Sebuah Pengakuan

1081 Kata
Rasanya ingin bilang aku juga rindu, tetapi keberanian seolah sirna sebelum hadir. Belum kupastikan apa yang dikatakan benar-benar tulus dari hatinya atau hanya pelampiasan karena permaisurinya kini lebih memilih menginap di rumah orang tuanya ketimbang kembali ke rumah mereka. Sesaat tubuh ini terasa melayang ringan menggapai langit-langit ketika sesuatu yang lembut miliknya mendarat sempurna di keningku. Untuk pertama kali selama tiga tahun ini. Aku tidak percaya bahwa aku benar-benar mendapatkannya. Entahlah, aku tidak bisa membayangkan atau menjabarkan bagaimana riangnya hati yang selama ini tak berbalas rasa. Tidak ingin berhiperbola, karena nyatanya aku bahagia. Cukup. Aku bahagia, itu saja. Hanya berharap ini bukan mimpi, atau khayalan saja. Dia kembali membawa tubuhku ke dalam pelukannya. “Ki, perasaan ini semakin nyata saat dia hadir kembali di hadapanmu. Aku ... aku takut kamu kembali sama dia.” Berapa lama mulut ini terus terkunci, seakan enggan untuk mencari satu kata saja. “Berjanjilah, Ki. Kamu nggak akan kembali pada Angga.” Sebuah permintaan kudengar dari mulutnya. Bukan, dia seperti memohon. Ah, apa dia cemburu? Dia melerai pelukan kami, memegang kedua bahuku. Aku menundukkan wajah, merasakan kelopak yang memanas karena rasa haru, juga rasa tak percaya, dan rasa khawatir bahwa ini hanya sementara. “Apa ini, Mas?” Ah, pertanyaan apa ini? Tidak ada kata lainkah yang bisa kucipta? Bukankah seharusnya mengatakan jika aku juga merindukannya? “Kamu belum mengerti juga, Ki?” Dia menatapku lagi. Ya, lagi-lagi. “Aku ... aku ingin menjadi suami yang sesungguhnya buat kamu,” ucapnya pelan dan begitu dekat. Napas hangatnya menerpa wajahku. Aku tidak percaya kalimat itu benar-benar terucap olehnya. Rasanya tidak mungkin telingaku salah mendengar. “Apa?” Kumohon katakan sekali lagi. Buat hati ini yakin bahwa dia tidak sedang berhalusinasi ada Riyana di hadapannya. Ah, mengingat namanya saja membuatku begitu sakit. “Aku bukan Riyana, Mas,” ucapku berusaha membuatnya sadar. Dia menggeleng. “Aku tahu, aku sedang berbicara dengan Kiara, istriku. Apa aku salah?” jawabnya segera. “Mas ....” Aku menepis tangannya perlahan dari kedua bahu. Kemudian membuang muka, menghindari tatapan yang sungguh melumpuhkan hati. Aku terduduk di tepi ranjang, rasa gugup tak mampu membuatku terlalu lama berdiri. Sementara hati terus bersenandika, di satu sisi meragukan perasaannya, bisa saja dia seperti ini karena ditinggal si permaisuri. Atau karena rasa ego yang tidak mau kalah dari Angga. Ah, jahatnya pikiranku. Di sisi yang lain mengatakan bahwa dia memang benar-benar tulus. Rasa itu tumbuh karena kami terbiasa. Apalagi belakangan sebelum pernikahan Mama menyita kunci kamarnya beberapa hari terakhir. “Kenapa? Kamu nggak menginginkannya, Kiara?” cecarnya. Dia duduk di hadapanku–di bawah–menghadap lututku. Cepat aku meluruhkan tubuh, menyejajarkan dengan tubuhnya. Tentu saja aku menginginkannya, tetapi ini terlalu mengejutkan. Dia meraih tanganku yang dingin, menggenggam dengan tangannya yang juga dingin. Apakah dia sama gugupnya denganku? Satu tangan lagi mencoba menyentuh pipiku. Aku memberikan diri membalas tatapannya yang menyiratkan pesan di sana. “Boleh aku juga mencintaimu, Ki?” Pelan kudengar dia mengucapkan aksara sakti itu. Aku menahan gemuruh hati semampunya. Bagaimana tidak? Aku seakan tersihir dengan ucapannya. Perasaan ini menjadi semakin tak menentu. Aku terus mencoba mengeja makna ucapannya. Sungguh otakku seakan tak mampu berpikir dengan baik. Bahkan napas ini juga tidak sedang baik-baik saja. Belum lagi jantung sejak tadi seolah bukan lagi berdetak, tetapi bertabuh seperti genderang. “Ki, katakan sesuatu. Aku mau dengar,” ucapnya lagi. Kucoba menarik napas panjang, aku yakin dia dapat merasakan embusannya, karena jarak kami dekat sekali. Aku masih bergeming, menggigit bibir sendiri, seakan kehabisan kosakata untuk sekedar menjawab keresahannya. Bukankah sejak lama aku menginginkan ini? Dia mendekatkan wajahnya padaku, sedikit bergerak ke samping kanan dan meninggalkan jejak manis di pipi. Membuatku menahan napas demi merasakan sentuhan yang sejak lama kunanti. Mungkin semu merah di wajahku terlihat jelas olehnya. “Mudah-mudahan enggak ada lagi keraguan di hatimu jika aku sungguh-sungguh. Aku benar-benar nggak mau kehilangan kalian. Berjanjilah untuk selalu bersamaku apa pun yang terjadi,” bisiknya kemudian. Dia terlihat begitu tenang mengatakan itu semua. Sementara aku, hanya terus membisu, mencoba merangkai makna dari setiap aksara yang dia cipta. “Ki,” ucapnya lagi. Aku menarik napas panjang. “Mas ...,” bisikku pelan, ada titik haru yang tak mampu kutahan dan bergulir begitu saja. Dia bergerak cepat menyambutnya dengan satu sekaan halus. “Mas sungguh-sungguh?” “Apa menurutmu aku bohong?” Aku menggeleng. “Tapi Riyana ...?” Seketika dia menunduk. “Mas Aerul punya Riyana sang permaisuri dan aku siapa?” Ada rasa nyeri kurasakan saat mengucapkan kalimat ini. Mudah-mudahan dia tidak terluka dengan pertanyaanku. Dia mendongak, kembali menatapku, menyiratkan kelembutan di sana. Aku tenggelam lagi dalam beningnya telaga kecil yang menyejukkan di sana. “Kamu istriku dan kamu milikku,” bisiknya lagi. “Kamu yang lebih memahamiku selama ini. Maaf, aku salah ....” Dia menghela napas panjang. “Maaf, aku belum bisa bahas ini lebih jauh lagi. Tapi aku ingin kamu tahu, aku jatuh cinta denganmu, Ki.” Aku kembali membisu. Tuluskah dia? Atau ini hanya perasaan sesaat? Bagaimana aku bisa percaya begitu saja? Tiga tahun aku berusaha meraih hatinya, berusaha membuatnya jatuh cinta, tetapi hatinya seakan terlanjur tertutup rapat oleh nama seseorang. Lalu sekarang? Dia bilang jatuh cinta padaku, setelah dia mengikrarkan sumpah pernikahan dengan gadis yang dicintainya. Ah, aku kembali meragukan perkataannya. Sejenak kami sibuk dengan isi kepala masing-masing, tanpa suara. Sampai akhirnya panggilan kecil Kinan memecahkan keheningan dan berhasil mencairkan suasana di antara kami. Tanpa melepaskan tautan jemari kami, dia mendekati Kinan. Aku hanya menatap pada mereka yang saling melepas rindu. Saat Mas Aerul pulang tadi Kinan sudah tertidur, membuat anak ini seakan lupa denganku saat bersama pria itu. Entahlah, kedekatan mereka tidak bisa kugambarkan seperti apa. Aku pun sibuk mengendalikan hati yang terus bersenandika, mengeja rasa yang dia coba tunjukkan. Sesibuk-sibuknya dia mencandai Kinan, jemariku terus dia semayamkan dalam genggamannya. Terakhir dia mengajak kami keluar. Aku pamit untuk Salat Ashar terlebih dulu. Setelah semua siap, dia membawa Kinan dalam gendongannya. Aku mengikuti dari belakang, sesekali menoleh ke kanan dan kiri sambil berharap tidak akan bertemu dengan laki-laki itu. Aku tersadar saat dia berhenti dan menunggu karena mungkin langkahku terlalu melamban. Mas Aerul kemudian meraih tanganku dan menjajarkan langkah kami menuju pintu depan. Langkahnya melamban saat kami sampai di teras, seseorang berdiri sambil menatap kami. Terakhir dia memasatkan tatapannya padaku. Orang yang tadi kuhindari saat ini berada di depan mata dan berjalan mendekat padaku, membuat kaki ini refleks mundur dan berdiri di belakang separuh punggung Mas Aerul. “Kia, aku mau ngomong sebentar?” Aku bergeming, sama sekali tidak ingin menjawab.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN