“Aku serius, Mas,” ucapku kemudian.
Dia tersenyum melihat perubahan ekspresi yang berusaha kutunjukkan.
“Aku tahu,” ucapnya kemudian lirih. “Sejak dulu memang seperti itu,” tambahnya lagi. Aku menatapnya dengan penuh keheranan.
“Dia masih belum berubah. Menganggap segala sesuatu adalah persaingan,” gumam Mas Aerul lagi.
“Persaingan?” Aku mencoba memahami kalimatnya.
“Iya, dan dia sudah terbiasa untuk menang.”
Aku mengernyit, tidak begitu memahami maksudnya.
“Sejak kami kecil, Mama minta aku untuk selalu mengalah darinya.”
“Walaupun dia seorang Kakak? Kenapa?” selidikku karena semakin penasaran. Yang kutahu sikap Angga tidak pernah baik pada Mama dan adiknya. Menurutku sendiri seharusnya orang tua harus bersikap adil, tidak boleh memihak pada salah satu anak saja.
“Sikap almarhum Papa selalu keras dengannya, jadi, Mama memintaku untuk selalu mengalah dengan dia. Tujuannya supaya merasa disayang Mama. Tapi itu nggak pernah terjadi, sampai sekarang hatinya masih tertutup buat Mama.” Dia menghela napas panjang.
“Apa sikap Papa memang selalu keras?” Mas Aerul memandangku. Lalu menggeleng.
“Sebenarnya enggak. Papa memang sedikit tegas, tapi juga lembut dan penuh kasih sayang dengan anak-anaknya, tapi memang dasarnya Angga lebih keras kepala dan selalu ingin menang sendiri, jadi dia terlihat lebih keras mendisiplinkan dia. Dan Mama selalu berusaha ada di belakangnya." Mas Aerul berhenti sejenak. Pandangannya menerawang, seakan menembus dinding masa lalu.
"Aku juga dituntut untuk terus mengalah, mungkin seumur hidup. Termasuk ...." Dia menoleh padaku, menatapku lemah. "Maaf ... termasuk bertanggung jawab atas perbuatan Angga, bagi Mama itu juga bentuk sikap mengalahku untuk Angga. Menikahimu waktu itu, Mama janji itu yang terakhir. Memang iya, setelah hari itu Mama nggak menuntut apa-apa lagi. Kecuali mengingatkanku tentang statusmu setelah akad kedua kita. Hampir setiap hari, dan buat aku jenuh. Benar-benar jenuh.”
Aku menarik tanganku dari lingkaran tubuhnya, kalimatnya terlalu mengganggu, dia begitu jujur membuatku sedikit menarik diri. Dia tersenyum tipis, sedikit mengejek menurutku.
“Tapi itu dulu, Ki. Sebelum aku menyadari perasaan yang sebenarnya,” tegasnya sambil menarik tubuhku lagi.
“Sejak kapan kamu merasakan itu, Mas.”
Aku jadi tertarik untuk ingin tahu.
“Aku nggak tahu pasti, tapi di hari pernikahanku dengan Riyana, yang kubayangkan sebagai hari yang paling bahagia justru aku merasakan kehampaan yang luar biasa. Aku seperti enggan melangkah, aku merasakan sesak di sini, Ki." Dia menunjuk dadanya. "Meskipun aku berusaha untuk mengabaikan dan melawan, tapi tetap aku merasa kehilangan. Saat itu aku baru sadar tentang perasaan yang sebenarnya, tapi sudah terlambat.”
Ternyata dia juga merasakan perasaan seperti itu di hari pernikahan itu. Sementara aku merasakan hati yang begitu hancur dan patah–merasa gagal untuk menjadi istri sesungguhnya untuk dia. Siapa sangka jika Allah mengirimkan perasaan itu di hati suamiku justru di hari kebahagiaannya.
Aku kembali mengenang masa sebelum dia pergi ke acaranya sendiri, sempat menghampiriku di kamar. Aku memang merasakan sesuatu yang berbeda saat itu. Sekarang baru menyadari apa itu. Seandainya dia tahu bagaimana hancurnya hatiku saat itu.
“Aku semakin merasakan kehampaan saat menyadari sikap Riyana juga berubah setelah pernikahan. Hari itu aku sadar aku sudah menjatuhkan perasaan pada tempat yang salah. Aku sudah salah mengerti arti jatuh cinta yang sebenarnya.” Dia menghela napas panjang.
“Ki, aku benar-benar merasakan kehampaan dan kerinduan yang luar biasa saat itu. Ingin mengakui, tapi malu. Malu pada Mama yang selalu mendesak untuk membatalkan pernikahan dengan Riyana karena alasan kamu. Setelah menikah, aku harus selalu berpura-pura bahagia dengan Riyana di depan Mama. Aku juga ingin Mama tahu bahwa pilihan untuk memilih Riyana adalah benar. Tapi ternyata aku salah besar dan Mama yang benar. Mamalah yang selalu mengerti melebihi diriku sendiri. Kamu tahu, Ki, aku merasakan kecemasan yang luar biasa saat kamu sakit, tapi aku terlanjur mengikat janji. Aku hampir gila memikirkan jalan yang harus kupilih. Kalau aja waktu itu Riyana jujur tentang perasaannya ... Ah. ” Dia memejamkan mata, mendongak, lalu menatap langit-langit.
Sejak tadi dia terus berbicara seolah tanpa jeda dan lelah. Entah sejak kapan aku menyukai dia yang lebih banyak bicara. Entah itu sekedar menggoda atau mencurahkan isi hatinya.
Entah mengapa waktu begitu cepat berlalu bila bersama dengannya. Padahal rindu ini belum sepenuhnya bertepi. Mas Aerul memintaku menginap di rumahnya malam ini. Dia bahkan sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Kinan. Namun, sayang, tidak untukku? Aku masih memakai pakaian yang sama meskipun sudah mandi dua kali.
“Pakai aja! Itu aku beli khusus buat kamu. Bukan punya Riyana,” ujarnya saat aku memandangi gaun tidur tipis dengan tali spaghetti yang dia sodorkan. Kenapa dia harus menyebut nama itu lagi, apakah dia belum bisa melupakan perasaannya pada wanita itu? Kalau pun gaun itu milik Riyana juga tidak akan jadi masalah bagiku, toh dia melihat aku yang memakainya. Wanita itu juga tidak di sini. Namun, yang kupikirkan bukan tentang baju ini milik siapa, tetapi kenapa aku harus memakai pakaian seperti itu di jam-jam seperti ini, azan Isya saja belum terdengar. Lagi puka aku tidak pernah berpikir untuk membeli pakaian seperti ini. Apakah Mas Aerul memang menyukai wanitanya mengenakan pakaian sejenis ini?
“Hei,” tegurnya lagi membuat anganku berhamburan entah ke mana. Aku mengangguk kemudian meraihnya.
“Gak ah. Aku mau baju yang lain saja. Ada kan?” Aku berjalan menuju lemari. Dia hanya melihat tingkahku yang serba salah. Kuharap Riyana masih meninggalkan beberapa pakaiannya yang layak pakai di lemari. Namun, sekian lama aku mencari tak juga menemukan pakaian wanita di sana. Isi lemari penuh hanya berisi pakainya saja. Kulirik dia yang hanya berdiri di sana. Dia hanya menyunggingkan senyum kecil di sana.
“Udahlah, Sayang. Bajunya cocok kok buat kamu. Ini aku loh yang pilih, sengaja aku pilih warna kesukaan kamu.”
Dari mana dia tahu jika itu warna kesukaanku?
“Iya, tapi .... Malu, Mas.” Sekarang dia malah tertawa.
“Malu sama siapa?”
Tentu saja dengannya.
Namun, jika dipikir-pikir, untuk apa juga aku malu, toh dia sudah pernah melihat semuanya beberapa kali. Tidak, tepatnya dua kali. Ya, kami baru melakukannya dua kali. Ya Tuhan, apakah aku harus terus menghitungnya? Adakah yang seperti aku, menghitung hal semacam itu ketika baru-baru melakukannya.
“Aku mau lihat Kinan dulu,” ucapku akhirnya berusaha menutupi sikap serba salah yang begitu transparan di hadapannya. Sama transparannya dengan baju tidur yang masih tergeletak manis di atas tempat tidur itu.
“Kinan, udah tidur, Sayang.” Dia menahan lenganku. “Ganti baju aja dulu, habis itu kita salat berjamaah. Aku tinggal dulu kalau memang malu,” ucapnya sambil berdiri kemudian berlalu dan menutup pintu kamar. Saat dia masuk, aku sudah siap dengan mukenaku. Kalau mukena, aku memang selalu siap di tas bila bepergian.
Ada sececah bahagia menghias di kalbu setelah akhirnya bisa merasakan salat berjamaah bersama suamiku. Entah sejak kapan dia seperti itu, tetapi terakhir bertemu dengannya sebelum ini memang terlihat enggan untuk meninggalkan salat. Tidak seperti sebelumnya.
“Oya, aku udah telepon Mama kalau kalian nginap di sini,” ucapnya sambil melepas sarungnya, aku meraihnya begitu kain itu terlepas, untuk membantu melipat.
“Gini doang, aku juga bisa,” ucapnya sambil berusaha menghindar.
“Bukannya terakhir kali kamu bilang aku boleh melayanimu seperti istri-istri yang lain.” Dia menurut.
“Tapi bukan yang ini maksudnya,” gumamnya lirih, tetapi masih terdengar jelas olehku.
Aku duduk di tepi ranjang setelah selesai melipat sarung dan menggantungnya dengan hunger.
“Jadi, yang gimana?” tanyaku kemudian.
Sungguh, aku tidak mengerti maksudnya. Memikirkan pakaian yang masih tertutup mukena saat ini benar-benar membuat otak buntu.
Dia hanya menjawab dengan seulas senyuman.
“Itu mukena kapan dilepasnya?” celetuknya membuatku tersadar bahwa mukena memang masih membalut tubuh ini. “Atau mau aku bantu lepasin?” Mendengar itu aku buru-buru melepaskannya.
Setelahnya aku seakan kehabisan kata-kata di hadapannya. Aku duduk menyandar pada bahu ranjang.
“Ki, bantuin aku, dong.” Dia tiba-tiba sudah ikut duduk di sisi kiriku menata selimut, bersiap untuk tidur.
“Bantuin apa?” Refleks aku bertanya.
“Bantu hilangin kangen. Dari tadi nggak hilang-hilang,” bisiknya pelan.
Aku melengos, membuang muka pada nakas di samping ranjang. Kulihat layar ponselnya menyala. Nama yang tertera di sana membuat denyut nadi semakin tinggi. Ya, nama Riyana tercetak jelas di sana. Hanya, nama. Tanpa foto seperti dulu. Ada rasa yang menggelenjar di dalam sini, mengimpit dan membuat sesak. Aku menunduk, mencoba menutupi semua itu darinya.