Tentang Perasaan

1422 Kata

Pria itu membawa Kinan dengan menyandarkan kepala di bahunya. Anak itu tampak nyenyak tidur di sana. “Maaf, Kia. Aku terpaksa ke sini. Aku telepon kamu berkali-kali enggak diangkat. Aku telepon Aerul juga sama. Jadi, aku antar aja. Tolong bilang sama Aerul, jangan cabut izin aku buat ketemu Kinan. Kinan juga yang merengek-rengek minta pulang. Kadang aneh juga nih anak, giliran aku ajak jalan-jalan, main, beli mainan, dia jingkrak-jingkrak, tapi giliran tidur nggak mau lagi sama Papanya." Angga menjelaskan panjang lebar. Namun, aku hanya menanggapinya dengan ekspresi datar. "Kalau nggak percaya lihat aja nih, matanya masih sembab gara-gara nangis nyariin kamu." Dia sedikit memutar tubuh, menghadapkan wajah Kinan padaku. Dia memang tidak berbohong, masih terlihat bekas air mata di pipi da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN