“Kita pulang, 'kan, Ngga?” Aku bertanya sambil mengulas senyum begitu dia mulai memulai berkemudi. Atas komandonya aku duduk di kursi belakang bersama Kinan. Aku mendengkus kesal saat tak mendapat jawaban dari pria itu. Dia terus mengemudi tanpa berkata apa pun. Sesekali matanya melihat layar ponsel yang menampilkan aplikasi map. Aku mencuri pandang pada ponselnya, ingin mencari jawaban sendiri pertanyaanku. Namun, sia-sia, jarakku terlalu jauh, aku tidak bisa melihat apa pun. Sepertinya aku sudah harus memeriksa kesehatan mata, bisa saja memang sudah mulai minus. Aku memutar tubuh, menyelidiki pemandangan yang benar-benar asing. Tunggu! Aku menemukan sesuatu yang tidak asing di kejauhan sana. Sebuah menara yang bentuknya menyerupai mahkota pengantin. Kami bergerak menjauh dari menara i

