Sentuhan halus kurasakan di pipi, mengembalikan kesadaran perlahan. Samar kulihat wajah mungil putriku menatap tak berkedip. “Nda.” Suara lirihnya menyapa samar gendang telinga. Aku masih berusaha mengumpulkan kesadaran, mengingat apa yang sudah terjadi. Rasanya seperti aku sudah tidur begitu lama. Berat terasa menindih kelopak mata saat ingin meluaskan pusat pandangan. Ingatan yang melesat masuk ke kepala begitu saja membuatku terkesiap dan ingin bangkit begitu saja. Namun, lagi-lagi seakan ada batu besar menindih kepala ini. “Bunda.” Sekali lagi terdengar panggilan pelan dari Kinan. Aku mencoba tersenyum, menepis gelisah yang sebenarnya tengah menguasai ruangan hati. Perlahan rasa sakit di kepala berangsur menghilang. Putri kecilku memeluk tubuh ini secara tiba-tiba. “Bunda jangan

