Mengejar Hatinya, Bolehkah?

1102 Kata
Aku mengintip Kinan yang sudah kembali tertidur dalam dekapan. Rasa penasaran yang menelisik hati dan membuatku bangun. Ingin melihat keadaan di luar sana. Walau sebenarnya hati bimbang, karena Mas Aerul sudah berpesan agar aku tetap di kamar. Namun, rasa ingin tahu sungguh sangat mengganggu. Aku melangkah dengan mengendap-endap mencari sumber suara yang masih terdengar samar-samar setelah keluar dari kamar. “Tolong, Ngga. Jangan selalu menyudutkan mama seperti ini. Bukankah kamu pergi atas kemauan sendiri?” Aku melihat Angga yang menundukkan kepala sambil mengurut pelipisnya. Dia kemudian menatap lekat pada Mama, kurasa sebuah tatapan tajam. Tanpa mengindahkan ucapan adiknya, dia berdiri dan beranjak pergi. Mama mengejar langkahnya, kemudian menggamit lengan pria itu. “Jangan pergi lagi, Nak. Jangan pergi! Ini rumahmu. Tolong buka hati untuk keluargamu sendiri! Kalau bukan kami yang kau anggap keluarga, lalu siapa?” Kulihat Mama menangis. Namun, Angga terlihat tak acuh. Aku sungguh tidak mengerti arah pembicaraan mereka, mungkin aku juga tak pantas untuk mengerti lebih dalam. Semakin tidak memahami keluarga ini, semakin merasa jika aku memang bukan apa-apa di rumah ini. Apalagi yang kutahu bahwa Mas Aerul sudah memiliki pendamping yang dia inginkan. Mungkin sudah waktunya aku harus berdiri sendiri mengandalkan kekuatan sendiri. Tanpa kusadari ternyata Mas Aerul sudah berada di hadapanku. Secepat kilat aku menepis air mata yang tadi tak sengaja terjatuh. Dia meraih pergelangan tangan kemudian membawaku pergi dari tempat berdiri. Dia membawaku kembali ke kamar. “Bukannya tadi aku sudah bilang kamu jangan keluar?” pertanyaan Mas Aerul semakin membuat tersadar bahwa aku bukan siapa-siapa di keluarga ini. Aku hanya menundukkan kepala sambil berusaha mencari alasan yang tepat.. Mungkin aku memang salah, tetapi bukankah mereka juga bermasalah karena aku? “Maaf, Mas,” ucapku pelan sambil menunduk. Dia terdengar menghela napas berat. Sungguh aku tak mampu menatapnya. “Mas, aku ... aku ingin tinggal di rumah peninggalan Ayah saja,” ucapku lagi. Kedatangan Angga hari ini sungguh membuka luka lama untukku. Entah mengapa aku merasa rumah ini bukan tempatku lagi. Lagi pula, Mas Aerul juga jarang di rumah. “Tapi kamu sama siapa di sana? Mama nggak akan izinin,” jawabnya kemudian. Mama? Bagaimana dengan kamu, Mas? “Tapi aku ....” “Aku tahu, tapi aku nggak mungkin biarkan kalian hanya tinggal berdua di sana.” “Kenapa?” Sungguh aku tidak dapat menahan untuk tidak bertanya alasan dia melarang. Dia menatapku sesaat, benar-benar menatap. Dalam. Aku tak percaya tatapan lembut itu dia kirimkan untukku. “Karena kalian tanggung jawabku,” jawabnya pelan kemudian. Lagi, dia membicarakan hal yang tak biasa. Tanggung jawab? Aku hampir saja membuka lebar mulutku jika tidak dapat mengontrol diri. “Mas, kalau kamu terbebani dengan tanggung jawab itu, lepaskan saja. Biar kamu tenang.” Entahlah, aku ingin sekali memancingnya. “Kenapa? Kamu masih mengharapkan dia?” timpalnya kemudian. Belakangan aku merasa dia lebih banyak bicara, sungguh. Namun, aku menyukainya. Aku ingin dia tahu, hanya dia yang selalu kuharap kehadirannya sekarang. Entah apa yang tengah dia cari, tetapi dia menatap mata ini lama. Pupil matanya bergerak seakan berkeliling memutari wajahku. Kuberanikan diri untuk menggeleng. Ingin kukatakan bahwa hanya dirinya yang kunanti selama ini, aku hanya ingin mengejar yang pasti. Hatinya. Namun, seakan bertulang sendi mati, lidah ini terasa kaku. Keberanian itu seakan tidak pernah mendekat. Apalagi dia tidak berhenti menatap sejak tadi. Aku semakin hanyut dalam telaga bening dan teduh yang dia hadirkan. Apakah dia juga kerap memberikan tatapan yang sama untuk Riyana? Ah, kenapa nama itu tiba-tiba muncul dalam benakku. Bunyi ponselnya memecahkan keheningan yang ada di antara kami. Dengan cepat segera meraih benda pipih itu. Aku membuang muka saat melihat foto pernikahannya dengan Riyana memenuhi layar ponsel. Ah, ada apa denganku? Sejenak tadi lupa jika dia memiliki istri yang lain selain diriku. Aku beranjak ingin meninggalkan dia agar lebih leluasa berbicara dengan sang permaisuri hati, karena sejak tadi dia hanya mendengarkan Riyana berbicara di sana. Pria berjambang tipis itu hanya menjawab sekedarnya dan tidak banyak bicara–tidak lebih dari kata “iya” atau “oke”. Oh ya, kenapa Mas Aerul membiarkan jambangnya tumbuh?Biasanya dia tidak pernah lupa mencukur bersih. Pria itu berhasil membuatku terkejut dengan meraih pergelangan tangan dan menahan untuk pergi. Aku bergeming. Merasakan jemari dinginnya menyentuh. Apa lagi ini? Sebenarnya apa yang dia inginkan? Kumohon, Mas, jangan lakukan jika ini hanya harapan semu. Ya Allah, beri aku jawaban pertanda apa ini. “Iya. Wa’alaikumsalam.” Aku masih mendengar ucapan terakhirnya sebelum dia meletakkan ponselnya kembali. “Tetaplah di rumah ini, Ki, jangan ke mana-mana.” Ucapannya terdengar lembut kali ini. Aku tidak tahu pasti, memang benar seperti itu atau hanya diri ini yang tengah terbuai. Ya Tuhan, ada apa dengan diriku, semudah itu aku terlena dengan setiap tingkahnya. “Jangan khawatir dengan kehadiran Angga, untuk beberapa hari aku akan di sini.” Bisa dibayangkan bagaimana hatiku bersorak gembira dan tak tahu malu saat ini. Namun, ada tanda tanya di kepala yang harus segera di tuntaskan. “Riyana gimana, Mas?” “Dia menginap di rumah orang tuanya beberapa hari,” jawabnya singkat. “Mas nggak mau ikut nginap di sana?” Mas Aerul mengangkat bahu. “Dia nggak izinin.” Lalu menjawab ringan. Entah mengapa aku membaca ada yang aneh dari Mas Aerul dan istrinya itu. “Kalian baik-baik saja?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir ini. Anggukannya cukup membuatku seperti menanggung nyeri di dalam sini. Bukannya berharap mereka tidak bahagia, tetapi setidaknya aku juga ingin bahagia. Bolehkah? Perlahan aku menepis cekalan tangannya di pergelangan, tetapi dia tidak melepaskan begitu saja. Aku menatapnya penuh tanya. “Mas?” “Ki,” panggilnya pelan dan seakan tersekat. Tangannya masih belum melepasku. Aku mendengar embusan napasnya yang berat dan dalam. Aku merasa dia sedang menanggung beban, entah apa. Di luar dugaan dia menarik tubuh ini, melabuhkan diri kami dalam sebuah pelukan yang dia mulai. Aku hampir tak percaya, dia berhasil membuat jantungku hampir melompat dan lepas dari tempatnya. “Maaf, aku terlambat menyadari,” ucapnya parau setengah berbisik. “Mas, ada apa?” tanyaku pelan, aku memang belum memahami sepenuhnya. Tidak akan kubiarkan hati ini hanya menduga-duga. “Aku bahkan tidak bisa memahami sendiri keinginan hati yang sebenarnya, tapi ... jarak yang membuatku sadar kalau belakangan aku merindukanmu, Ki.” Kalimat terakhirnya sukses membuat ritme jantungku semakin bertambah. Benarkah yang kudengar ini? Aku yang salah menyimpulkan makna ucapannya atau memang hati yang mudah tergoda dan terbuai? Namun, tahu apa yang terjadi? Dia mengeratkan pelukan kami, membenamkan wajahnya di bahuku. Sekali lagi, aku hampir tak percaya. Bolehkah aku berharap, setelah ini aku tak perlu lagi menghitung berapa kali dia akan memelukku? Bolehkah aku mulai mengejarnya saat ini? mengejar hatinya untuk kumiliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN