Sayap-sayap Kerinduan

1345 Kata
“Ki?” ucapnya pelan. Aku menatapnya tajam, berusaha menunjukkan kemarahan lewat mata ini. Walaupun sebenarnya ada rasa lain yang lebih besar dari sekedar kemarahan. Aku lebih merindukannya. Rindu ini jauh lebih berat dibandingkan emosi yang lain. Namun, kali ini aku ingin dia mengerti apa yang kurasakan selama kepergiannya. Dia terlihat menunduk untuk beberapa saat. “Maaf, Ki.” “Kinan cari-cari kamu, Mas. Maaf, aku harus ganggu waktu kamu.” Aku berusaha menciptakan kalimat sesingkat dan sedatar mungkin. Aku tahu, mungkin dia kecewa mendengarnya, tetapi aku ingin dia tahu bahwa diri ini jauh lebih kecewa dengan sikapnya yang menghindar belakangan ini. Apa aku salah? Dia meraih Kinan dari gendonganku tanpa berani menatap, kemudian membawa Kinan masuk, dan aku tetap berdiri di depan pintu. Dia menoleh dan menatapku lama, seolah ada yang ingin dikatakan. Namun, aku memilih membuang muka. “Masuklah, Ki. Apa harus digendong seperti Kinan biar masuk juga?” ucapnya kemudian yang sebenarnya ingin membuatku tertawa, tetapi masih bisa kutahan. Sungguh, aku ingin belajar menjaga ego agar tetap berada di puncak. Lihatlah, bahkan dia masih bisa bercanda saat aku ingin menunjukkan kemarahan. Terkadang egoku memang tinggi, tetapi sekarang aku benar-benar merindukannya. Tanpa mengiyakan dan melihatnya, perlahan mulai melangkah, menapak inci demi inci lantai rumahnya. Aku duduk di sofa tamu sambil mengamati mereka bermain di hadapanku. Aku tidak mengerti dengan perasaan pria itu, entah apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Saat bersama Kinan dia terlihat melepaskan semua beban. Bahkan dia lebih dari sekedar Ayah yang sebenarnya untuk Kinan. Namun, dia tidak menjawab pertanyaan anak itu ketika ia menanyakan ketidakhadirannya selama ini. Dia selalu bisa mengalihkan pertanyaan dengan mengajak gadis kecilku untuk terus bermain dan bercanda. Ya Tuhan, dia memang ayah yang begitu sempurna untuk Kinan. Anak itu bahkan lupa bundanya juga ikut mengantar dia kemari tadi. Menyaksikan keduanya bercengkerama, membuatku sedikit mengantuk dan bersandar pada sofa empuk yang ada di ruang tengah. Suasana rumah pun begitu nyaman dan adem, sehingga membuatku terpejam entah sejak kapan. Aku mengerjap saat terasa ada yang menyentuh pelan di pipi. Dia memamerkan senyum khasnya tepat di depan wajah begitu aku membuka mata. Aku hanya menatapnya datar, belum ingin membalas senyumnya. Membuat dia menghapus sedikit lengkungan bibirnya. “Masih marah?” Hening. Dia menjauhkan tubuhnya, lalu bersikap duduk sempurna. Tangannya ia letakkan di atas lutut sendiri, matanya melengos entah ke mana, lalu sebentar kemudian menunduk. “Maafkan aku, Ki,” ucapnya pelan. Hal yang dulu tidak kusuka darinya adalah kata maaf, tetapi hari ini aku sengaja menunggu itu. “Bukannya biasanya kamu senang kalau aku marah, Mas?” Akhirnya aku membuka suara. “Kali ini enggak. Aku malah takut. Takut kehilangan.” Takut kehilangan, tetapi sengaja menghilang. Justru aku yang lebih takut kehilanganmu, Mas. Mungkin akan lebih hancur dari sebelumnya kalau itu terjadi. “Maaf, tapi aku nggak bermaksud buat tinggalkan kamu. Aku hanya ... takut menyakiti hati kamu lagi.” Aku menoleh padanya, menatap iris coklatnya. Apa dia bilang? Dia tidak ingin menyakiti hatiku lagi? Lantas, dengan bersikap seperti itu apa dia pikir aku tidak tersakiti? “Selama ini aku memang sudah terbiasa ditinggalkan atau diabaikan, Mas. Hanya Kinan saja yang belum terbiasa,” ucapku sambil kemudian menunduk dan menyembunyikan wajah. “Kelihatan sekali kalau kamu belum bisa memaafkan aku,” ujarnya lagi. Sesaat kembali hening, hanya desau napas kami yang terdengar. “Aku hanya tahu diri saja, Mas. Seperti biasa.” Akhirnya aku mengeluarkan apa yang menjadi keluh dan resah selama ini. Dia cepat meraih jemariku. Hangat. Namun, aku menariknya perlahan. Belum saatnya. “Maaf. Aku malu, Ki. Rasanya aku nggak pantas buat kamu. Kamu terlalu baik. Sedangkan aku terlalu bodoh. Aku merasa menjadi orang pengecut. Aku juga takut kamu beranggapan bahwa aku mau mendatangi dan mendekatimu hanya karena Riyana meninggalkanku,” tambahnya lagi. Aku menatapnya padanya. “Sepicik itu pikiranmu tentangku, Mas? Kamu pikir untuk apa aku bertahan selama ini?” Aku menarik napas. “Untuk mendapatkan hati kamu, Mas. Tapi di saat aku mulai berpikir kamu sudah memberikan hatimu, di saat itu kamu menjauh. Kamu pikir aja sekarang, gimana perasaanku.” Aku kembali menundukkan wajah. Menyembunyikan kelopak mata yang mungkin memerah karena mulai terasa memanas. Namun, kemudian aku tak peduli, biar kulepas semua gundah di hati. Meski tanpa menatapnya. “Katakan, Mas. Apa lagi yang harus aku lakukan? Setiap hari aku setengah mati menghindari Angga yang nggak mau berhenti memprovokasi untuk meninggalkan kamu. Tapi aku masih terus bertahan, terus menunggu. Aku harap kamu pulang suatu saat.” Aku kembali menarik napas. "Nyatanya kamu enggak pernah pulang walaupun sesaat," lanjutku pelan. "Ki, aku ...." Aku cepat memotongnya kalimatnya. “Aku juga sempat berpikir bahwa semua yang kamu bilang ke aku itu bulshit. Omong kosong. Aku merasa seperti diberi harapan palsu. Sesaat kamu bilang sayang, rindu. Sesaat lagi kamu menghilang berhari-hari. Bahkan sekarang ... berbulan-bulan? Kamu pikir hatiku terbuat dari apa, Mas?" Kalian tahu, aku tidak pernah berpikir untuk bisa mengomel sepanjang itu. Aku tahu, se-introvert diriku duli. Ucapanku yang panjang lebar membuat mimik wajahnya menjadi lebih serius. Sejak tadi dia mendengarkan ocehanku sambil terus memandangku. Biasanya dia tertawa bila aku marah. Namun, sekarang tidak. Mungkin dia memang sedang tidak menyukai kemarahanku. Aku melempar pandangan pada lantai. Dia meraih tanganku lagi, menggenggam begitu erat. Tidak peduli aku berusaha menariknya. “Kiii ...,” serunya sambil menahan tanganku. “Tolong maafkan aku kali ini, aku salah. Sikapku pasti menimbulkan keraguan di hati kamu. Maaf.” Akhirnya kubiarkan jemariku tetap bersarang dalam genggamannya. Lagi-lagi, sejujurnya aku memang merindukannya. “Aku salah. Aku buat kesalahan lagi. Enggak ada yang harus kamu lakukan lagi, aku sudah dapatkan semua. Udah cukup, Sayang.” Beberapa detik hening lagi. Berharap dia tidak mendengar detak jantung yang berpacu karena mendengar kalimat terakhirnya. Sejujurnya aku juga lelah mengomel panjang lebar, tetapi tetap saja masih terbawa perasaan saat aku begitu mengharapkan kehadirannya. Aku lebih menunduk lagi, menyembunyikan air mata yang sudah mulai meruah. “Ki,” serunya lagi. Tangannya terulur menyentuh dagu membuat kepalaku terangkat sedikit, dia menepis bulir mata yang terlanjur jatuh mencipta jejak basah di pipi. “Maaf, Sayang. Aku janji, setelah ini nggak akan tinggalkan kamu. Kamu pikir selama ini aku baik-baik saja jauh dari kalian? Aku juga marah pada diri sendiri, kenapa begitu pengecut untuk mendatangimu saja.” Hening. Sejak mendapat genggaman tangannya tadi, seakan hutang sudah terbayar. Kenyataannya aku tidak ingin yang lain. Hanya ingin selalu berada di sampingnya apa pun yang terjadi. Keinginan yang sejak lama ada di hati ini dan masih belum berubah. “Aku juga rindu, Ki.” Dia menghela napas. “Padahal juga baru tiga bulan kita nggak ketemu tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun.” Ah, dia sudah bisa bercanda lagi. Apa dia sudah lupa dengan masalah yang menimpanya? Ingin rasanya bertanya perihal Riyana padanya, tetapi itu hanya sebatas keinginan saja. Aku tidak ingin membuatnya terbebani dengan pertanyaanku. “Aku sudah mengurus perceraian dengan Riyana. Mudah-mudahan cepat kelar. Gimana? Kamu suka?” Apa ini? Dia seperti tahu isi kepalaku? Benarkah harapanku akan menjadi nyata, mendayung perahu bersamanya. Hanya ada aku dan dia. Tanpa Riyana. “Cerai, Mas?” Aku memberanikan diri bertanya. Dia mengangguk sebagai jawaban. Kemudian menarik tubuhku ke dalam pelukannya demi menghapus jarak di antara kami. Melebur kerinduan yang sudah lama membeku. Berulang kali bibirnya mengucap cinta dan kerinduan–kalimat yang selalu kurindukan setiap saat sejak tiga bulan lalu hingga beberapa jam yang lalu. Aku benar-benar mendapatkannya kini. Sungguh seperti bermimpi lagi. Berharap tidak akan terbangun setelah ini. Bunga-bunga layu yang bibitnya dia semai, seakan kini kembali bermekaran di taman hati. Bagaimana sepasang kekasih menerbangkan sayap-sayap kerinduan, itulah yang kami lakukan saat ini. Saling menumpahkan rasa yang lama terpendam. Sambil berharap rindu dan kepasrahan yang kukirim padanya mampu menghapus jejak luka yang terlanjur membekas di hati. Tidak masalah bila saat ini aku menjadi pelarian dari lukanya, yang penting akhirnya dia mau menebar benih cinta dalam ladang hati yang subur milikku. “Makasih, Sayang,” ucapnya sambil berulang kali menghujaniku dengan kecupan usai membawaku berselam di kedalaman lautan rindu yang terlanjur dalam. “Mas, Angga masih belum menyerah. Aku capek.” Dia melepaskan pelukan. Menatap lama, membuatku menunggu tanggapannya. “Terus, kamu mau nyerah?” tanyanya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN