Part 16 : Benih Keraguan

1287 Kata
Harap-harap cemas aku menunggu detik-detik pintu itu terbuka oleh Mas Aerul. Apa yang terjadi selanjutnya tidak bisa terbayangkan. Untuk menarik napas saja rasanya berat sekali. Mas Aerul terlihat sedang tidak dapat mengelola emosinya dengan baik. “Mas.” Aku menyentuh bahunya perlahan, dia menoleh sesaat. Kuharap dia bisa lebih tenang. Bahkan dia lupa jika tadi mengeluh sedang sakit kepala. Akhirnya pintu terbuka, aku memilih mundur. Menjaga jarak dari pintu, siap menata hati bila nanti Riyana mencaci makiku karena tertangkap basah sedang bersama suaminya. “Mas!” Itu suara Riyana. Ah, aku mendengar derit luka dari suaranya. Mas Aerul mundur beberapa langkah, membiarkan wanita itu masuk dan melihat diriku di dalam. Kesengajaan itu terlihat begitu jelas. Kini aku melihat sorot kilat api dari mata perempuan itu. Kali ini aku melihat sisi yang berbeda dari diri wanita itu. Pakaiannya tetap anggun, tapi terlalu memperlihatkan bentuk tubuhnya yang memang sangat memikat bagi kaum adam. Belahan di dadanya sedikit terbuka. “Apa ini, Mas? Kalian ... bermain api di belakangku?” Dia menatap Mas Aerul yang hanya diam. Sepertinya sama sekali tidak ingin menjelaskan apa pun. “Dan kamu, Mbak? Aku nggak habis pikir ...” Riyana mengacak rambutnya. “Dia iparmu, Mas.” Dia kembali menatap Mas Aerul. Kurasa dia sedang bingung ingin memaki siapa terlebih dahulu. Riyana menoleh lagi padaku. “Aku nggak nyangka, kamu ternyata murahan, Mbak. Pintar sekali menutup kedok di balik jilbabmu.” Sorot matanya tajam menembus jantung, begitu pula ucapannya. Aku merasakan gemuruh aneh di dalam sana, seakan ada yang mendidih dan siap meluap. “Jaga bicaramu, Riyana. Dia istriku, bukan ipar, yang kami lakukan bukan dosa. Justru kamu yang ...” “Jadi selama ini kamu bohong, Mas? Dia bukan kakak iparmu? Melainkan juga istrimu?” Nada tinggi terdengar dari perempuan itu, mata tajam menatap pria di hadapannya. Sedingin-dinginnya Mas Aerul bersikap padaku, kami tidak pernah sampai adu mulut, ataupun berdebat kecil saja. Aku mendengar Kinan yang mulai kasak-kusuk di pembaringannya. Tanpa menghiraukan ucapan perempuan yang tengah naik pitam itu, aku menghampiri gadis kecilku. Sementara Riyana terus berbicara tanpa henti. Aku tidak fokus lagi untuk mendengarkan–sibuk mengusap pelan punggung sang putri kecil. Mama yang seperti mengerti sedang dibutuhkan, tergopoh-gopoh menghampiri kami. Tanpa berucap sepatah kata pun, dia mengangkat tubuh mungil Kinan yang masih terpejam dan membawanya keluar. Terakhir terlihat Mbak Rini yang menutup pintu dari luar. “Kamu jahat, Mas. Kamu bohongi aku selama ini? Ternyata aku hanya istri kedua.” Aku melihat Riyana mulai menangis, sambil memukul bahu suaminya. Mas Aerul mundur beberapa langkah. “Iya, kebohongan ini ada karena aku terlalu sayang sama kamu, Ri. Tapi ....” Aku membuang muka mendengar kalimat Mas Aerul kali ini. Mungkin tidak seharusnya aku di sini, berada di antara keduanya. “Apa yang kamu lakukan di belakangku jauh lebih menyakitkan, Riyana Sena. Kenapa enggak bilang aja dari awal kalau kamu jenuh denganku?” Mas Aerul menatap wanitanya tajam. Suaranya mulai merendah. “Mas, maafin aku untuk itu. Aku ... aku sayang sama kamu, Mas? Tapi ....” “Tapi kamu membagi sayangmu juga untuk laki-laki itu? Aku bahkan jijik untuk sekedar melihatmu ....” Suara Mas Aerul meninggi lagi. Aku beranjak dari tempatku. Tidak ingin lagi menjadi saksi keributan mereka. Dengan perasaan tak menentu aku keluar dari kamar itu, satu-satunya tujuanku adalah kamar Mama. Mama memelukku sesaat begitu sampai di kamarnya. Kulirik Kinan yang masih tertidur pulas di atas tempat tidur. Kegaduhan mereka terdengar samar-samar, tetapi tidak berselang lama terjadi keheningan. Apakah mereka sudah berdamai? Secepat itu? “Buk, sarapannya sudah siap.” Suara Mbak Rini memecahkan keheningan. Mama hanya mengangguk. Sepertinya sama sekali tidak berminat untuk sarapan. Wanita paruh baya itu hanya diam sejak tadi. Aku menggenggam jemarinya, Mama memandangku lemah. “Seandainya Mama bisa lebih tegas mencegah pernikahan Aerul dengan perempuan itu ...,” ucapnya kemudian. “Dia enggak perlu mengalami sakit hati seperti itu. Riyana itu masih labil. Masih pingin bebas. Belum bisa memahami arti pernikahan. Mama sudah ingatkan sama Aerul, tapi ... dia selalu mengungkit masa lalu kalau Mama kasih tahu.” Akhirnya Mama mengeluarkan apa yang menjadi unek-uneknya. Tugasku hanya menjadi pendengar setia. Ada yang mengetuk pintu kamar Mama yang sudah terbuka. Seseorang dengan pakaian rapi tengah berdiri di gawang pintu sambil menatapku beberapa detik. Aku membuang muka, sebisanya menghindari bertemu tatap dengannya. Dia kemudian berjalan menghampiri kami. “Aku mau lihat Kinan,” ucapnya sambil menoleh ke arah Kinan yang masih pulas. Aku mengangguk, kemudian beranjak keluar dari kamar Mama daripada harus berlama-lama satu ruangan dengannya. Pelan aku membuka pintu kamarku sendiri. Kosong. Tidak ada Mas Aerul atau pun Riyana. Ponsel Mas Aerul pun tidak ada lagi di meja. Ke mana dia? Apakah mereka benar-benar sudah berdamai dan pulang ke rumah. Ada sepucuk sembilu mengiris perlahan daging merah di dalam sana saat aku memikirkan ini. Mengapa rasanya lebih sakit daripada saat melihat kemesraan mereka beberapa waktu yang lalu. Apakah aku akan ditinggalkan dan diabaikan lagi? Jika memang benar, artinya dia hanya mendekatiku saat sedang bermasalah saja dengan Riyana. Setelah mereka berbaikan dia akan mengabaikanku lagi seperti dulu. Aku memang membaca gelagat aneh dari Mas Aerul beberapa pekan ini–bisa jadi saat dia mulai berkonflik dengan istrinya–dia mulai banyak bicara denganku. *** Aku duduk bersandar di tepi ranjang. Meredam gemuruh hati karena terus bersenandika. Aku tahu Mas Aerul punya prinsip–tidak pernah mengingkari ucapannya sendiri. Sejak dulu dia selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk menepati janji. Hanya satu janjinya yang waktu itu dia abaikan, janji pernikahan. Namun, dia sudah mencoba menebusnya–melakukan semua untuk membuatku tak lagi merasa diabaikan. “Sekarang lihat, ‘kan? Dia meninggalkanmu lagi, Kia.” Aku mengabaikan suara yang datang tiba-tiba itu. Hanya melirik kakinya yang berdiri di hadapanku. Mencoba menyembunyikan jejak basah yang sejak tadi merembes dari sarangnya. Ketidakhadiran Mas Aerul di rumah ini beberapa waktu mungkin cukup memancing perhatian Angga. Dia kemudian duduk berjongkok di hadapanku yang terus menunduk. Aku tidak akan membiarkan dia melihat diri ini yang patah karena ditinggalkan. Tidak. Mas Aerul tidak sedang akan meninggalkanku. Dia akan kembali. Pasti kembali. Dia hanya pergi sesaat untuk menyelesaikan masalahnya saja. Atau mungkin dia sedang butuh untuk sendiri. Kulihat telapak tangannya menadah di bawah wajahku, ada yang jatuh menetes di sana. Kenapa aku begitu lemah? Seharusnya aku membangun dan mengkokohkan akar prasangka baik di dalam hati, agar tidak kalah bila badai prasangka buruk menerjang. “Sampai kapan akan seperti ini, Kia?” ucapnya kemudian. Pelan. Setengah berbisik. Aku masih bergeming. Sama sekali tidak ingin mendengar ucapannya yang terus mematahkan. Bahkan jika patah pun aku sama sekali tidak butuh bantuannya. Akar kebencian terlalu kuat menancap dan melilit di dalam sana. “Aku harap kamu bisa melihatku lagi. Jangan biarkan hatimu terus dilukai seperti ini, aku pun enggak sanggup melihatnya, Kia.” Lagi. Dia terus memprovokasi hati yang memang sejak tadi penuh dengan bibit-bibit keraguan. “Kia, aku masih sayang kamu seperti dulu. Perasaan ini belum berubah. Tolong dipikirkan lagi. Pikirkan masa depan kamu, juga anak kita. Aku akan memberinya kasih sayang yang melimpah untuknya, lebih dari yang Aerul beri selama ini.” Kenapa dia terus mengobral janji di hadapanku. Tidakkah dia sadar bahwa aku tidak akan pernah terpengaruh. Hati ini hanya akan kuberi pada satu nama. Sampai kapan pun aku akan menunggunya kembali. Dia meletakkan sebuah map merah di atas pangkuanku. “Tanda tangani ini kalau kamu sudah berubah pikiran. Aku akan mengurusnya. Jangan biarkan hatimu terluka terlalu lama. Enggak akan baik untuk anak kita. Kinan punya kepekaan yang tinggi, dia akan tahu saat bundanya sedang tidak baik-baik saja.” Sungguh, aku tidak suka dia menyebut putriku sebagai 'anak kita'. Lagi pula, dari mana dia tahu bahwa Kinan memiliki kepekaan yang tinggi. Walaupun itu benar. Apa aku terlalu sibuk sehingga tidak tahu dia sudah terlalu sering mendekati putriku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN