“Hah? Iya, Mas ... Maaf, tadi ngomong apa?” Aku benar-benar lupa apa yang dia katakan tadi. Semua karena sosok Angga yang tiba-tiba kutemukan menatap dari kejauhan.
Bukannya menjawab, dia memutar kepala mengikuti jejak pandanganku tadi, tetapi tak ada siapa pun lagi di sana. Pria itu sudah beranjak pergi beberapa detik lalu, kuharap dia benar-benar berhenti mengejarku.
“Hmmm, tolong maafin aku!” ucapnya kemudian.
“Kesalahan apa yang harus kumaafkan, Mas?” Aku balas bertanya.
“Kesalahan karena telah mengabaikanmu,” jawabnya cepat.
Aku menggeleng. Itu bukan kesalahannya, tetapi memang aku yang harus sadar diri bagaimana posisiku di hatinya. Sebelum ini aku sudah mencoba meyakinkan dan menguatkan hati, bahkan mempersiapkan diri saat bila dia menunjukkan kemesraan dengan si permaisuri di depan mata.
Mas Aerul membawa kami pulang setelah Kinan kembali dan ikut makan bersama. Anak itu terlihat begitu gembira, dia bahkan tertidur dalam gendongan Mas Aerul saat kami keluar dari gedung raksasa itu. Aku juga melihat senyum pria itu begitu lepas.
Beberapa hari ini dia pulang ke rumah dan menginap, mungkin Riyana masih di rumah orang tuanya. Aku tidak tahu pasti, tetapi juga tidak ingin bertanya.
***
Waktu berlalu, Mas Aerul tidak pulang ke rumah selama beberapa hari–menyadarkan kembali akan kenyataan tentang keberadaanku di hatinya. Selain itu belum pernah terjadi apa pun di antara kami–membuatku untuk lebih meyakinkan diri tentang satu hal. Aku masih terabaikan.
Aku yang sudah terbiasa dengan rengekan Kinan karena merindukan kehadirannya memang tidak pernah mempermasalahkan–hanya Mama yang mulai berkomentar mengeluhkan sikap anaknya. Meskipun sebenarnya hati penuh tanya, tentang kejujuran hati suamiku itu. Ya, aku meragukannya, untuk ke sekian kali.
Keraguan semakin menggunung hari ini. Bagaimana tidak, tepat di akhir pekan, dia datang saat Kinan tidur siang. Tidak sendiri, melainkan bersama Riyana sang permaisuri yang tak melepaskan gamitan tangannya dari lengan Mas Aerul.
Terkadang aku membenci perasaanku sendiri. Entah sampai kapan aku harus bertahan dengan rasa sakit yang menggigit. Membuat bongkahan merah milikku merasakan perih yang semakin nyata. Awalnya Mama menyuruhku untuk masuk ke kamar dan tidak usah keluar. Namun, Riyana menyusul dan memintaku untuk makan bersama mereka.
Aku merasakan gemuruh yang tidak biasa di dalam sana. Kenapa dia harus membawa Riyana ke rumah ini. Apa Mas Aerul benar-benar mengira bahwa aku seorang yang tanpa emosi? Aku sama sekali tak mengizinkan mata ini untuk sekedar meliriknya, meski tahu sejak tadi dia terus berusaha mencuri pandang ke arahku.
“Mbak Kiara apa kabar?” tanya Riyana berusaha mengakrabkan diri. Seperti yang pernah kukatakan di awal, Riyana mudah membawa diri di mana pun. Berbeda dengan diriku yang cenderung menutup diri. Entahlah, kedatangan Riyana kali ini begitu tidak mudah untuk kuhadapi dengan sikap biasa.
Kehadirannya seolah membuat semangatku tiba-tiba patah. Keinginan untuk membuat mimpi menjadi nyata seolah sirna. Bahkan aku seolah kalah tanpa ada peperangan.
Mas Aerul benar-benar membuatku ingin menyerah pada sebuah pernikahan. Namun, ada yang aneh dengan pria itu hari ini. Dia lebih banyak diam.
Kami duduk mengelilingi meja makan. Hidangan yang dibawa Riyana telah kusiapkan dengan bantuan perempuan itu dan Mama. Suasana makan siang terasa canggung–mungkin hanya bagiku. Sesekali aku bertemu pandang pada Mas Aerul. Sesaat tatapannya membuatku menunduk lama.
“Mbak Kiara kenapa. Lagi enggak sehat, ya?” tanya Riyana tiba-tiba sambil melihat ke arahku.
“Hah?” aku terkesiap dibuatnya. “Iya, cuman sedikit pusing aja, Kinan rewel semalaman.” Aku beralasan, tetapi yang sebenarnya adalah hati yang sedang tidak sehat.
“Istirahat saja. Nak. Biar Mama urusin.” Mama menimpali.
“Kinan kenapa, Ki?” Suara Mas Aerul akhirnya kudengar. Namun, ada yang aneh dengan suara itu.
Riyana tampak bingung dengan menautkan kedua alisnya.
“Mas, kok gitu sih manggil Mbak Kiara?"
Refleks kami saling menatap, tetapi hanya beberapa detik. Aku lebih memilih menunduk, tidak ingin membuatnya bingung di depan permaisurinya itu.
“Iya, udah biasa,” jawabnya singkat–sedikit dingin dan cuek menurutku.
Ini tidak biasa. Sebelum menikah bahkan mereka begitu mesra.
Riyana tidak protes, melanjutkan makan meskipun ada kekecewaan yang terbaca dari raut wajahnya. Entahlah, sepertinya ada sesuatu di antara mereka.
Ah, itu masalah mereka. Bukan ranahku untuk memikirkan.
“Mbak, aku mau nanya sesuatu, boleh?” tiba-tiba suara Riyana membuyarkan isi pikiranku. Kami hanya tinggal berdua. Mama meminta Mas Aerul menemuinya di kamar.
“Iya, tanya apa?” Aku balik bertanya.
“Mbak Kiara sama Mas Angga pernah berantem enggak?”
Pertanyaannya membuatku menelan saliva secara mendadak–hampir tersedak. Ini aneh sekali, meskipun begitu dengan cepat aku mengendalikan situasi. Bukankah di hadapannya aku adalah istri Angga?–ipar Mas Aerul lebih tepatnya.
“Pernah, dong,” jawabku asal saja.
Aku pernah membaca bahwa setiap rumah tangga pasti memiliki masalah di dalamnya. Mama juga bilang begitu. Masing-masing memiliki porsi masalah yang berbeda. Perbedaan pendapat menjadi bumbu pelengkap dalam sebuah rumah tangga. Namun, aku sadar, rumah tangga yang kujalani saat ini bukan rumah tangga yang sebenarnya. Setidaknya aku memang merasa begitu. Entahlah.
Aku menangkap sosok Angga muncul dari depan, dia tampak heran melihat keberadaan wanita di sebelahku.
“Riyana? Kamu di sini?” tanyanya heran.
Aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi. Selama ini Angga tidak tahu bahwa Riyana dan Mas Aerul sudah menikah.
“Iya, Mas. Mas Angga apa kabar? Udah lama enggak ketemu, ya.” Senyum Riyana mengembang. “Omong-omong, sebenarnya kemarin ke mana aja? Kok n
enggak datang di acara nikahan aku sama Mas Aerul? Kasihan juga loh Mbak Kiara ditinggal terus,” ucap Riyana panjang.
Angga melempar pandang padaku. Seakan mengklarifikasi atas apa yang dia dengar. Aku tidak bereaksi apa pun.
Angga bukan tipe orang yang pintar menyembunyikan ekspresi. Aku melihat rona kemarahan di wajahnya.
“Aerul mana?” tanyanya dingin.
Aku bergeming. Kuharap Riyana pun begitu.
“Di kamar Mama.” Riyana menjawab pelan. Aku yakin dia menyadari perubahan yang Angga tunjukkan, bedanya dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Angga berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia mengetuk pintu kamar Mama, kemudian membuka pintu begitu saja.
“Mas Angga kenapa, Mbak? Kok kayak lagi marah, ya?”
Aku bergeming, buru-buru memikirkan cara dan alasan untuk meninggalkan Riyana di sini untuk menyusul mereka. Aku yakin akan terjadi sesuatu. Bisa kupastikan, Angga akan melakukan sesuatu yang buruk pada Mas Aerul. Ini tidak boleh terjadi, tetapi bagaimana dengan Riyana jika aku menyusul mereka. Sepuluh detik adalah waktu yang lama bagiku untuk berpikir.
“Mbak?” Suara Riyana mengejutkanku.
“Riyana, aku titip Kinan kalau dia bangun, ya,” ucapku akhirnya.
Aku baru pergi setelah memastikan dia mengangguk dan tak peduli dengan kebingungan di wajahnya karena sikap Angga. Kuharap cukup mengerti kecemasanku–tanpa tahu sumber masalahnya. Masa bodoh, yang ada di kepala saat ini adalah suamiku.
Aku membuka pintu kamar Mama dan menutup kembali dengan rapat, lalu menguncinya. Angga tengah mencengkeram kerah baju Mas Aerul yang tanpa perlawanan, matanya merah menyala, napas memburu menahan emosi. Sementara itu, Mama tampak cemas melihat kedua anaknya dalam balutan emosi. Satu bogem telak hampir melayang jika aku tak segera berada di antara keduanya.
Aku beranikan diri menatap matanya yang memerah. Napasnya naik turun–mungkin menahan gemuruh d**a. Dia baru menurunkan tangan yang nyaris mampir ke wajahku.
“Cukup, Ngga. Kamu sudah janji nggak akan ganggu hidupku lagi? Sekarang apa?” ucapku pelan. Ada getar di sana. Aku benci seperti ini sungguh.
Aku ingin lebih kuat dari ini.
“Kia, hiduplah bersamaku dan jadilah satu-satunya milikku. Bukan istri pertama atau istri kedua,” ucap Angga sambil melirik suamiku.
Aku menepis tangannya saat ingin menggapai kedua bahu. Matanya terlihat mengembun di sana.
Aku menggeleng–tidak ingin peduli dengan keadaannya. Ke mana dirinya saat kubutuhkan dulu? Dengan mudah dia membuangku layaknya sampah. Sekarang setelah orang lain memungut, dia memintanya kembali.
“Aku enggak akan tinggalkan dia apa pun yang terjadi,” tegasku.
Angga menatapku sendu. Melihat itu, Mas Aerul menarikku pelan untuk berdiri di belakangnya.
“Oke, aku beri waktu untuk kamu memilih, adikku.” Dia tersenyum menyeringai. “Tinggalkan Riyana, atau lepaskan Kiara. Kalau enggak, jangan salahkan kalau aku akan bawa Kiara pergi menjauh dari kamu.”
Usai berkata, Angga berbalik arah dan keluar dari kamar dengan membanting pintu.
Kulihat Mama terduduk di ranjang tidurnya. Aku menoleh pada Mas Aerul, menatap mata yang tetap teduh dan menenangkan bagiku.
“Nanti kita bicara, ya.” Dia meraih pipiku menyentuhnya sesaat. Meski sekilas, dapat kulihat jelas tatapannya yang begitu meneduhkan.
Dia kemudian berlalu keluar dari kamar.
Aku ikut duduk di hadapan Mama. Sesekali air mata jatuh membasahi pipinya. Dari yang kulihat, dia seakan memikul beban berat. Kuraih tangannya perlahan, berharap beliau mau membagi beban kepadaku.
“Maaf, Ma. Semua karena aku? Lagi-lagi aku menjadi sumber keributan mereka," ucapku pelan.
“Kalau ada yang pantas disalahkan, itu Mama, Nak. Angga benar, sejak awal memang salah Mama. Angga seperti itu juga salah Mama.” Mama terisak.
Aku merasa ada sesuatu di balik ucapan Mama, tetapi kupikir sekarang bukan saat yang tepat untuk menanyakan hal ini padanya. Berbeda jika dia ingin bercerita sendiri tanpa kuminta.
Mama menghela napas berat.
“Mama enggak tahu, sampai kapan Angga akan seperti itu, dia ....”
Pintu kamar terbuka membuat Mama berhenti bicara. Terlihat Mas Aerul masuk dengan Kinan dalam gendongannya.
Aku berdiri menyambut putri kecilku yang terlihat sesenggukan menahan tangis. Namun, dia menggeleng dan menguatkan pegangannya pada leher Mas Aerul, seakan tidak ingin lepas–sambil merengek tak mengizinkan sang Ayah meninggalkannya. Aku tahu, beberapa hari ini dia memang merindukan sosok orang yang dia panggil ayah itu.