Pelan aku meraih benda pipih itu. Perasaan yang berkecamuk di dalam membuat tangan ini menggenggam erat ponselnya sambil memberikan pada si empu. Dia menoleh. “Angkat, dong,” ujarnya sambil tersenyum. Bisa-bisanya dia tersenyum saat bongkahan merah milikku di dalam sana seperti melepuh. Aku menggeleng. Kubiarkan sampai panggilan berakhir. Namun, tidak sampai di situ, selang beberapa detik nama itu muncul lagi di layar ponselnya. Dia mengangguk, seolah membiarkan aku mengangkat. Aku menurutinya, tetapi tidak langsung mengatakan sesuatu. Hening. Dari seberang pun tidak ada suara. “Halo.” Kuberanikan untuk menyuarakan diri. Tidak ada jawaban dari sana. Malah suaraku berbalik dan bergema beberapa kali. Jantungku sudah semakin berderap kencang sejak tadi. Bisa jadi Mas Aerul melihat mu

