Pria itu membawa Kinan dengan menyandarkan kepala di bahunya. Anak itu tampak nyenyak tidur di sana. “Maaf, Kia. Aku terpaksa ke sini. Aku telepon kamu berkali-kali enggak diangkat. Aku telepon Aerul juga sama. Jadi, aku antar aja. Tolong bilang sama Aerul, jangan cabut izin aku buat ketemu Kinan. Kinan juga yang merengek-rengek minta pulang. Kadang aneh juga nih anak, giliran aku ajak jalan-jalan, main, beli mainan, dia jingkrak-jingkrak, tapi giliran tidur nggak mau lagi sama Papanya." Angga menjelaskan panjang lebar. Namun, aku hanya menanggapinya dengan ekspresi datar. "Kalau nggak percaya lihat aja nih, matanya masih sembab gara-gara nangis nyariin kamu." Dia sedikit memutar tubuh, menghadapkan wajah Kinan padaku. Dia memang tidak berbohong, masih terlihat bekas air mata di pipi da

