Hingga hari ini Mas Aerul masih belum juga pulang. Nomornya juga tidak bisa dihubungi lagi. Aku hampir menyerah, pasrah. Entah apa yang terjadi nanti setelah ini. Sikapnya yang menghilang seperti ini semakin menambah tumpukan kebimbangan di hati. Mengapa dia sulit sekali untuk dimengerti?
Tanpa sengaja aku melirik pada map berwarna merah yang ditinggalkan Angga hari itu. Aku hanya sekilas membaca isinya, tetapi sudah bisa dipastikan itu adalah surat permohonan izin cerai yang harus kutandatangani. Pria itu masih belum menyerah untuk memisahkanku dengan Mas Aerul.
Haruskah kuterima tawarannya? Namun, setidaknya jika Mas Aerul memang ingin kami berpisah, aku ingin mendengarnya langsung. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi.
Ah, ada apa denganku? Perpisahan seperti itu tidak akan pernah terjadi. Aku yakin suatu saat dia akan pulang. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri? Namun, benarkah dia sendiri?
Bagaimana kalau dia memang benar-benar sudah berdamai dengan Riyana. Memikirkannya saja membuatku merasa ngilu, apa lagi melihat kembali kemesraan mereka.
Ya tuhan, keluarkan aku dari penjara kebimbangan ini.
Tidak. Aku tidak akan meninggalkannya kecuali dia yang meminta. Omongan tetangga–yang menggosipkan bahwa Mas Aerul meninggalkanku karena daun muda–saja tidak pernah kuhiraukan. Aku hanya mendengarnya kemudian anggap sebagai angin lalu.
Lalu lupakan.
Namun, jujur sekarang aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Bukan tidak tahu dia di mana sekarang, tetapi untuk mendatanginya lebih dulu, aku masih ragu. Kebimbangan terus menjadi penguasa di hati ini.
Bagaimana kalau ternyata dia kembali berbahagia bersama Riyana? Aku belum siap menerima kenyataan itu.
Hari ini genap tiga bulan Mas Aerul tidak pulang ke rumah. Memikirkan kehilangan ini rasanya sungguh seperti mengalami Dejavu. Apakah dia akan meninggalkanku seperti Angga dulu meninggalkanku dulu? Entahlah, aku begitu takut ketika memikirkannya.
Sementara Angga terus saja mengganggu. Mencoba menggapai dengan menggoyahkan keyakinan dan merobohkan pendirian yang saat ini tengah berusaha kubangun sekuat tenaga.
Belum lagi drama bagaimana Kinan kehilangan sosok ayahnya. Meskipun terkadang ayah kandungnya sendiri ikut membantu menenangkan anak itu di setiap kesempatan. Namun, sosok Mas Aerul sepertinya memang tak tergantikan bagi Kinan. Terutama saat malam hari, sering membuatku kewalahan. Selalu menangis dengan menyebut ayah saat ingin tidur. Waktu tiga bulan seharusnya membuat anak itu terbiasa, tetapi tidak. Drama itu selalu rutin mengawalinya saat akan tidur.
“Orang seperti dia enggak pantas kamu tunggu, Kia,” ucap Angga sambil menatap Kinan yang sudah berhasil kutidurkan. Aku bergeming karena tahu ke mana arah pembicaraannya. Aku benar-benar bosan dengan sikapnya yang keras kepala.
***
Bunyi beep dari ponselku meleburkan angan yang sejak tadi bersarang. Cepat tanganku meraihnya. Berharap seseorang yang kurindukan mengirimkan pesan. Namun, rasa kecewa kembali menggelayut saat kulihat bukan pesan darinya yang kuterima, melainkan dari Nadia–kepala manager di perusahaan Ayah.
“Mbak Kiara, bisa ketemu di tempat biasa? Ada yang ingin saya bicarakan.”
Aku pamit pada Mama untuk bertemu dengan Nadia. Hitung-hitung juga untuk menghibur diri dan mengajak Kinan untuk bermain di luar.
Aku mengubah tempat kami bertemu, sengaja aku memilih tempat di mana Mas Aerul biasa mengajak Kinan berjalan-jalan.
Nadia memang selalu mengajak bertemu setiap bulannya, melaporkan keuangan perusahaan dan segala administrasinya–yang aku sendiri tidak terlalu memahami. Dia adalah orang kepercayaan almarhum Ayah. Sebenarnya juga aku sudah pernah meminta Mas Aerul untuk mengurus perusahaan peninggalan Ayah itu, tetapi dia selalu menolak berbagai dengan berbagai macam alasan.
Aku membiarkan Kinan bermain di playground favoritnya. Dia cukup terhibur dan tertawa lepas. Namun, aku membuang muka saat menangkap sosok Angga mendekati Kinan. Sungguh, apa dia tidak punya pekerjaan selain menguntit kami. Aku tidak ingin mencegahnya, karena berbuat apa pun tidak akan berpengaruh pada pria itu. Selagi dia tidak membawa Kinan menjauh dariku, biar saja. Sejak dulu dia memang pantang menyerah. Apalagi melihat kerenggangan hubunganku dengan Mas Aerul saat ini, dia tidak ingin membuang kesempatan itu. Tidak masalah bagiku selama dia tidak berlebihan. Bahkan aku mulai terbiasa dengan tindakannya yang semaunya sendiri.
“Mbak.” Suara Nadia mengagetkanku. Aku mengulum senyum menyambut Nadia yang baru datang. Dia memelukku sesaat kemudian ikut duduk di sofa panjang di sebelahku.
“Aku berharap banget Mbak Kiara bisa sekali-kali datang ke kantor loh,” ucapnya setelah cukup lama berbasa-basi.
“Kamu aja, ya, Mbak. Aku percaya kok. Mbak tahu sendiri dulu kuliahku enggak selesai. Lagian basic jurusanku bukan di sana. Apa yang bisa kulakukan di perusahaan. Mbak Nadia yang lebih paham.”
Untuk saat ini, boro-boro memikirkan perusahaan, memikirkan Mas Aerul dan Kinan setiap harinya saja cukup sungguh menguras kapasitas otak.
“Tapi perusahaan lagi butuh sosok pemimpin, Mbak," ucapnya lagi.
Sebenarnya Nadia lebih tua dariku, tetapi dia mengatakan lebih nyaman memanggilku dengan sebutan mbak–merasa sungkan jika hanya memanggil nama–karena aku putri atasannya. Untuk menghormati dia yang usianya lebih tua, aku juga memanggil dengan sebutan yang sama.
“Nanti aku pikirin deh, untuk sekarang aku belum siap. Kinan enggak ada yang jagain, apalagi belakangan dia se--ring ....”
Sesaat aku terdiam, mata menangkap sesosok yang tak asing lagi di kejauhan sana. Aku hafal sekali cara berjalannya juga gaya berpakaiannya. Kali ini rambut hitamnya diikat di atas. Semakin memperlihatkan ketegasan pada jenjang lehernya. Ditunjang dengan dress mini pink muda selutut, menambah keanggunan yang memang sudah melekat dalam dirinya.
Wanita itu tampak tertawa lepas dengan aura khasnya, sambil berjalan bersama seorang pria–dengan gamitan mesra. Kalian bisa menebak dia siapa? Ya, siapa lagi perempuan muda yang selalu menarik perhatianku selama ini kalau bukan Riyana Sena.
Siapa pria di sampingnya? Lalu di mana Mas Aerul?
Melihat Riyana di sana tertawa lepas tanpa beban bersama pria selain suamiku mendadak aku cemas memikirkan Mas Aerul. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Aku mendadak tidak tenang memikirkannya.
“Mbak Kiara? Ada apa Mbak?” tanya Nadia pelan. Aku buru-buru mengalihkan pandangan. Membalas pertanyaannya dengan senyuman.
Nadia menoleh ke belakang mengikuti arah pandanganku tadi. Riyana yang sudah duduk di salah satu kursi pelanggan kafe yang cukup jauh dari kami.
“Mbak Kiara kenal sama mereka?” tanya Nadia kembali. Aku mengerutkan kening, sambil menggeleng.
“Oo, aku pikir Mbak Kiara kenal. Soalnya aku kenal sama cowoknya.”
“Oh, ya?”
Nadia mengangguk. “Iya, Mbak, dia saudara sepupuku. Namanya Adam. Kupikir tadi kenal, makanya lihatnya sampai kayak gitu.”
Aku buru-buru menggeleng. Angan kembali melayang menggapai suamiku di sana.
Apa kabarmu sekarang, Mas?
“Mbak Kiara kenapa?”
Aku menggeleng sambil tersenyum tipis. “Mereka pacaran?” selidikku, sedikit penasaran juga. Mumpung bisa mengorek informasi dari Nadia.
Nadia mengangguk. “Iya, Mbak, Kayaknya sudah dua tahunan sih mereka pacaran. Tahun lalu Adam kenalin sama keluargaku. Sejak itu mereka sering berkunjung ke rumah,” jawab Nadia.
Dua tahun? Artinya sudah cukup lama Riyana menghianati Mas Aerul? Bahkan jauh sebelum mereka menikah.
“Sebentar, ya, Mbak. Aku samperin mereka dulu.” Aku mengangguk.
Sekarang pikiranku hanya tertuju pada Mas Aerul. Keinginan untuk mendatanginya mendadak semakin menggebu.
Aku kembali dibuat terkesiap oleh kedatangan Kinan dan ayah biologisnya.
“Kamu nggak punya perkerjaan lain selain membuntuti kami, Ngga?” protesku yang disambut dengan cengirannya. Dia menggeleng.
“Tidak ada pekerjaan yang lebih penting selain berusaha mendapatkan hati kamu kembali, Kia.” Dia menurunkan Kinan dari gendongannya. Kemudian segera beranjak pergi begitu Nadia kembali.
Setelah urusan dengan Nadia selesai aku segera pamit untuk pulang. Sungguh, sejak melihat Riyana tadi, gundah di hati menggebu tak berhenti memikirkan Mas Aerul. Meski sempat ragu, akhirnya kuputuskan untuk mendatangi alamat yang sebelumnya diberikan oleh Mama beberapa waktu lalu.
Pelan aku membuka pagar besi yang tidak terkunci, sambil menggendong Kinan. Seharusnya aku sudah lama datang ke rumah ini, tetapi rasa takut jika kedatanganku akan mengganggu–selalu membuatku mengurungkan niat. Namun, hari ini aku sudah bertekad untuk bertemu dengannya. Aku tidak ingin menunggu lagi. Biarkan saja dia mau menilaiku seperti apa. Bukankah dia tahu bahwa aku memang mencintainya? Bukankah dia juga tahu bahwa aku tidak bisa kehilangan dirinya? Tidak masalah jika dia besar kepala. Aku bahkan juga merindukan kehadirannya. Sangat rindu.
Tidak bisa dipungkiri, derap jantung di dalam dadaa semakin kencang setelah aku berdiri di depan pintu.
Mobilnya terparkir di halaman. Jadi, bisa dipastikan dia ada di dalam.Aku hanya menunggu pintu dibuka setelah memencet bel dua kali. Hingga tersadar saat tiba-tiba dia berdiri di sana–memandang diam untuk beberapa saat tanpa ekspresi apa pun. Mungkin terkejut dengan kedatanganku.