Kemarahan yang Terpendam

1086 Kata

Mas Aerul masih diam hingga kami kembali ke kamar. Tanpa kata-kata dia menurunkan koper di atas lemari kemudian membukanya. Dia memindahkan beberapa potong pakaian dari lemari ke koper. "Mas?" "Kita balik ke rumah." "Tapi, Mas." "Kamu berat ninggalin dia?" Aku menggeleng. "Sultan masih kecil, aku ...." Aku sadar, tanpa bantuan Mama aku tidak bisa full mengurus Sultan. Terkadang Kinan juga masih manja. Lalu saat Mas Aerul pergi ke kantor, bagaimana aku mengurus mereka? Pria itu tidak menghiraukan keluhanku. Dia sibuk memilah pakaian kami kemudian memasukkan ke dalam koper. "Kasihan Mama, Mas." Salah satu alasanku tetap tinggal di rumah ini adalah Mama. Wanita paruh baya itu pasti kesepian jika kami tinggalkan lagi. "Kamu tenang aja, Mama nggak akan kesepian. Ada anak kesayanga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN