Part 12 : Rindunya Membalut Luka

1973 Kata
Sejujurnya aku tidak tega untuk memaksanya lepas dari gendongan pria itu. Namun, di sisi lain, aku merasa tidak enak hati dengan Mas Aerul. Tadi dia sudah ingin pulang, tetapi mungkin menundanya karena mendengar tangisan Kinan. Aku menatap pada Mas Aerul. Bingung. Berpikir apa yang harus kulakukan untuk membujuk putriku. Selama ini yang memiliki keahlian membujuknya adalah Mas Aerul, tetapi entah mengapa dia terlihat enggan melakukan itu. Tidak ada usaha apa pun yang dia lakukan untuk membuat putri lepas darinya. Aku berusaha sendiri. Beberapa penawaran menarik kuajukan pada Kinan, tetapi dia menggeleng kuat sambil menatap manja. Aku menghela napas berat, kemudian mengulurkan tangan meraih kedua bagian ketiaknya dan menariknya dengan sedikit memaksa. Tidak peduli dengan teriakan dan tangisan penolakan yang dia berikan. “Ki!!!” Suara Mas Aerul sedikit membentak. Dia menghindarkan tubuh mungil itu dari jangkauan tanganku. Membuatku sadar dan berhenti menarik paksa Kinan darinya. Aku juga merasakan perih mendengar jeritan hati Kinan, tetapi apa lagi yang bisa kulakukan? Rasanya sudah cukup kami terus menjadi beban pria ini. Di sisi lain ada sejumput rasa kesal pada Mas Aerul. Sebelumnya dia memperlakukan Kinan seperti putri kecil yang memiliki sosok ayah yang sempurna, sampai anak itu kecanduan dengan kehadirannya. Namun, di lain waktu–setelah menikah dengan wanita itu–dia seolah tidak lagi mengingat Kinan yang selalu merindukannya. “Beri dia sedikit waktu, Ki,” lirihnya kemudian sambil menatapku. Kinan diam, menyandarkan kepalanya di bahu Mas Aerul dengan manja. “Tapi, Riyana ....” Dia menggeleng pelan sambil menepuk halus punggung Kinan. Mama yang sejak tadi diam, kini berdiri. “Biar Mama yang temani Riyana,” decaknya kemudian dan mulai melangkah keluar. Aku duduk di tepi ranjang sambil mengamati mereka. Kinan tampak merebahkan kepalanya di pundak pria itu, matanya hampir kembali terpejam. Sesaat aku segera berdiri begitu ingat sesuatu. Jujur, sebenarnya ingin sekali bersikap egois dan tak ingin peduli memikirkan perasaan orang lain. Namun, aku sendiri sudah kerap merasakan hati seperti dicabik-cabik karena rasa cemburu yang menikam. “Ki.” Aku menoleh ketika mendengar suara sedikit paraunya sebelum beranjak pergi. “Maaf,” ucapnya pelan seraya menatapku. Aku bergeming berusaha menampilkan reaksi sedatar mungkin, meski sebenarnya hati sedang bergejolak hebat. Sebelah tangannya berusaha meraihku, tetapi aku segera beranjak pergi tanpa mengacuhkan. Selain sedang tidak ingin hanyut dalam perasaan, juga khawatir bila tiba-tiba Riyana sadar dan memergoki kami bertiga dengan Kinan saja di kamar Mama. Aku tahu untuk saat ini pria itu belum siap menjelaskan status kami di hadapan sang permaisuri hati. Lagi pula, Riyana juga pasti masih bingung melihat sikap Angga tadi. Aku menarik napas lega saat melihat Riyana sedang duduk di ruang tamu bersama Mama. Dia tengah asyik menarikan ibu jarinya di atas layar mini. Sedangkan Mama tengah membolak-balik buku resep barunya. Terkadang aku suka mencuri pandang pada wanita belia itu bila sedang diam. Dia selalu tampak manis, terlebih saat sedang serius. Kecantikannya selalu ditunjang dengan gaya penampilan yang terkesan anggun dan elegan. Wajar saja bila Mas Aerul tergila-gila padanya. Hanya saja sayang ia belum menutup aurat. Berbeda denganku yang selalu tampil sederhana saat di mana pun dan lebih nyaman dengan menyederhanakan gaya hidup. Bukan, bukan karena Mas Aerul tidak pernah memberikan uang untuk menunjang penampilan, tetapi memang inilah diriku sejak dulu. Bahkan jika dia tidak memberi pun aku memiliki materi yang lebih dari cukup. Perusahaan yang Ayah tinggalkan, keuntungan dan laporan keuangannya dikirimkan padaku setiap bulan. “Mbak, Riyana pulang dulu, ya.” Suara perempuan itu membuyarkan angan yang tadi terbang tak tentu arah, dia menyalamiku dan menempelkan pipi kanan dan kiri. Mas Aerul sudah berada di belakangnya. Tepat saat itu juga, mata kami saling beradu. Ah, sungguh rasanya tak ingin melepaskan tatapan itu sampai kapan pun. Aku cepat menundukkan kepala saat Riyana menjauhkan tubuhnya dariku, mencoba menguasai diri dengan sebaik mungkin. Sebelum benar-benar pergi, Mas Aerul masih sempat melempar tatapannya lagi padaku tanpa Riyana tahu. Aku hanya menyambutnya dengan senyum, meski perih itu juga masih terasa. Ada getar yang lain saat menangkap tatapan itu. Entahlah, mungkin aku terlalu merindukannya, tetapi luka juga tak dapat ditampik. Aku pamit pada Mama untuk kembali ke kamar melihat Kinan setelah mereka benar-benar pergi. Mama mengangguk dan mengikuti sampai di depan pintu kamarku. “Entah sampai kapan Aerul akan menyimpan status kalian dari Riyana. Mama sudah enggak tahan lihatnya. Apa lagi Angga ... dia masih saja mengejar kamu. Padahal sebelumnya dia bilang sama Mama kalau dia sudah merelakan kamu. Tapi ...." Mama setengah berbisik. “Udah, Ma. Biar Mas Aerul yang memutuskan. Apa pun itu, aku siap, Ma.” Aku berusaha menenangkan Mama meski sebenarnya hati sendiri butuh sandaran. “Mama yang enggak siap melihat kalian pisah. Pokoknya Mama enggak siap, Kiara. Apa pun yang terjadi, kamu tetap anak Mama.” Aku berusaha mengulas senyum untuk meyakinkan Mama. Bukankah hati ini harus sekuat baja? Aku bahkan sudah terbiasa menghadapi setiap benturan-benturan keras yang menuntut kekuatan. Meski ini tak mudah, tetapi harus tetap dijalani. Kuantarkan Mama untuk masuk ke kamarnya, setelah mengintip Kinan yang masih pulas di dalam kamarku. Mama terlihat sangat lelah hari ini, jadi, kusarankan untuk beristirahat. Mama yang biasanya terlihat bersemangat, entah mengapa sejak kedatangan Angga dia berubah menjadi pendiam. “Maaf, beberapa hari ini aku sibuk dengan perasaanku sendiri, sampai lupa ngurusin Mama,” ucapku sambil menata bantalnya. Dia mengulas senyum. “Mama baik-baik saja. Pikirkan diri kamu sendiri dan anakmu," timpal Mama. "Udah, Mama bisa sendiri. Kamu temani Kinan, nanti dia nangis lagi.” Aku mengangguk dan segera kembali ke kamarku sebelum Kinan kembali terbangun. Namun, langkah sempat terhenti saat melihat Angga keluar dari kamarnya. Aku melangkah setelah kami saling menatap untuk beberapa saat. “Kia!” Aku berhenti tanpa menoleh, langkahnya mendekat. “Tolong pertimbangkan apa yang kukatakan tadi. Aku bisa terima karena kamu mencintai dia, tapi mengkhianati kamu seperti ini, aku enggak rela, Kia. Aku bukan melepasmu untuk disakiti.” “Ini bukan pengkhianatan, Ngga. Aku enggak merasa dia mengkhianatiku, karena aku tahu diri, aku hanya sampah yang ter ....” “Cukup, Kia. Jangan katakan lagi, kamu enggak seperti itu. Aku tahu, semua berawal dari kesalahanku. Aku enggak pernah berniat buang kamu, dan aku punya alasan tersendiri kenapa tinggalkan kota ini waktu itu. Aku ....” Aku segera melanjutkan langkah, segera membuka pintu dan masuk ke kamar. Kemudian menutup dan menguncinya. Alasan apa pun itu, aku tidak lagi peduli. Kuabaikan pintu yang dia ketuk berulang kali. Salat Ashar harus segera kutunaikan sebelum waktu habis. Sungguh, aku lelah. Bolehkah aku melupakan semuanya untuk sejenak saja? Aku ingin hidup normal seperti wanita pada umumnya. Menjalani semua tanpa beban dan masa lalu kelam yang terus menghantui. Ketukan pintu tidak kudengar lagi setelah salam. Aku segera menyimpan mukena, lalu duduk di tepi ranjang. Aku meraih ponsel yang menyala karena ada balon pesan di aplikasi hijau. [Assalamualaikum, Mbak Ki, laporan keuangan bulan ini sudah kukirim via email. Tolong dicek, ya, Mbak. [Oya, Besok bisa ketemu?] Setelah membalas pesan, segera aku mengembalikan ponsel pada tempatnya. Namun, terkejut saat menyadari ada ponsel lain di sana. Itu milik Mas Aerul. Belum sempat jauh berpikir, pintu kamar kembali diketuk. Angga masih di sana? “Kiii.” Aku segera beranjak dan cepat membuka pintu begitu mendengar suara yang kukenal berseru dari luar sana. Dia segera masuk saat pintu kubuka. “Mas?” Dia tak menghiraukan seruanku dan segera mengunci pintu. Aku cepat melangkah menuju nakas. “Hp Mas ketinggalan.” Aku menyerahkan benda itu pada pemiliknya. Dia mengulum senyum. “Kalau enggak gitu aku nggak punya alasan untuk balik lagi,” ujarnya sambil menuang minum yang selalu kusediakan di meja dekat jendela. Dia duduk di kursi tunggal di sebelah meja dan meneguk habis isi gelasnya. “Sengaja?” dia mengangguk sambil melukis senyum di wajahnya. “Kenapa?” “Aku rindu,” gumamnya pelan, tetapi aku dapat mendengar dengan jelas membuat anganku terbang sesaat. Ah, aku belum terbiasa dengan mendengar rayuan manisnya. Dia memintaku duduk di sebelahnya. Aku menolak karena kursi yang dia duduki hanya muat untuk satu orang. Dia menurunkan tubuhnya dan duduk lesehan di lantai sambil bersandar di kursi. Kembali dia memintaku duduk di sebelahnya. “Mas sudah Salat?” dia mengangguk. Akhirnya kuturuti kemauan pria itu untuk duduk di sisinya. Dia segera menghadapkan tubuhnya padaku. Membuatku menundukkan wajah saat tiba-tiba mata kami terpaksa bersirobok. “Ki. Aku kepikiran kamu sejak tadi.” Dia meraih jemariku yang mulai dingin. Menggenggam tanganku adalah kebiasaan barunya saat kami bicara berdua. “Angga benar-benar buat aku takut kehilangan kamu,” ucapnya gusar. “Please, Ki. Apa pun yang terjadi jangan pergi.” Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. “Kenapa, Ki?” “Aku nggak ngerti dengan kamu, Mas,” ucapku pelan. “Maaf, tapi beri aku waktu,” bisiknya lirih kemudian. Lama kami berdiam diri tanpa sepatah kata. Kudengar jelas napasnya yang sudah mulai teratur. “Ki, kamu masih mencintai Angga?” Pertanyaan yang sama dia tanyakan beberapa waktu terakhir saat kami bertemu. Aku benci dengan pertanyaan itu, itu sebabnya aku tidak pernah menjawab. Sejenak keraguan memenuhi pikiran, tidak bisakah dia bertanya tentang perasaanku padanya? Bukan perasaanku pada yang lain. “Aku hanya menganggap dia sebagai masa lalu, Mas.” Akhirnya aku membuka suara setelah dia mendesak berulang kali. Kuharap dia mengerti dan berhenti bertanya setelah ini. “Tapi, dia kembali.” Aku melepaskan genggamannya. Sungguh aku tidak menyukai kalimat yang baru saja dia ucapkan. Haruskah kukatakan bila aku hanya mencintainya? Tidak bisakah dia melihatnya? “Aku enggak pernah berharap dia kembali, Mas. Bahkan aku benci dia kembali, kamu tahu itu, Mas. Kenapa kita harus terus membahasnya?” Apa aku terlalu banyak bicara? Bahkan mungkin tak dapat menyembunyikan ekspresi marah di hadapannya. Dia benar-benar membuat hati ini lelah. Namun, apa yang terjadi? Dia malah tertawa. Aku menatap heran padanya, bagaimana dia bisa tertawa dalam keadaan seperti itu? Membuatku kesal, kemudian tertawa. Apa dia selalu berbuat sesuka hati seperti itu bila bersama Riyana? “Aku senang, akhirnya kamu bisa marah juga, Ki. Aku heran gimana caranya kamu bisa memendam amarah hatimu selama ini.” Tentu saja karena sadar, bahwa diri ini tak pantas untuk marah padanya karena apa pun. Aku bergeming, sama sekali tak ingin menyambut guyonan yang sama sekali tidak lucu bagiku. “Oke, aku minta maaf, aku enggak akan bahas dia lagi.” Dia kembali meraih jemari dalam genggamannya. “Sekarang saatnya kita membicarakan tentang kita,” tambahnya lagi pelan. Dia benar-benar melambungkan anganku beberapa hari ini. Aku kembali merasakan tangannya yang juga dingin. Apa dia juga merasakan denyutan jantung yang semakin kencang saat ini? Ucapannya pun membuat angan yang tadi diam, kini seakan menari-nari dalam keheningan. Aku menundukkan wajah menyembunyikan rasa malu, tetapi percuma, dia pasti dapat melihatnya. “Ki.” Dia menggeserkan sedikit tubuhnya untuk menjadi lebih dekat. “Tolong maafin sikapku selama tiga tahun ini. Aku ... aku akan coba untuk perbaiki mulai sekarang, walau mungkin terlambat.” Entah sudah berapa kali kata maaf itu dia ucapkan di setiap kesempatan. Sejurus matanya menatapku dalam. Sangat mudah bagiku untuk tenggelam di dalamnya. Benarkah aku sudah menggapai hatinya kini? Lalu, bagaimana dengan nama Riyana? Aku seakan melihat nama itu dia tulis dengan tinta emas di sana. Begitu indah dan menawan. Aku tak 'kan bisa menandinginya. Ah, ini tak pantas disebut pertandingan. Siapalah diri ini, dulu hanya seonggok sampah yang usang dan ditinggalkan. Beruntung Mas Aerul mau memungut dan menyimpannya. Meskipun tak pernah ada keinginan sedikit saja untuk memakainya. Entahlah, aku selalu ingin tahu diri saat mengingat masa kelam itu. “Mau maafin aku, 'kan?” Lagi, kosakata itu masih saja dia ucapkan. Bahkan hari ini entah berapa kali. Seolah tidak mengerti bahwa aku merasa dia tak melakukan kesalahan apa pun. Aku mengangguk, walaupun sebenarnya tidak tahu kesalahan mana yang dia maksudkan. Selanjutnya aku mendengar suara paraunya mengucapkan terima kasih. “Mulai sekarang kamu boleh melakukan apa pun padaku seperti yang dilakukan istri-istri lain kepada suaminya,” tambahnya lagi. Kenapa dia sangat mudah membuatku melayang hanya dengan kalimat sederhananya saja. Bahkan aku lupa rasa perih yang tadi seolah meradang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN