Angga meminta untuk berbicara dengan Mas Aerul setelah aku berhasil mengorek informasi tentang telur kotak yang dimaksud Kinan tadi. Meskipun anak itu sudah lebih baik setelah berbincang dengan sang papa. Namun, tidak ada salahnya, bukan, untuk antisipasi ke depannya. "Apa ada lagi makanan baru dan khusus lain yang sering kamu masakin untuk Kinan." Aku memberanikan diri untuk bertanya. Sekali lagi antisipasi. Angga terdiam cukup lama. Beberapa detik. "Ada." Dia kemudian menjawab pelan. "A–pa?" tanyaku pelan. Lagi. Prima di seberang sana kembali diam beberapa saat. "Angga." Aku masih menunggu dan menuntut jawabannya. "Nasi goreng," jawabnya singkat. "Aku bisa minta resepnya juga?" tanyaku cepat. "Untuk apa?" Aku mengerutkan dahi. Pertanyaan aneh. Tentu saja untuk jaga-jaga kalau

