang tertanam di dalam sini untuk satu nama itu. Seperti kata orang, dinding pembatas antara cinta dan benci itu sangat tipis.
Ayah mana yang tidak marah saat menemukan anaknya salah jalan. Namun, semarah apa pun dia, akhirnya tetap merangkulku. Itulah Ayah, dia tidak pernah berubah.
“Tidak ada manusia yang tidak berbuat dosa. Ayah tidak akan tinggi hati dan sombong dengan mengatakan semua ini salahmu, seolah Ayah tidak pernah melakukan dosa. Ayah yang salah dalam mendidikmu, Ayah yang lupa membekalimu dengan ilmu agama. Ayah lupa memberimu perhatian lebih, sehingga kamu mencari perhatian dari orang lain." Suaranya terdengar berat, membuat luka di sana semakin mendalam.
“Maafin Kiara, Yah,” rengekku di depan lutut Ayah. Sudut matanya mengembun. Sungguh ini titik terendah untukku, aku tak pernah melihat dia menangis sebelumnya.
“Di mana laki-laki itu?” Suara Ayah kali ini terdengar bergetar.
Aku tahu dia sebenarnya memendam kemarahan. Sejujurnya aku tidak ingin lagi mengemis tanggung jawab pada pria itu, bahkan ingin melupakan namanya jika bisa.
Meskipun aku tidak mengatakan padanya, tetapi bukan hal sulit bagi Ayah untuk mencari keberadaan rumah pria itu. Namun, yang bersangkutan tidak di rumah saat kami datang. Hanya ada ibu dan adiknya.
Sejak masuk ke dalam rumahnya, aku hanya menunduk menyembunyikan wajah. Biarlah Ayah yang berbicara. Ayah memang begitu, hampir tak pernah menghadapi masalah dengan emosi.
Ibunya cukup syok saat mendengar penjelasan pria pahlawan hidupku itu. Wanita tengah baya itu mendekat dan duduk di sampingku, begitu Ayah menyampaikan niatnya. Dia memeluk tubuh mungilku, mengucapkan kata maaf berulang kali atas nama anaknya.
“Dia masih enggak bisa dihubungi, Ma,” ucap seorang yang datang dari dalam membuat wanita itu tampak semakin murung.
“Dia sudah tidak pulang sejak tiga hari ini.” Aku mendengar nada kegelisahan di sana.
“Aku sudah hubungi hampir semua temannya, tapi enggak ada yang tahu.” Kalimat itu membuatnya menarik napas berat.
Aku tahu, Angga pasti pergi karenaku. Mungkin dia sudah mengira bahwa kami akan mendatangi rumahnya untuk menuntut tanggung jawab. Jadi, benar dia ingin membuangku. Ah, sudahlah, biarkan saja dia pergi ke mana pun dia mau. Meskipun aku rapuh, tetapi tidak boleh hancur. Aku yakin mampu untuk melewati semua meski tanpa dirinya. Akan kubesarkan anak ini tanpa sosoknya. Tidak akan sulit bagiku.
Benar saja, satu bulan berlalu. Tidak ada kabar apa pun dari Angga. Mungkin inilah garis takdir yang harus dijalani. Pil pahit kehidupan yang harus kutelan karena kesalahan diri. Nasi telah menjadi bubur, menyesal tiada guna.
Satu bulan ini aku mengurung diri di rumah, tidak memiliki keberanian untuk melangkah ke mana pun. Keluar sebentar saja, rasanya seakan ribuan mata memandang dengan tatapan mengandung cemooh dan ejekan. Jangankan keluar rumah, melihat ponsel saja rasanya enggan. Ada banyak panggilan tak terjawab dari beberapa teman kuliah dan beberapa nomor baru, tetapi semua kuabaikan. Sungguh, rasanya tidak ingin terhubung lagi dengan dunia luar melalui apa pun. Aku benar-benar ingin sendiri saat ini.
Aku terkejut saat seseorang menghampiriku di kamar. Bukan Ayah. Dia seorang wanita paruh baya yang kukenal namanya dengan Ibu Amira–wanita yang dipanggil Mama oleh Angga. Dia tersenyum. Senyumannya penuh simpati.
Dengan tangan halusnya dia menyapu air mata yang menjejak di pipi. Nyatanya aku memang rapuh, tak setangguh yang kumau. Menjadi kuat hanyalah angan-angan
“Bersiaplah, Kiara. Kamu akan menikah dengan anakku,” ucapnya pelan, tetapi mampu membuatku terkejut. Mungkin dia melihat binar bahagia di mata ini. Sungguh, aku tidak mampu menutupi.
“Angga sudah pulang?” tanyaku setengah girang.
Gelengan di kepalanya membuatku menarik mundur senyum di bibir. Lalu apa maksudnya dia mengatakan bahwa aku akan menikah dengan putranya? Apakah artinya aku harus menikah dengan anaknya yang lain. Ah, bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Sungguh tidak adil untuknya bila itu terjadi.
“Tapi maaf, Nak, hanya pernikahan sederhana. Aerul tidak mau lebih dari itu.”
“Aerul?”
Seperti yang tadi kuduga, Bu Amira mengangguk pelan, tetapi penuh yakin. Entah kenapa aku melihat sisi yang berbeda dari orang tua ini.
“Dia pingin ngobrol sebentar dengan kamu sebelum kalian menikah.”
“Tapi, Bu ....”
“Maaf, saya nggak bisa buat Angga menikahi kamu, karena sampai sekarang kita nggak tahu dia ada di mana, tapi saya sebagai ibunya harus ikut bertanggung jawab atas kesalahan yang dia buat. Ini jalan satu-satunya, sebelum kandunganmu membesar.” Dia menjelaskan panjang lebar, membuatku sedikit terenyuh.
“Satu lagi, mulai sekarang panggil saya Mama.” Dia menatap lemah padaku. Aku tahu, mungkin dia terluka karena kelakuan anaknya, kemudian mengorbankan kebahagiaan anak yang lain. Aku tidak tahu, apakah dia sebagai ibu bersikap adil pada anak-anaknya? Namun, bagaimanapun aku juga harus berterima kasih karena pertolongannya. Demi Ayah, aku tidak ingin menolak tawaran ini.
Untuk menikahiku, Aerul memberikan syarat bahwa aku tidak boleh mencampuri urusan pribadinya. Dia mengatakan jika saat ini dia memiliki kekasih dan suatu saat akan menikahinya. Aku tidak punya pilihan selain menyetujui persyaratannya.
Ini bukan pernikahan kontrak seperti cerita di novel. Aku tidak pernah menandatangani apa pun. Atas kesadaran dan tahu diri aku menyetujui dan mengucapkan terima kasih.
Mereka membawaku ke rumah itu setelah menikah. Ya, aku meninggalkan Ayah sendiri di rumah. Meskipun yang kutahu Ayah lebih sering di kantornya daripada di rumah. Sekali seminggu dia mengunjungiku.
Untuk menghormati dia sebagai suami, aku memanggilnya dengan sebutan Mas Aerul. Sikapnya memang dingin, Tetapi dia memiliki kepedulian yang cukup besar. Walau aku bukan istri yang dia inginkan.
Aku sadar, diri ini hanyalah hati yang terbuang dan terabaikan. Bahkan Angga yang mengaku bahwa dia mencintai, meninggalkan begitu saja. Tanpa peduli bagaimana perasaan hati yang ditinggalkan ini.
Terserah saja, aku tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan dan ke mana dia pergi. Untuk saat ini aku akan lebih fokus pada perkembangan dan kehidupan kecil di dalam rahimku. Tak masalah jika tak pernah mengenal sosok ayahnya, yang penting aku selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik sebagai ibu.
Ibu mertua? Dia memperlakukanku seperti anaknya sendiri sejak pertama masuk ke rumah ini. Bersamanya, aku seperti mendapatkan Ibu pengganti. Kasih sayang seorang ibu yang tak pernah kudapat sejak kecil kini aku mendapatkan dari dirinya. Dia seperti wanita berhati emas. Aku beruntung, sungguh beruntung. Wanita yang ingin disapa dengan sebutan Mama itu ternyata sangat menghargaiku.
Entah ini permainan takdir atau apa, Ayah jatuh sakit setelah Kinan lahir. Aku baru menyadari, dia sibuk bekerja bukan hanya melupakan semua masalah yang mendera, tetapi juga melupakan kesehatannya. Sungguh, aku merasa tidak berguna sebagai anak. Sebelum menghembuskan napas terakhir, dia menyaksikan pernikahan keduaku dengan Mas Aerul. Ya, itu permintaan terakhirnya–Mas Aerul mengucap ijab kabul setelah anakku terlahir.
Aku menangis di pelukan Mas Aerul saat itu. Untuk pertama kalinya, di hari pertama pernikahan kami menjadi sah di mata Allah, juga di hari terakhir ayahku melihat dunia.
Ya Tuhan, jangan siksa Ayah atas dosa yang kubuat.
Aku pikir setelah kelahiran Kinan, hubungan dengan keluarga ini akan selesai. Namun, tidak. Ayah membuat hubungan baru dengan Mas Aerul, dan Mama membuat hubungan yang lebih dekat denganku.
Mas Aerul dan Mama menguatkan di kala rasa kehilangan, hingga rasa kosong di hati tak berlangsung begitu lama.