"Huahhh, akhirnya bisa ngehirup udara Indonesia lagi" Ucap seorang gadis dengan perawakan bak model profesional. Wajahnya yang putih dan mulus, serta bentuk tubuhnya yang idaman para laki-laki.
Namanya adalah Kanaya Princessa Dananjaya.
Dirinya mengambil sekolah di negri orang hanya karena alasan ingin menjajal pendidikan di luar negara.
"Nay..." Teriak seorang laki laki dengan wajah tampan bak Dewa Yunani, yang sedang melambaikan tangannya ke arah Kanaya. Dengan senyuman yang menghiasi wajah tampannya, membuat kaum hawa yang berlalu lalang akan menatap kagum padanya.
Kanaya berjalan dengan dua bodyguard kepercayaan nya. Dengan santai ia melangkah, mengabaikan tatapan berbeda-beda dari setiap orang. Segera ia memeluk kakak laki-laki satu satunya yang ia sayangi.
"Ughhh, gue kangen lo" Ucap Kanaya. Dirinya dengan segera mempererat pelukan mereka, melepas rindu selama 2 tahun belakangan ini tak bertemu.
"Gue juga kangen sama lo, gimana Sekolah di London. Apa bedanya sama Indonesia?" Ucap laki-laki itu setelah melepaskan pelukannya dengan sang adik.
"Sama aja, tapi seru tau" Ucap nya dengan wajah yang berbinar, menatap sang kakak dengan penuh minat. Menceritakan seluruh pengalaman menyenangkannya selama di London.
Laki-laki itu terkekeh geli, "yaudah yok, masuk mobil. Capek kan lo?" Ucap laki laki itu dan langsung di angguki oleh Kanaya.
"Tau gak bang??... Sekolah di luar negeri tu lumayan enak tau." Ucap Kanaya membuka obrolan, kini keduanya sedang dalam perjalanan menuju mansion keluarga Dananjaya, dengan dikawal oleh dua mobil sedan hitam, yang berada di depan dan belakang mobil yang di tumpangi Kanaya.
Oh ya, laki-laki yang sedang menyetir mobil di samping Kanaya ini adalah kakak kandung Kanaya, namanya Imanuel Ferrellio Dananjaya. Biasa di panggil Manuel. Namun, Kanaya mempunyai panggilan istimewa.
"Enak dari mananya? Jauh dari mama, papa terus juga suasana iklim yang beda banget sama Indonesia. Mana ada enak nya?" Tanya penasaran Manuel.
"Ya enak lah, tau gak bang. Di sana tu banyak cogan nya, putih putih. Terus pada maco walaupun masih SMP." Jelas Kanaya.
"Halah, masih gantengan gue kali" Ucap Manuel tak Terima dengan pernyataan yang di buat adiknya.
"Sih Ima narsis" Ledek Kanaya dengan menjulurkan lidah nya.
"Hah?! Tadi manggil gue apa??" Tanya Manuel
"Ima" Jawab Kanaya dengan wajah tanpa dosa nya
"Heh nama panggilan gue Manuel, bukan Ima. Kek cewek tau ga?" Kesal Manuel, tangan kirinya, ia gunakan untuk mengusap kasar rambut Kanaya. Hingga kini rambut yang sudah Kanaya tata selama 2 jam itu hancur lebur tak sampai lima menit.
"IMAAAAAA, RAMBUT GUE!!" Pekik Kanaya kesal. Rasanya sedikit dongkol, rambut yang ia tata selama 2 jam lama nya, di buat seperti rambut gelandangan oleh makhluk tampan di samping nya ini. Dan waktunya pun tak sampai lima menit, siapa yang tak dongkol coba?
"Hahahahahaha"
~~~
Setelah beberapa waktu lamanya berada di jalan, akhirnya Rombongan Kanaya tiba di sebuah mansion besar milik keluarga Dananjaya.
Kepulangan Kanaya dari London, di sambut besar besaran oleh kedua orang tuanya. Tak lupa juga membuat beberapa makanan kesukaan Kanaya.
"Hai sayang, gimana London?" Tanya Rania, ibu Kanaya. Rania menggunakan dress merah muda yang di padukan dengan rambut lurus nya yang berwarna gradasi merah muda dan merah tua. Membuat dirinya menjadi berkali-kali lipat lebih anggun dari biasanya.
Di sebelah Rania terdapat Arthur yang menggunakan Tuxedo berwarna senada dengan milik istrinya. Tangan kanan Arthur memeluk possessive pinggang mungil istrinya.
"Mamaaaaa, Kanaya kangeeeeen banget" Ucap Kanaya, menghiraukan pertanyaan ibunya. Dengan tergesa gesa, ia memeluk erat wanita yang telah melahirkan nya itu.
R
ania membalas pelukan Kanaya dengan tak kalah eratnya, membuat Arthur dan Manuel sedikit tersentuh atas perilaku ibu dan anak yang sudah 2 tahun tak bertemu.
"Udah udah, acara pelukan nya di lanjut nanti... Sekarang kita masuk dulu" Ucap Arthur membuat pelukan keduanya terurai.
"Papaaaaa" Pekik Kanaya dan langsung bergantian memeluk erat d**a bidang ayahnya itu. Tanpa segan, Arthur membalas pelukan putri bungsunya itu.
"Ayo, masuk. Mama sama papa udah siapin semua makanan kesukaan kamu" Ucap Rania lembut dan membimbing Kanaya masuk, meninggalkan Manuel dan Arthur di belakang.
"Kebiasaan, pasti Manuel di tinggal" Dengus Manuel kesal.
"Hahaha, yaudah yuk masuk kamu" Arthur merangkul pundak anak laki-laki nya, yang tinggi badannya sudah sedikit lebih tinggi darinya.
-Perjodohan-
Setelah menghabiskan waktu bersama, kini tak terasa malam hari pun datang menjemput. Membuat Kanaya harus mengakhiri sesi cerita tentang London ke pada keluarganya.
Dengan gontai Kanaya berjalan menuju kamarnya, matanya sudah tak tahan menahan kantuk yang melanda. Kedua matanya terasa sangat berat, hingga ia ingin buru buru sampai di kamar.
Kanaya merebahkan tubuhnya di kasur besarnya, dirinya malas untuk bangkit sekedar cuci muka atau gosok gigi. Sekujur tubuhnya lelah, akibat perjalanan panjang yang ia alami.
Tak membutuhkan waktu lama, mata indah kanaya dengan perlahan mulai tertutup. Menyelami samudra mimpi.
Kicauan burung terdengar saling manyahuti, menghiasi perputaran waktu yang kian bertambah. Mentari dengan malu malu mulai menampakkan wujudnya.
Pagi mulai menyambut, cahaya matahari yang telah berada di atas mulai masuk kedalam kamar Kanaya, yang masih bergelut dengan mimpi nya.
Cahaya matahari yang telah masuk seolah tak mengganggu tidur cantiknya, sehingga membuatnya hanya mengeliat menghindari paparan cahaya matahari.
Alarm di atas nakas telah berbunyi, menunjukkan bahwa kini telah tepat pukul 05.00 pagi. Tangan kanaya, terangkat ke arah alarm nya berasal, dan mulai mematikan alarm.
Dirinya bangun dari posisi rebahan nya, lalu sedikit melakukan perenggangan kecil, supaya otot-otot yang tak terlalu terkejut.
"Masih ngantuk..." Gumam Kanaya dengan suara seraknya, matanya belum sepenuh nya terbuka.
Dengan malas, Kanaya berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya. Setelah beberapa menit melakukan ritual mandinya, Kanaya segera memasuki walk in closet , tempat ia menyimpan berbagai dress, baju santai, serta celana celana nya.
Setelah siap, Kanaya turun ke lantai bawah. Dilihatnya sekeliling mansion keluarganya. Para maid tengah berlalu lalang membersihkan mansion keluarganya. Ini adalah sebuah pemandangan yang sudah biasa Kanaya saksikan.
Kanaya berjalan ke arah taman belakang rumahnya, sudah kebiasaan Kanaya, jika bangun pagi maka Kanaya akan sedikit bermain dengan kelinci peliharaan nya.
Sudah lama ia tak bertemu dengan hewan lucu itu. Setelah sampai di taman, Kanaya segera menghampiri sebuah kandang yang lumayan besar, dengan dua kelinci putih di dalamnya. Kelinci itu sepasang, Kanaya membelinya saat ia kelas 6 SD. Waktu itu, ia merasa kesepian, orang tuanya selalu berpergian ke luar kota, dan Imanuel selalu sibuk dengan tugas sekolahnya. Jadi Kanaya merengek minta di belikan sepasang kelinci.
"Hai moca moci" Sapa Kanaya kepada dua makhluk imut ciptaan Tuhan yang sedang memakan wortel nya.
Kanaya sedikit terkekeh geli, ketika mendapati salah satu kelincinya yang bertingkat lucu.
"Hai moci, kamu ngapain sih??" Kedua tangan Kanaya mengangkat salah satu kelinci gemuk, yang di beri nama moci itu.
Dengan senang hati ia mengelus bulu lembut milik moci.
Kanaya memberikan sepotong Wortel yang sudah di bersihkan, kepada moci yang berada di pangkuannya. Moca yang melihat pasanganya berada di pangkuan Kanaya, langsung berlari dan melompat ke atas tubuh Moci, hingga mereka menumpuk di pangkuan Kanaya. Gadis cantik itu tertawa melihat tingkah imut bin ajaib kelinci kelinci miliknya.
Setelah puas bermain, Kanaya masuk ke dalam rumahnya, karena hari yang juga semakin siang.