Aku menggigit bibir. Mencoba menimbang apa yang harus kukatakan. Memberi tahunya bahwa aku sudah menandatangani surat pengajuan cerai? Rasanya tidak mungkin. Mas Aerul pasti akan terluka, tetapi cepat atau lambat dia pasti akan tahu. Ya, Allah. Apa yang harus kulakukan? “Ki,” seru Mas Aerul lagi mengejutkanku. “Iya, Mas. Dia minta aku mendengarkan kisah hidupnya. Termasuk masa kecilnya.” Mas Aerul mengerutkan kening. “Cuma itu?” “Ada lagi yang ingin kamu ceritakan?” desak Mas Aerul lagi. Aku bergeming. Aku memang tidak berbohong, hanya tidak berterus-terang dan itu menciptakan rasa bersalah yang begitu menyesakkan. “Dia bilang merasa kesepian sejak kepergian ibunya.” Aku mulai mengulang cerita Angga. “Aku tahu, bahkan Mama menganak tirikanku demi membuat dia enggak merasa ke

