Tepian Rindu

1308 Kata
“Sebelumnya bahkan aku melarangmu melayaniku dalam bentuk apa pun. Mulai sekarang kamu bebas, lakukan apa pun yang kamu mau, Ki.” Suara lembutnya benar-benar mampu membius. Tiada yang bisa kulakukan selain bergeming. Tangan ini tak dilepaskan dari genggaman sejak tadi, begitu erat dan hangat. “Oh ya, sebentar.” Dia melepaskan sejenak salah satu genggamannya. Kemudian mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya. Aku merasakan sapuan halus ibu jarinya di jari manisku yang polos. Namun, beberapa detik kemudian dia menghapus kepolosan itu–menyematkan sesuatu di sana. Sesuatu yang serupa sering kulihat di jari manis Riyana. Kini dia juga menyarungkannya pada milikku. Ada bulir mata yang tak dapat kubendung, membiarkan menetes begitu saja. Mas Aerul benar-benar mampu membuat diriku tak berkutik menerima semua perlakuannya. Dia mengucapkan maaf berkali-kali sambil membenamkan kepalaku di d**a bidangnya. Aku benar-benar merasakan angan terbang bersama dengan sekumpulan kupu-kupu kecil bersayap pink. Setelah ini aku boleh saja berharap lebih–hidup dengan kemungkinan bahwa Mas Aerul akan memberikan hal yang sama seperti yang dia berikan pada Riyana. Aku memberanikan diri meraih tubuhnya dalam lingkaran kedua tangan. Isakku masih terdengar. Namun, bukan lagi menangis dalam kesepian, melainkan menangis dalam pelukannya. Ya, kalian tidak percaya? Aku pun hampir tidak. Ya Tuhan, seandainya ini mimpi. Jangan kau buat aku terjaga. “Kok malah mewek?” Dia menyapu pipiku dengan telunjuknya. Aku tidak menjawab. Dia pasti tahu tangis ini karena apa. “Ki, boleh aku tanya lagi?” Aku bangkit dari dadanya, tetapi dia menarikku kembali. “Enggak, tetaplah seperti itu,” ucapnya kemudian. “Aku hanya akan bertanya sedikit saja.” Dia menunduk, menatap padaku. Jemarinya kembali menyapu halus pada pipiku. Aku dapat mendengar detak jantungnya yang meningkat. “Apa ... kamu mencintai suamimu ini?” Kalimat pertanyaannya cukup membuat jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, tetapi kemudian berderap lebih kencang dan liar. Aku bangun dari sana. Tidak peduli jika mungkin dia melihat rona merah di wajah. “Ki.” “Kamu sudah tahu jawabannya, Mas,” ucapku menundukkan kepala. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menutupi rasa gugup. Biasanya aku bisa menyamarkan dengan memilin jari-jari sendiri, tetapi apa yang bisa kulakukan bila ia ada dalam genggaman pria itu sekarang. “Tapi aku ingin mendengarnya, Ki,” jawabnya lagi. Apa dia sengaja membuatku seperti ini? “Mas ....” Aku menarik tangan dari genggamannya. Dia tertawa. Ya Tuhan, dia tertawa di atas deritaku. “Aku enggak mau nebak-nebak,” tambahnya lagi. Dia tidak membiarkan tanganku berpilin sendiri, membawanya lagi dalam kurungan tangannya. “Aku ... aku ....” Aku seperti kehabisan kosakata. “Hm?” Ah, dia hanya menggodaku, aku tidasuka ini. “Maaas!” ucapku kemudian sambil menarik paksa tangan darinya, tetapi dia menahan lebih kuat. Dia tertawa. Lagi. Sungguh, dia masih bisa tertawa? “Oke, oke. Maaf,” ucapnya kemudian. “Kamu tahu nggak, aku pingin lihat kamu marah sesekali.” Lagi. Ini terdengar aneh bukan? Apa aku seperti orang yang tanpa emosi di matanya. “Aku sudah tahu, bahkan semakin tahu setelah kedatangan Angga di sini. Kamu enggak bisa menyembunyikannya, Ki. Aku bisa membaca, tapi bodohnya aku baru menyadari bahwa perasaan itu juga ada di hatiku setelah kita berjauhan. Aku menyesal terlambat menyadari.” Dia menunduk. Tiba-tiba raut wajahnya berubah. “Maaf,” tambahnya lagi singkat. Hari ini entah berapa kali aku mendengar kalimat itu darinya. Aku menggeleng. Kami kembali hening untuk sesaat. Tatapannya teduh, tetapi berkaca-kaca. Apa yang dia rasakan? “Udah, Mas. Aku bosan dengar kata maaf dari kamu ....” Ucapanku terputus karena bunyi ponselnya. Dia melirik sesaat. Ada foto cantik permaisurinya di sana, membuatku cepat membuang muka dan berakhir dengan menundukkan kepala. Dia tersenyum sepintas padaku sebelum menempelkan benda pipih itu di telinganya. Dia mencekal pergelangan tangan sebelum aku berhasil berdiri, sambil menatap seolah memohon. Tak ada jalan lain selain tetap diam membiarkan dan mendengarkan dia berbicara mesra pada Riyana. Ah, tidak. Tidak ada percakapan mesra yang kudengar kali ini. Namun, tetap saja aku merasa seolah menjadi wanita simpanan yang harus bersembunyi dari istrinya. Ah, iya, tepat. Seperti itulah posisiku saat ini. “Dia minta Mas pulang?” tanyaku setelah dia meletakkan ponselnya. Pria itu menggeleng. “Terus?” “Cuman pamit mau pergi lagi.” “Ke mana?” selidikku. Dia angkat bahu membuatku tidak mengerti. “Ada apa, Mas?” Sejak tadi aku merasa ada yang aneh antara dia dan Riyana, tetapi aku tidak ingin banyak bertanya. Toh memang bukan ranahku. Dia menoleh pada tempat Kinan berbaring. “Ki, bantu aku,” bisiknya kemudian. “Apa?” “Bantu aku membuktikan kalau cinta yang tulus itu benar-benar ada.” “Maksudnya, Mas?” Aku yang terlalu bodoh atau memang dia yang sulit dipahami? Entahlah. Dia hanya menggeleng dan hanya menjawab dengan senyuman. Dia berdiri. “Aku mandi dulu.” Aku sungguh seperti digantung. Kenapa dia selalu tega membiarkanku penuh tanda tanya. Sepertinya dia akan menginap lagi malam ini. Hingga usai waktu Isya dia masih di rumah ini. Namun, tak banyak keluar dari kamar. Dia lebih memilih menemani Kinan bermain. Aku pun memilih diam di kamar bersama mereka setelah makan malam. Sebisa mungkin menghindari bertatap muka dengan Angga. Aku yakin setelah hari ini dia akan lebih ngotot dengan kemauannya. Itu memang ciri khasnya. Keras kepala. “Mas enggak pulang?” Ini pertanyaan iseng yang sebenarnya aku takut jawabannya mengecewakan hati. Dia menggeleng. “Ini rumahku,” ucapnya kemudian sambil menata selimut Kinan yang sudah tertidur pulas. “Sepertinya kita butuh satu ranjang lagi untuk Kinan,” ucap Mas Aerul yang tiba-tiba berada di sebelahku. “Hah? Kenapa? Bukannya udah cukup besar?” “Iya, tapi nggak cukup buat bertiga.” Dia menjawab dengan cepat. Aku melihatnya sekilas saja, kemudian melakukan aktivitas yang sempat tertunda. Membaca novel yang sejak tadi hanya kupegang–karena hanya menyaksikan kedekatan putri kecil dan suamiku. “Dari tadi ngeliatin melulu, sekarang didekati malah sok cuek.” Seketika ucapannya membuatku kehilangan fokus, ah bahkan aku belum mulai membaca, bukan? “Nah, kan. Malah bengong,” lanjutnya lagi. “Terus, aku harus gimana?” Dia mengedikkan bahu. Sepertinya aku harus mulai belajar membaca jalan pikirannya, pertanyaan kecil tidak akan dengan mudah dia jawab. Ah sudahlah, bukankah selama ini dia memang tidak memberiku kesempatan untuk belajar? Tiba-tiba dia mengambil alih buku dari tanganku. Aku terkesiap tak berkutik tanpa berani protes. Mungkinkah aku harus belajar lebih peka mulai hari ini? Namun, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dia mendekatkan tangannya pada sisi wajahku, menariknya agar kami saling berhadapan. “Aku mencintaimu, Kiara,” bisiknya pelan. Tidak, itu bukan bisikan, melainkan bidikan. Sungguh melumpuhkan. Benar-benar tak berkutik dibuatnya. Aku rasa semut yang sedang melintas pun ikut tak bergerak mendengar ucapannya. Tangannya tergerak pelan menata rambutku yang sudah rapi. Iris matanya tergerak ke kanan dan ke kiri menyisir wajah ini Kenapa dia dengan mudah membuatku lupa tentang banyak hal. Tentang luka juga keraguan. Aku memalingkan muka saat dia benar-benar membuang jarak di antara kami. Ada desisan halus yang dia ciptakan dan mampu kudengar. “Kenapa, Ki?” Aku bergeming tanpa menatapnya. Tidak ada aksara yang mampu kurangkai. Namun, ada yang bergolak di dalam sini, menghadirkan rasa perih bahkan saat sekedar menelan saliva sendiri. Perih. Entahlah, ada ketidakrelaan yang masih hinggap. “Apa yang kamu pikirin?” Aku menggeleng. Tidak ada yang kupikirkan selain dirinya saat ini. “Kamu belum lupain dia?” Haruskah aku memberitahunya lagi? Aku menggeleng. “Masih meragukanku?” Aku bergeming lagi, tidak mengiyakan ataupun mengelak “Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu yakin? Aku bahkan merasakan kenyamanan yang enggak ingin kulewatkan saat dekat dengan kamu. Perasaan ini enggak kutemukan waktu aku sama dia, Ki. Terserah kamu mau percaya atau enggak.” Dia masih setia menatapku yang hanya berani melihat tangannya yang menggenggam jemariku. “Apa aku egois, Ki? Tapi aku hanya ingin ketulusan dan itu hanya aku dapat dari kamu,” tambahnya lagi. Ucapannya sempat membuat angan berkelana mencari jawaban teka-teki yang terkandung di dalam kalimat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN