Perubahan

1252 Kata
“Kia, Please. Sebentar saja. Aku janji enggak macam-macam,” tambahnya lagi. Aku menggeleng. Tatapannya masih seperti dulu, tetapi tak ada getaran apa pun di dalam sini. Selain rasa muak dan kebencian yang tetap menjulang, tiada yang tersisa. “Kia, tolong maafin aku. Beri aku kesempatan kedua. Aku nggak akan sia-siakan kamu lagi. Kita mulai dari awal lagi, kamu mau, ‘kan? Tinggalkan dia, Kia. Kamu juga enggak cinta, ‘kan, sa ... ma ....” “Ayah, ayo,” ucap Kinan pelan pada Mas Aerul. Ia protes karena merasa kami terlalu lama berhenti. Suara kecil itu berhasil membungkam mulut Angga seketika. Kini perhatiannya beralih pada bocah mungil dalam gendongan Mas Aerul itu. Lalu kembali ke arahku sesaat. “Dia ... dia putriku, ‘kan?” ucapnya sambil kembali menatap pada Kinan. Kinan yang tadi mengoceh pada Mas Aerul tiba-tiba terdiam menatap padanya. Aku menangkap senyuman tersungging di bibirnya untuk putri kecilku. Kinan yang biasanya takut pada orang baru, entah mengapa menyambut senyuman itu, sembari tetap mengeratkan rangkulannya pada orang yang dia sapa Ayah. Aku mendorong pelan tubuh Mas Aerul agar kembali berjalan. Dia menurut, mengabaikan Angga yang hanya mengikuti kami dengan pandangan. Apa sekarang dia merasa diabaikan? Biarkan saja. Apa yang dia dapatkan sekarang belum sebanding dengan lukaku yang dia beri. Meski luka itu sudah mengering, tetapi bekasnya masih terlihat jelas. Kelopakku kembali memanas mengingat masa itu. Segera kusapu sebelum menyentuh pipi. Kami sudah duduk di mobil Mas Aerul. Kinan duduk di pangkuanku, sibuk memainkan boneka Barbie yang sempat dia bawa. “Ki,” serunya pelan. Dia masih belum mulai menjalankan kendaraannya. Aku menoleh, berharap dia tak melihat mataku yang mengembun dan mungkin memerah. “Jangan biarkan Kinan melihat kelemahan ibunya,” tambahnya lagi setengah berbisik. Mas Aerul benar, aku lemah. “Makasih, Mas,” ucapku lemah. Mencoba melukiskan senyum semampunya. Sore ini dia benar-benar membuatku lupa bahwa dia memiliki wanita yang lain di hatinya. Sikapnya benar-benar manis kali ini. Tak lagi dingin dan berbicara seperlunya padaku. Sekali lagi dia lebih banyak bicara. Dia berhasil membuatku lupa tentang semua masalah yang datang hari ini. Biasanya mereka hanya pergi berdua. Tidak seperti hari ini dia mengajakku ikut serta. Apakah ini berarti bahwa yang dia katakan tadi adalah sungguhan? Aku duduk di sofa tunggu mengamati Mas Aerul yang menemani Kinan bermain di playground sebuah mal di kota ini. Aku pamit padanya saat tahu sudah masuk waktu Magrib. Dia mengangguk kemudian menunjuk ke arah jalan menuju mushala. Setelah usai melaksanakan kewajiban sebagai makhluk Tuhan, aku segera menyusul mereka kembali. Namun, aku terhenti saat tiba-tiba seseorang berdiri di hadapan, membuat denyut nadi semakin cepat. Aku hanya menatapnya datar untuk sesaat, kemudian membuang pandangan pada yang lain. Ternyata dia mengikuti kami sejak tadi. Sungguh, apa dia tidak memiliki pekerjaan selain menguntit? Aku menghela napas kasar, kemudian berputar arah untuk menghindarinya. Tidak masalah bila harus berjalan lebih jauh. Namun, begitu mudah dia menyusul dan menjajari langkahku. Aku mempercepat langkah. “Kia, kamu benaran lebih cantik pakai hijab sekarang.” Ucapannya sama sekali tidak kuhiraukan. Sepanjang jalan dia tak berhenti berbicara. Dia bebas untuk bicara apa pun, aku pun bebas untuk tidak menjawab. Dulu, pipiku akan memanas bila dia mengatakan diri ini cantik. Sekarang aku membenci kalimat itu darinya. “Kia, dulu kita saling mencintai. Kenapa sekarang seperti ini?” protesnya kemudian, karena merasa terabaikan. Aku berhenti, kembali menghela napas kasar. “Jangan samakan dulu dan sekarang. Rasa cinta itu kamu sendiri yang menghancurkan, Ngga, dan enggak akan pernah terbentuk kembali. Jangan sia-siakan waktumu berharap akan kembali utuh. Aku bukan yang dulu lagi. Tolong, Ngga. Kisah kita sudah lama usai,” ucapku panjang. Dia tersenyum. “Kamu masih seperti dulu, suka berpuitis kalau ngomong.” Aku menyeringai tipis mendengar bualannya. “Tolong jawab pertanyaanku, sekali saja, mungkin ini yang terakhir, dan aku enggak akan ganggu kamu lagi kalau kamu jawab,” tambahnya lagi. “Kamu ... mencintai Aerul?” tanyanya pelan. Aku mencintainya lebih dalam daripada cintaku untukmu dulu. “Iya, melebihi cintaku yang dulu,” jawabku pelan, tetapi penuh penekanan. “Oke.” Dia mengangguk. “Semoga bahagia,” lanjutnya lagi. Mungkin dia akan menertawakanku bila tahu keadaan yang sebenarnya. Aku melanjutkan langkah, membiarkan dia yang masih mematung di sana. Saat sampai di tempat Kinan dan Mas Aerul bermain, aku tidak menemukan mereka. Menoleh ke segala arah, tetapi tidak ada mereka di antara keramaian. Aku menyesal mengapa tadi tidak membawa ponsel saat meninggalkan rumah. Mungkin Mas Aerul mencariku tadi, tetapi karena melewati jalur yang berbeda jadi tidak bertemu. Aku duduk di sofa yang sama dekat playground tadi. Mungkin lebih baik menunggu di sini. “Udah dari tadi?” “Hm?” Aku terkesiap saat tiba-tiba Mas Aerul duduk di sebelah. “Lumayan ... kalian dari mana?” “Salat,” jawabnya singkat sambil menurunkan Kinan dari pangkuannya. Aku menatapnya tak percaya. Dia benar-benar berubah, sebelumnya dia jarang melaksanakan salat. Apa lagi bila di luar rumah. Bahkan tadi sebelum pergi dia juga salat setelah diriku. Aku menarik senyum lagi, ada larik bahagia berduyun-duyun menyusup ke dalam jiwa. Aku senang dengan perubahan yang dia tunjukkan. “Kita makan dulu, baru pulang,” ucapnya lagi kemudian berdiri. Kini dia membiarkan Kinan jalan sendiri dalam gandengannya di antara kami. “Ki.” Aku menoleh demi menyambut seruannya. Dia menunjuk tangan Kinan yang tanpa kusadari menunggu tanganku menyambutnya. Aku menyesal, begitu tidak peka terhadap putriku kali ini, karena sibuk dengan perasaan sendiri. Kini putri kecilku berjalan di antara kami, dengan kedua tangan menggandeng tanganku dan Mas Aerul–orang yang dia sebut ayah. Sekilas kami tampak seperti keluarga kecil bahagia. Kinan menarik tangan kami seolah sedang menunjukkan jalan. Aku menatap pada pria di sebelahku. “Jangan kaget, habis ini ada satu lagi yang dia minta.” Ah, dia mengerlingkan mata padaku. Kali ini dia lebih tahu kebiasaan Kinan daripada ibunya sendiri. “Apa?” Refleks aku bertanya. Sambil mengamati Kinan yang menuntun langkah kami. “Kita lihat aja,” jawabnya kemudian sambil melempar senyum. Aku terkejut, Kinan tiba-tiba berlari saat kami hampir sampai pada sebuah loket penyewaan mobil mini. Refleks aku ikut berlari, tetapi Mas Aerul mencegah. “Enggak apa-apa, itu yang jagain udah kenal sama Kinan.” “Berapa kali nih, Mas?” Seorang pemuda menoleh pada Mas Aerul, kemudian menoleh padaku sekilas sambil menganggukkan kepala setelah mendapatkan jawaban dari Mas Aerul. Mas Aerul, menggandengku menuju food court yang tidak jauh dari loket. “Mas ngajak aku jalan juga, enggak takut ketahuan sama Riyana?” Pertanyaan itu akhirnya kulontarkan, tak tertahan lagi. Sesaat garis wajahnya berubah. “Jangan bahas itu dulu, bisa?” Dia menatapku datar. Ya Tuhan, apa yang ada di dalam pikiran pria ini sebenarnya. Panjang angan-angan ini ingin menggapai isi hati Mas Aerul yang sebenarnya. Siapa nama yang tertulis di sana saat ini. Ah, tentu saja nama Riyana yang masih menempati, tetapi mengapa dia memperlakukanku berbeda saat ini. Apa dia benar-benar akan membagi cinta? Ini lebih sulit bagiku. Aku lebih suka mencintainya dalam diam daripada dia membagi rasa. Dia benar-benar memperlihatkan perubahan drastis yang membuatku bingung. Sisi berbeda yang tak pernah dia perlihatkan di hadapanku kini dia seolah sengaja menunjukkannya dengan nyata. “Aku ingin menebus semuanya mulai sekarang.” Itu jawaban yang kuterima saat melihat kebingunganku. Dia seakan lupa pada Riyana untuk sesaat. “Apa kamu bisa memaafkanku, Ki?” tanyanya sambil menggenggam tanganku yang sudah dingin. Aku membuang jauh pandangan darinya, dia benar-benar membuatku gugup. Namun, ekor mata berhenti di sana–sosok yang mengamati kami dari jauh sejak tadi–dia melemparkan senyum melambaikan tangan saat aku menemukannya. “Ki.” Mas Aerul kembali mengejutkanku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN