“Sayang, Ayah berangkat, ya,” ucap Mas Aerul setelah selesai menyantap sarapan dan meneguk segelas air. Kinan membalas mendaratkan kecupan di pipi Mas Aerul setelah pria itu lebih dulu melakukan hal yang serupa. Aku baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggendong baby Sultan. Namun, sengaja menyempatkan diri untuk berhenti sejenak, melihat adegan yang tidak pernah membosankan mata itu. Aku menarik senyum saat bertemu tatap dengannya. “Sayang, ada yang cariin kamu di depan. Kamu pasti senang ketemu mereka?” Mereka? Sepagi ini? Siapa yang dimaksud Mas Aerul. “Siapa, Mas?” Dia menjawab pertanyaanku dengan senyuman khasnya. Ah, masih saja melenakan. “Nanti kamu juga tahu. Yang jelas tamu istimewa.” Dia menjawab akhirnya. Aku masih mengerutkan dahi saat dia meninggal jejak manis

