Makan Malam

1090 Kata
"Ehh nay, lo abis dari mana" Suara bariton milik Manuel mengagetkan Kanaya yang baru saja memasuki mansion, seusai bermain dengan kelincinya. "Kaget gue ima" Ujar ketus Kanaya, sembari berjalan melewati Manuel yang berdiri di ujung tangga. "Yeu di tanya juga" Manuel berjalan menghampiri Kanaya yang telah duduk manis di salah satu kursi di meja makan. "Bodo" Ucap Kanaya. "Pagi sayang, tumben udah bangun" Ujar Rania, yang baru turun dari anak tangga menuju ruang makan. Dirinya tampak cantik dengan balutan sebuah dress panjang berwarna merah Maron. "Pagi ma" Jawab serentak Kanaya dan Manuel, membuat keduanya saling menatap. "Dih, ngikutin" Ucap Kanaya tak Terima. "Elo kali ngikutin, gue duluan juga" Ucap Manuel tak mau kalah. "Lo yang ngikutin ima, jelas jelas ta— " Udah udah, sekarang duduk manis di meja makan, sambil tunggu papa. Gak ada acara berantem beranteman" Potong Rania kesal, pagi pagi begini kedua anaknya sudah berdebat saja. Manuel dan Kanaya duduk bersebelahan, di hadapan Kanaya kini telah duduk ibu Kanaya dengan anggunnya, menunggu sang kepala keluarga untuk selesai bersiap. "Pagi semua" Akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga. Dengan gaya khas nya, Arthur jalan menuju kearah meja makan. "Pagi pa" Jawab Kanaya dan Manuel. "Kok mukanya di tekuk sih sayang? Kenapa?" Tanya Arthur kepada putri bungsunya. "Ima tuh pah, ngeselin" Ujar kanya dengan bibir yang ia majukan bermaksud bersikap imut kepada papa nya. "Loh kok gue? Lo mulai duluan ya" Manuel yang tak terima. "Sudah sudah, ayo makan aja, biar gak berantem kalian" Ujar Arthur kepada anak anaknya. Seketika mereka makan dengan nikmat. Setelah beberapa menit, akhirnya keluarga Dananjaya menghabiskan seluruh makanannya. "Manuel, Kanaya. Nanti malam kalian jangan kemana mana ya, mau ada makan malam sama keluarga Dirgantara." Ucap Arthur kepada anak anaknya. "Iya papa" Ucap Manuel setelah menenggak habis jus stroberi favorit nya. "Loh pah, nanti malem aku mau jalan sama temen temen aku" Ucapan Kanaya meminta izin. "Batalin aja ya sayang, kita mau makan malam antar keluarga loh" Ucap lembut Raina kepada putrinya. "Yahhh, padahal kan udah dari minggu kemarin janjiannya, waktu aku di London. Masa batalin nya dalam sehari. Dadakan pula" Gerutu Kanaya kesal. Hari ini Kanaya berencana Girls time dengan sahabat sahabat nya. Ia kangen dengan ke dua sahabat b****k nya. Rencana ini sudah di susun dari jauh jauh hari, maka sebab itulah ia kesal setengah mati oleh kedua orang tuanya, yang menyuruhnya membatalkan janji yang sudah Kanaya buat. "Kanaya..." Tegur mama Kanaya, wajahnya menampilkan raut yang meyakinkan, supaya Kanaya membatalkan janjinya itu. Oke, Kanaya lemah dengan wanita yang sudah melahirkan nya itu. Baiklah, kali ini Kanaya akan menyerah, mungkin tidak untuk lain waktu. "Ok, Kanaya batalin..." -Fake Nerd- Dengan wajah tertekuk, Kanaya membuka pintu kamarnya, dan segera menutup pintu kamar setelah ia masuk kamar. Cepat cepat Kanaya mengambil ponsel pintar nya, dan membuka room chat antara Kanaya dan sahabat sahabatnya, setelah ia duduk di tepi kasur. Para Cabe Pasar Bianca, Andhara, Kanaya Guys| Bianca cans |aya naon?? Andhara anak siwon |kenawhy? Zeyenk Ehm... | Gue ada acara mendadak| Bianca cans |lalu?? Gak bisa ikut girls time| I'm so sorry :((| Andhara anak siwon |yahhhh | acara paan sih emang? Bianca cans |ho'oh acara paan?? Makan malam, sama Keluarga Dirgantara| Tadinya pen gak ikut| Tp di paksa?| Bianca cans |yaudah selaw aja Andhara anak siwon |next time aja |gak papa Maaaaaaaf| ???| Andhara anak siwon |sans elah Bianca cans |2^ Read by 2 Kanaya menghembuskan nafasnya kasar, ia masih merasa kesal dengan acara dadakan yang di buat oleh kedua belah pihak keluarga itu. Setahu Kanaya, makan malam antara keluarga Dananjaya dengan keluarga Dirgantara dapat di kategorikan jarang, bahkan sangat jarang. Jika tak membahas suatu yang penting, kedua keluarga itu tak akan melakukan makan malam. Firasat Kanaya tak enak. Kanaya membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang, memandang langit langit kamarnya yang di desain khusus menyerupai langit cerah lengkap dengan hiasan awan awan. Sejenak Kanaya berpikir, ada acara apa keluarganya mengundang keluarga Dirgantara untuk makan malam di mansion keluarga nya ini. Keluarga Dirgantara adalah keluarga terkaya no satu di dunia. Kekayaan nya tak akan habis jika membiayai kehidupan lebih dari 18 keturunan, tanpa bekerja. Dan keluarga Dananjaya berada di nomor dua, bisa di bilang perbandingan penghasilan keluarga mereka hanya beda tipis. Mereka juga sangat akrab layaknya saudara jauh. Tanpa sadar, kedua mata indah Kanaya mulai terpejam dan menyelami indahnya alam mimpi. -Kanaya- Sekarang sudah pukul 5 sore, karena makan malam akan di mulai 2 jam lagi. Kanaya sedang mempersiapkan diri, mulai dari mandi dengan taburan kelopak mawar, dan memakai lulur. Kanaya juga sudah memilih gaun yang cocok untuk ia kenakan nanti, tak terlalu ribet dan tak terlalu norak, namun terkesan elegan. Sekarang Kanaya sedang duduk di meja rias nya, dengan sedikit sentuhan pada wajahnya. Kanaya terlihat seperti putri raja sekarang. Rambutnya yang hitam legam di tata sedemikian rupa hingga membentuk sebuah tataan rambut yang simple namun terkesan cantik. Setelah meloloskan sedikit liptint Kanaya telah siap, Kanaya tak terlalu suka dengan tampilan full make up seperti kebanyakan remaja lainnya. Menurutnya itu sedikit berlebihan, karena pada umumnya cantik itu dari hati bukan hanya penampilan. Percuma jika penampilan nya bagus namun hatinya buruk. Kanaya sudah siap sekarang, keluarga Dirgantara telah tiba di mansion keluarga Dananjaya sejak 20 menit yang lalu. Bagaimana kanya tahu? Tadi ada seorang maid yang menghampiri Kanaya, dan berkata, tamu sudah datang, dan menyampaikan pesan mama Raina bahwa Kanaya harus segera selesai bersiap diri. Dengan gaya anggunnya, Kanaya turun dengan perlahan menuju ruang tamu, karena waktu makan akan di laksanakan 30 menit lagi. Maka mereka sepakat untuk mengobrol diruang tamu. Semua pasang mata menatap Kanaya kagum, dengan senyum mengembang, Raina mempersilahkan Kanaya duduk di sampingnya. "Kenalin ini Kanaya, putri bungsu keluarga Dananjaya" Ucap Raina memperkenalkan Kanaya. "Wah Kanaya cantik banget, cocok deh sama fian" Ucap seorang wanita paruh baya. Kanaya mengernyit bingung, maksudnya cocok dengan fian tuh apa ya? Kanaya bingung. "Iya ya bun, Kanaya cantik, cocok banget sama fian" Ucap pria paruh baya yang duduk di samping wanita tadi. "Ehmm.....?" Gumam Kanaya, bermaksud memberi kode kepada orang tuanya, untuk menjelaskan situasi yang sedang memenuhi atmosfer ruang tamu ini. "Hahahaha, kamu pasti bingung ya cantik?" Ucap pria paruh baya tadi dan langsung di angguki kanaya. "Jadi, kita berencana mau jodohin kamu sama Alfian. Putra bungsu keluarga Dirgantara" Ucap papa Arthur menjelaskan. Sedangkan Kanaya, ia hanya memandang kedua orang tuanya, lalu beralih memandang seorang laki-laki tampan yang memasang wajah datarnya. Laki laki itu duduk di samping pria paruh baya yang Kanaya yakini sebagai kepala keluarga Dirgantara. "Kanaya bingung" Beo kanaya. Membuat semua orang yang ada di ruang tamu terkekeh geli, melihat kebingungan Kanaya yang menurut mereka adalah tingkah yang imut. Kecuali laki-laki yang sedari tadi memasang wajah datarnya sambil menatap Kanaya intens. Membuat Kanaya memalingkan wajahnya. Bukannya senang, Kanaya malah mendengus kesal, karena di tatap se-intens itu. "Yaudah pembicaraan nya di lanjut nanti aja, sekarang kita makan dulu" Ucap Raina kemudian. Semuanya beranjak dari sofa yang di duduki lalu mulai berjalan menuju meja makan, Kanaya berjalan di samping Manuel. Tangan Manuel merangkul pinggang ramping Kanaya. Sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. "Ima, maksudnya paan sih? Gak ngerti gue" Bisik pelan Kanaya kepada Manuel yang jalan menuju meja makan di sampingnya. "Percuma sekolah di luar negeri tapi b**o tetap mendominasi" Cibir Manuel, membuat Kanaya mendengus kesal, dan dengan sengaja mencubit perut Manuel. Membuat Manuel memekik kesakitan, semua yang hendak duduk di meja makan pun menoleh ke arah mereka berdua, termasuk laki-laki yang setia dengan wajah datarnya. Yang di ketahui namanya Alfian. "Kenapa Manuel?" Tanya mama Raina memasang raut khawatir miliknya, membuat Manuel sedikit tersenyum kikuk. "Ehm ini ma, tangan Kanaya kaya capit kepiting, sakit banget cubitan nya" Jujur Manuel seraya melirik Kanaya yang memutar bola matanya jengah. "Sudah sudah, kalian cepat duduk" Titah papa Arthur yang langsung di turuti keduanya. Kanaya memilih duduk di samping Manuel, yang juga kebetulan berhadapan dengan Alfian yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak gerik Kanaya. Membuat Kanaya sedikit risih. "Silahkan di nikmati hidangan nya" Ucap Arthur yang duduk di sebelah Raina. Semuanya makan dengan tenang, Kanaya makan tak terlalu banyak, karena ia berencana ingin mie time nanti malam sembari menonton film karya Korea, atau drakor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN