Kumohon, Berbagilah!

1721 Kata
Aku menoleh demi memastikan dia mengucapkan kalimat itu. Aku benar-benar melihat matanya yang bening dan berkaca. “Maaf, mungkin aku sudah membuat luka di hatimu terlalu dalam, tapi aku enggak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, Ki. Aku tahu aku salah selama ini. Aku salah mengartikan semuanya.” Bulir kaca itu benar-benar jatuh menetes di pipinya. Ya, aku benar-benar melihat itu. Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya saat ini. Aku tidak mampu menerjemahkan semuanya begitu saja. Aku membalas genggaman tangan dengan membuatnya semakin erat. Kuharap dia tahu bahwa aku tidak bisa melepaskannya. Ingin kukatakan padanya bahwa hati ini baik-baik saja, agar dia tidak terlalu khawatir. Aku pun merasakan sakit saat melihat kecemasan di matanya. Seharusnya tadi aku meringankan beban di hatinya, bukan malah mencipta rasa cemas dengan menunjukkan keraguan yang kurasakan. “Mas enggak salah kok. Mungkin yang salah adalah cara kita menyikapi takdir yang menyatukan kita.” “Enggak. Aku tetap salah. Dengan mengabaikan kamu sebagai istri, juga mengabaikan kewajibanku selama ini adalah sebuah kesalahan besar, dan aku menyesalinya. Aku mohon jangan membuatku semakin menyesal dan merasa bersalah.” “Maaf, Mas.” Dia melukis senyum kembali, kemudian membawa tubuhku ke dalam dekapannya yang saat ini sudah mulai menjadi sebuah candu. Setidaknya aku bersyukur Tuhan benar-benar mengizinkanku untuk merasakan pelukan suami sendiri, meskipun harus merelakannya untuk berbagi dengan yang lain. Ada kata bijak bahwa kesabaran akan berbuah manis, kini aku merasakan manisnya cinta yang berbuah dari kesabaran akan sebuah penantian. Sungguh, tidak ingin yang lain. Baik itu luka ataupun keraguan. Aku hanya tahu, akhirnya rindu ini bertepi juga. Aku membulatkan mata saat menyadari Mas Aerul sudah membuat kuncian di bibir untuk pertama kali. Aku hanyut dalam sentuhan halusnya. Akankah dia benar-benar melakukan apa yang pernah dilakukan Angga dulu? Ah, kenapa aku harus mengingat nama itu kembali. Bahkan yang kami lakukan dulu adalah sebuah dosa. Tentu beda jauh dengan apa yang akan terjadi saat ini. Kuharap Mas Aerul kini melakukannya karena cinta. Bukan hasrat lain yang tak bisa bertepi karena sang kekasih menjauh. Ah, lagi-lagi aku kembali ditikam panah cemburu yang sungguh beracun. Kami dikejutkan dengan dering ponselnya yang tiba-tiba, dan akhirnya membuat kami tertawa. Dia meraihnya, mengintip layar sesaat kemudian membuat senyap tanpa menjawab panggilan. Pria itu berdiri meraih tombol sakelar lampu utama, kemudian menyalakan lampu tidur meja yang sudah lama tidak kugunakan. “Gimana? Ini lebih baik, 'kan?” Aku tahu, dia lebih menyukai gelap saat tidur. Sedangkan aku lebih suka lampu menyala, jadi, lampu tidur adalah alternatif terbaik menurutnya. Aku tidak akan bisa tidur sama sekali bila tanpa cahaya. Dia membeli lampu tidur itu saat Mama sering menyita kunci kamarnya beberapa waktu sebelum dia menikah dengan Riyana ketika itu. Aku menoleh saat melihat layar ponselnya menyala. “Riyana telepon, Mas? Nggak diangkat?” Dia menggeleng. “Bukan dia, tapi dari temanku. Riyana lagi sibuk sekarang, pasti enggak akan sempat telepon,” jawabnya kemudian. Matanya cepat menembus ke kedalaman retina, aku masih bisa melihatnya meski kini hanya tersisa cahaya temaram dari lampu tidur. Kusandarkan kepala pada sandaran sofa–tempat dia biasa tidur saat Mama menyita kunci kamarnya dulu. “Memang dia ke mana?” “Katanya mau lembur ngerjain tugas kuliah bareng temannya.” Aku menautkan kedua alisku. Kenapa perempuan itu dengan mudah meninggalkan suaminya hanya untuk tugas kuliah? Bukankah tugas kuliah biasanya juga memiliki deadline yang panjang sehingga tidak harus dikebut dan dipaksa dikerjakan dalam waktu semalam? Atau mungkin sistem kuliah sekarang seperti itu? Entahlah, untuk apa kupikirkan juga. Suaminya saja sudah mengizinkan. Ponsel Mas Aerul kembali menyala. “Enggak diangkat?” Aku balas menatapnya. Aku bahkan mulai berani sekarang. Dia menggeleng tanpa mengalihkan pandangan yang tertuju padaku, senyumnya mengembang sempurna. “Kenapa enggak diangkat? Siapa tahu penting, Mas.” “Nggak ada yang lebih penting daripada kita, 'kan, sekarang?” Dia membalikkan layar ponselnya, sehingga cahayanya tidak terlihat lagi. “Kalau Riyana yang telepon gimana?” Dia menggeleng lagi. Entah apa maksudnya. Aku tidak mengerti dan menolak untuk mengerti. “Kumohon, Ki. Jangan bahas yang lain lagi selain kita," ucapnya pelan sedikit menyiratkan kesal. Aku menunduk, tahu jika pertanyaanku mulai mengganggu mood-nya. Aku menoleh pada Kinan saat ia terlihat bergerak dan berganti posisi, kemudian kembali tertidur. “Makasih sudah menjadi ayah yang sempurna untuk Kinan.” Dia menarik senyum lagi. Aku menyukai senyum unik itu, tidak ada lesung pipi di sana, tetapi terlalu manis bagiku. “Aku bahkan ingin menjadi ayah untuk anak yang lain.” Aku bangun dari sandaran kepalaku. “Anak yang lain?” Apakah Riyana sudah mengandung anak darinya? Tetapi, kenapa tidak? Bisa saja, ‘kan? Toh mereka suami istri yang normal. “Iya, anakmu yang lain. Anak kita nantinya–adik untuk Kinan,” jawabnya kemudian yang terang membuat wajahku terasa memanas. Kuharap dia tidak melihat pipiku yang bisa saja memerah saat ini. Tanpa sadar aku mengeluarkan decak lirih dari bibir. “Kenapa? Bukannya kita sekarang seperti suami istri yang lain? Kamu enggak mau?” lirihnya lagi membuatku kembali membisu. Sungguh, dia bukan lagi pria yang dingin dan bicara seperlunya. Dia lebih banyak bicara, dan semua kalimatnya selalu membuatku kehabisan kosakata. Dia bahkan dengan mudah mempertanyakan kesiapanku untuk hal itu. Lagi-lagi membuatku tak tahu harus menjawab apa. Namun, aku juga tak mampu menolak saat dia kembali memulainya. Aku merasakan kegugupan yang luar biasa, tetapi dengan mudah dia berusaha menghapusnya. Sungguh tak pernah menyangka bahwa Mas Aerul benar-benar akan memperlakukanku selayaknya istri baginya. Rasa haru menyeruak di dalam d**a saat menyadari itu benar-benar terjadi. Juga kelegaan dalam kalbu yang begitu sulit untuk menggambarkannya dengan kata-kata. Semua terjadi begitu saja, tanpa jeda, hingga penunaian itu usai. Aku sudah kembali berpakaian lengkap saat Mas Aerul keluar dari kamar mandi. Aroma khas matcha dari sabun mandi menguar lembut dari tubuhnya saat ia baru keluar dari kamar mandi. Setelah berpakaian lengkap dia kembali menghampiri, mengusap lembut pada kepalaku, sebelum kemudian meraih ponsel yang tadi dia abaikan. Satu tangannya dia biarkan dalam genggamanku. Aku terkesiap saat melihat wajahnya sedikit menegang setelah membuka beberapa notifikasi yang muncul. Cahaya lampu tidur semakin malam semakin terang, jadi, aku bisa melihatnya lebih jelas. Aku mencoba sedikit melonggokkan kepala, penasaran sebenarnya. Pesan seperti apa yang membuatnya berubah seketika. Namun, ia buru-buru menutup aplikasi itu saat aku berhasil melihat layarnya. Dengan gerak cepat ia melakukan panggilan keluar dengan nama kontak Zaki. “Apa-apaan ini, Jeck. Jangan ngawurlah!” serunya sambil menatapku sesaat, dia sedikit memaksa untuk tersenyum. Aku hanya mendengarkan saja, tanpa dapat menangkap isi percakapan mereka. Seketika air mukanya berubah sambil memandangku. “Oke.” Aku merasakan ada percikan api yang membuat wajahnya merah padam menahan gejolak. Mas Aerul segera menutup sambungan telepon. Refleks dan sedikit memaksa dia melepaskan genggamannya saat kembali ada bunyi notifikasi di ponselnya. Dia beranjak dari duduk. Tampak serius saat membalas pesannya. Hanya satu nama yang ada di kepala saat ini. Aku tak dapat melihat siapa yang berkirim pesan, tetapi siapa lagi yang mampu mengalihkan perhatiannya dari segala hal. Bibit-bibit cemburu mulai tumbuh kecil di sudut ruang hati, kurasakan durinya mulai menusuk perlahan. Tak ada yang dapat kulakukan selain hanya diam menyaksikan tingkahnya. Sekarang dia sibuk menaik-turunkan ponsel dari telinga, seakan berulang kali melakukan panggilan telepon yang gagal. Aku juga melihat rona kegelisahan di sana. Sesekali dia berdiri dan duduk lagi. “Ada apa, Mas?” Kuberanikan diri untuk bertanya. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat dia cemas. Dia menoleh sebentar, kemudian menggeleng. “Bukan apa-apa.” Dia berdiri dan berjalan menuju lemari baju, kemudian buru-buru mengenakan jaket ber-hodie yang tersedia di lemari. Aku ikut berdiri menghampiri dan hanya diam menerima jawabannya. Sulitkah bila harus berbagi denganku? “Mas, kasih tahu aku, ada apa?” desakku lagi. Dia mengembuskan napas kasar, memegang kedua bahuku, tetapi masih diam. “Ada apa?” ulangku lagi. “Nanti aku kasih tahu, ya.” Aku bergeming. Tidak bisakah dia memberitahuku sedikit saja? Bukankah saat ini aku sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. “Aku minta maaf, Ki. Tapi aku harus pergi sekarang. Ada satu masalah yang harus diselesaikan malam ini juga, sebelum terlambat,” ucapnya pelan sambil membingkai kedua pipiku dengan tangannya. Sekarang sudah pukul sebelas malam. Masalah apa yang begitu mendesak dan menuntut untuk dibereskan di jam larut seperti ini? Bahkan Keningnya berkerut menandakan ada sesuatu yang berat tengah dia tanggung saat ini. Dia mencoba tersenyum, tetapi aku melihat sesuatu yang lain di sana. “Aku boleh tahu, apa itu?” Bukankah aku sudah benar-benar menjadi bagian hidupnya sekarang? “Enggak sekarang, ya. Nanti pasti aku beritahu. Sekarang aku harus pergi, Ki. Kamu istirahat, ya. Mungkin aku enggak pulang. Aku minta maaf,” ucapnya sambil mengancingkan zipper jaketnya. Dia tampak menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian membuka lemari. “Topiku di mana, Ki?” tanyanya sambil menyisir seisi lemari dengan matanya. Bukan kebiasaannya memakai topi, jadi, dia hanya punya satu topi yang selalu kusimpan. Aku membungkuk mengambil sesuatu dari lemari yang dia buka di bagian bawah. Dia melempar senyum, menutupi gurat cemasnya. Dengan gerak cepat memindahkan topi dari tanganku ke atas kepalanya. “Semua baik-baik aja, Mas?” Lagi, aku memberanikan diri untuk bertanya. Dia mengangguk, seakan enggan mengatakan yang sebenarnya. Dia masih sempat meninggalkan jejak manis di keningku sebelum beranjak keluar. Aku mengikuti, berniat mengantarnya sampai di pintu depan. Namun, dia berbalik badan saat sebelum membuka pintu kamar. “Kamu istirahat aja, sudah malam. Aku pergi.” Sekali lagi dia meninggalkan jejak manis lagi sesaat, kali ini di bibir. Aku mengangguk, sebelum dia menutup pintu. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia masih tidak ingin berbagi denganku? Entahlah, mungkin kenyataannya aku belum menjadi apa pun di hatinya. Masih sama seperti sebelum hari ini. Akhirnya aku kembali ke tempat tidur, kulirik jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku melirik Kinan yang pulas dalam belaian mimpi. Memejamkan mata malam ini begitu sulit. Imajinasi masih terus saja meliarkan diri dan mengganggu pikiran. Namun, aku lupa jam berapa pastinya mata ini benar-benar terpejam. Dini hari pukul tiga pagi, aku mengerjap saat menyadari seseorang berbaring di sebelah Kinan. Aku bergegas berdiri, dan menyambar jilbab di sekitarku–sambil mengutuk kebodohan sendiri yang tidak mengunci pintu kamar setelah kepergian Mas Aerul. Ruangan juga gelap tanpa cahaya lampu tidur sekalipun, padahal lampu utama tadi juga sudah kunyalakan kembali setelah kepergian suamiku. Setelah hijab terpasang sempurna, aku menyalakan lampu untuk melihat siapa yang berbaring di sana. Tak bisa kugambarkan perasaan saat ini, rasa takut tentang bayangan Angga yang terus mengejar selalu mampir begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN