Mungkin Sudah Saatnya

1309 Kata
Aku menghembuskan napas lega saat berhasil meyakinkan diri bahwa memang suamiku sendiri di sana. Bukankah dia mengatakan tidak akan pulang semalam? Aku kembali mematikan lampu saat menyadari dia mulai mengerjap karena mungkin cahaya terlalu terang. Apakah aku tadi berlebihan? “Ki,” serunya pelan dengan suara paraunya. Aku masih mencoba mengendalikan napas yang belum teratur sempurna dan duduk di tepi ranjang. Dia bangun dan menggeser tubuh, menggapai tanganku dengan hati-hati. “Kenapa bangun? Masih malam, kan?” tanyanya lagi. “Aku pikir Mas tadi siapa, aku takut ...,” desahku sambil mengusap wajah dengan kasar. Gemetar di tubuh tidak dapat disembunyikan. “Maaf, tapi lain kali kunci pintunya kalau aku nggak ada. Untung aku balik lagi. Ya udah, sekarang tidur lagi!” Aku menggeleng. Masih sedikit merasakan detak jantung yang belum teratur. Dia bangkit, menyalakan lampu meja yang tak jauh dari jangkauannya kemudian merebahkan tubuh kembali. “Sini,” ujarnya sambil menunjuk tempat di sisinya. Aku beranjak dan berjalan mengitari ranjang, karena ada Kinan di antara kami. Dia mengangkat tubuh mungil itu untuk sedikit melapangkan tempat. Aku duduk di sisi dia berbaring. “Maaf, udah bikin kamu takut, Sayang.” Suaranya masih terdengar parau, tangannya meraih lenganku, memintaku untuk berbaring di sisinya Lalu ..., ah, dia panggil aku apa tadi? Benarkah panggilan itu untukku? Sesaat aku seakan melayang menggapai langit-langit, mendadak ingat perlakuan manisnya semalam. “Kenapa, Ki?” Aku cepat menggeleng, mengulum senyum. Kuharap dia tidak melihat rona merah di pipi. “Mas ... bukannya bilang nggak pulang?” tanyaku berusaha menepis rasa gugup yang mendadak menyerang. Ya Tuhan, mendengar dia memanggilku dengan sebutan sayang saja rasanya begini. Dia menarik tanganku pelan, agar aku berbaring di sisinya, membuatku semakin gelagapan. Terpaksa akhirnya kurebahkan tubuh di sisinya. Sekarang posisi kami saling berhadapan dalam keadaan miring. Aku bisa menatap matanya dengan jelas. Entah mengapa aku merasa jika dia tidak sedang baik-baik saja. “Enggak tahu, aku pingin pulang aja,” bisiknya lagi. Parau. Samar-samar aku seperti melihat ada sesuatu yang melintas melewati tulang hidungnya. Kuberanikan diri untuk menyentuhnya. Ah, ini air mata? Ada apa dengan dia? Kenapa dia menangis? “Mas?” Segera dia meraih tanganku, mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana. “Kenapa? Apa aku terlihat cengeng? Atau cemen?” Aku bergeming. Lagi-lagi dia berteka-teki, memaksa otak untuk terus berpikir. Aku menggeleng. “Aku sakit, Ki.” Aku tergerak memegang keningnya yang memang terasa sedikit hangat. Dia malah tertawa lirih. “Bukan di situ, tapi di sini. Hatiku yang sakit,” ucapnya lagi. Ah, apa aku yang kurang peka, tetapi dia kenapa? Atau ada sikapku yang salah dan menyakiti hatinya. Aku masih bergeming, mengerutkan kening. “Ada apa, Mas?” mendadak aku teringat kejadian semalam sebelum dia meninggalkan rumah. Sebenarnya masalah apa yang tengah dia hadapi? Dia meraih tanganku lagi, membawanya ke depan d**a dan mendekapnya. Hening. Aku menunggunya membuka suara, melanjutkan ucapan yang masih menggantung. Namun, beberapa menit berjalan, dia belum membuka suara. Mungkin belum saatnya. Aku harus menunggu. Atau dia memang belum ingin berbagi. Aku ingin segera beranjak saat melihat matanya kembali terpejam. Mungkin dia terlalu lelah. Aku tidak tahu pasti jam berapa dia sampai di rumah. Namun .... “Ki, bantu aku ....” Dia mencekal pergelangan tangan, membuatku urung untuk beringsut. “Bantu aku membuktikan bahwa cinta yang tulus itu benar-benar ada.” Matanya masih terpejam. “Jangan tinggalkan aku, Ki!” tambahnya lagi. Aku menatap lekat-lekat matanya yang masih terpejam. Dia mengigau. Apa dia sakit? Tangannya memang hangat. Cepat kualihkan tangan yang lain untuk menggapai kening. Hangat. “Mas.” Kuberanikan diri memanggilnya. Pelan. Setengah berbisik. “Hmm?” Dia membuka mata, tersenyum tipis. Kurasa tadi dia mengigau, matanya terlihat sayu. Aku menggeleng dan berpura ikut memejamkan mata. Tak lama kemudian, kudengar napasnya yang kembali teratur. Aku beranjak bangun untuk bersiap membersihkan diri. Sebentar lagi masuk waktu subuh. Aku terkesiap saat mendengar suara getar dari ponselnya yang diletakkan di meja. Muncul foto Riyana di layar sebagai panggilan masuk. Aku mengabaikannya setelah memencet tombol volume agar getarnya tidak mengganggu tidur suamiku. Entah kenapa, aku ingin bersikap egois kali ini saja. Mungkin setelah ini pun juga. Firasat ini mengatakan, Mas Aerul tidak sedang baik-baik saja. Mungkinkah karena istri kecilnya? Aku membangunkan Mas Aerul dengan menepuk pipinya pelan setelah usai melaksanakan kewajiban di waktu fajar. Dia mengerjap kemudian mengucek mata. Mas Aerul benar-benar sedang tidak sehat, terlihat dari caranya bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Sempoyongan. Namun, dia mengatakan baik-baik saja saat aku berusaha untuk membantunya. Aku meninggalkannya ke dapur saat dia tengah salat. Sudah ada Mama sedang meracik bumbu, dia menoleh sesaat. “Aerul di sini?” tanyanya pelan setengah berbisik. Dia tersenyum setelah aku mengangguk. “Mama lihat, dia sudah berubah.” Aku menyambutnya dengan senyum, tanpa suara. Biar saja Mama menilai sendiri. Mama heran memperhatikanku yang mencuci jahe merah. Kebiasaan Mas Aerul meminum rebusan jahe merah saat sedang tidak sehat. Mama yang mengajari. “Mas Aerul lagi enggak sehat, Ma,” ucapku sebelum dia bertanya. Tak lama kemudian kudengar Mama mengoceh menyebut nama menantunya yang jauh. Aku tidak terlalu menanggapinya. Sejak awal Mama memang tidak terlalu menyukai Riyana, meskipun tidak pernah menunjukkan langsung di depan orangnya. Dia meluapkan kekesalannya di hadapan menantu yang satunya ini. Sedangkan aku hanya menjadi pendengar setia untuknya. Aku pamit kembali ke kamar setelah wedang jahe untuk Mas Aerul sudah siap. Beruntung Mbak Rini sudah datang. Jadi, aku bisa meninggalkan Mama tanpa merasa sendiri. Aku menghampiri Mas Aerul yang sedang duduk di tepi ranjang sambil bersandar. Tatapannya kosong. Bisa kupastikan sedang memikirkan sesuatu. Dia menoleh saat menyadari kedatanganku kemudian menggeser sedikit tubuhnya. “Minum dulu, Mas. Biar enakan.” Aku menyodorkan cangkir jahe hangat yang kubawa. Dia tersenyum. “Makasih, Ki,” ucapnya kemudian. “Mas, tadi Riyana telepon,” ucapku, karena sepertinya dia belum menyentuh benda pipih itu. Dia berdecak pelan. “Seharusnya kamu angkat aja!” celetuknya. Cukup membuatku terkesiap. Apakah dia sudah siap untuk jujur pada wanitanya itu? “Enggaklah, nanti dia curiga gimana?” Dia masih sesekali menyeruput jahe hangat di tangannya. “Memang sudah saatnya dia curiga, Ki.” Aku bergeming, mencoba memahami maksud ucapannya. “Kepalaku pusing banget, Ki,” ucapnya kemudian sambil mencoba meletakkan cangkir dan tatakannya di meja. Aku meraih dengan cepat dan membantu meletakkannya. Dia kembali membaringkan tubuh. Aku tergerak untuk memijat kepalanya. Kuharap bisa mengurangi rasa pusingnya, meski sedikit. Belum sempat Mas Aerul kembali terpejam, aku mendengar suara gaduh dari luar kamar. Ada suara Mama di sana, tetapi dengan siapa kali ini? Bukan suara Mbak Rini apalagi Angga. Suara seorang perempuan. Ah, aku mengenal suara itu. “Mas, itu ... Riyana?” ucapku pelan, menghentikan aktivitas memijat kepalanya. Dia bergeming sesaat, tetapi kemudian bergegas bangun dari tempat tidur. Dia ingin keluar? Bagaimana dengan perasaan Riyana nanti? Riyana tahu ini kamarku. Akan menciptakan tanda tanya besar bila ia melihat suaminya keluar dari ruangan pribadiku. “Mas.” Dia berhenti, menoleh padaku. “Temani aku!” Apa aku tidak salah mendengar? Sepertinya tidak. Tangan hangat itu menggandengku. Aku berhenti, menatapnya sambil mengernyit. “Mas?” Aku merasa ini akan mengejutkan. Tidak terbayang olehku bagaimana perasaan Riyana nantinya. “Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan? Aku mengakuimu sebagai istriku di depan Riyana?” Aku menggeleng. Dia memutar tubuh, membuat kami saling berhadapan. Mata sayu itu menatap padaku, kedua tangannya menggenggam bahuku. “Aku nggak mau berlarut-larut, Ki.” Suaranya sedikit meninggi. “Tapi, Mas. Menurutku waktunya lagi nggak tepat. Kamu dan Riyana lagi ada masalah, ‘kan? Apa nggak bisa kita omongin pada saat keadaan baik-baik saja. Aku nggak mau kalau nanti malah memperburuk keadaan.” “Dia yang buat kami bermasalah, Ki. Dia lebih dulu memperburuk keadaan. Dia berbuat semaunya tanpa mikirin perasaanku. Sedang yang kulakukan merahasiakan status kita di depan dia adalah untuk menjaga perasaannya. Lalu dia? Dia ....” Kalimat Mas Aerul terputus oleh suara ketukan pintu kamar kami. Tanpa bicara lagi dia beranjak untuk membuka pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN