Kanaya menatap kesal kedua sahabatnya yang kini telah mengambil tempat duduk tepat di belakang tempat ia duduk. Setelah mengenalkan diri, mereka di persilahkan duduk di bangku belakang Kanaya.
Bianca dan Andhara sedari tadi memasang wajah dinginnya, membuat aura mereka tampak menyeramkan. Mungkin?
Pelajaran pun dimulai setelah Bianca dan Andhara duduk tepat di tempat yang entah sejak kapan di siapkan, pasalnya waktu Kanaya memasuki kelas ini, ia duduk bersama Laurent di bangku paling belakang, dan sekarang. Muncul dua bangku lagi untuk di tempati oleh mereka berdua.
Kanaya menyimak dengan seksama penjelasan guru di depan kelas, walau ia tak tergolong mejadi siswi cerdas, namun ia cukup pintar untuk ukuran remaja seumurannya.
Setelah dua jam duduk diam sembari menyimak penjelasan guru, akhirnya bel istirahat pun berbunyi nyaring. Membuat seluruh siswa terpekik senang. Menghabiskan dua jam dengan belajar adalah pilihan terburuk bagi mereka.
"Kantin yuk nay" Ajak Laurent kepada Kanaya. Tak lupa Laurent juga mengajak dua teman barunya yang duduk di bangku paling belakang. Tentu saja Bianca dan Andhara.
"Kalian juga mo ikut gak?" Ajak Laurent kepada mereka berdua.
"Hm" Di balas gumaman oleh Bianca dan Andhara.
Begini lah sikap mereka, jika bertemu dengan orang baru. Lain ceritanya jika dengan Kanaya, sudah di anggap sebagai adik kecil mereka. Mungkin karena mereka yang berteman dari kecil, jadi sudah saling menganggap keluarga masing masing.
Sifat Kanaya dengan keduanya bertolak belakang, jika kalian pikir Kanaya ketus dan memasang wajah dingin nya. Kalian salah, kanaya selalu masang wajah bersahabat, dan ramah. Namun jika pada orang yang tak di sukainya, Kanaya akan merubah dirinya menjadi monster mengerikan.
Mereka berempat jalan beriringan ke arah kantin, dalam perjalanan kesana, tak jarang pula Kanaya mendapat cacian serta makian membuat kedua sahabatnya geram.
Jika mereka tau siapa Kanaya sebenarnya, mungkin mereka akan bungkam dan bertekuk lutut terhadapnya.
Setelah tiba di kantin, mereka mencari tempat duduk di bagian pojok dekat dengan sebuah pohon yang menjulang tinggi. Udara nya sejuk membuat mereka tenang dan melupakan amarah tentang orang orang yang berani menghina putri Dananjaya.
"Kalian pesen apaan? Gue pesenin" Tanya Laurent. Sebenarnya Laurent sedikit canggung bersama kedua teman barunya, mungkin karena mereka berdua yang memasang wajah tak bersahabat nya. Beda sekali dengan Kanaya.
"Mie ayam aja tiga sama es teh manis juga tiga" Jawab Bianca dengan wajah datarnya. Suara yang di keluarkan nya pun terdengar ketus dan tak bersahabat.
"Eh nay, lo kok tahan sih, sama mulut sampah kaya mereka?" Tanya Andhara kepada kanaya setelah Laurent pergi beranjak memesankan mereka makanan.
"Demi penyamaran" Jawab Kanaya singkat. Matanya ia edarkan meneliti suasana kantin yang sedikit riuh dan ramai.
Tak lama kantin di penuhi dengan pekik kan tertahan dari semua siswi, tatkala empat mos wanted masuk dengan wajah lempeng nya.
Aura ketampanan mereka bertambah dengan memasang wajah dinginnya, tampak cool bagi kaum hawa.
"Ehhh itu kak nuel?" Tanya Bianca heboh, sejenak ia melupakan sikap jutek dan dinginnya dari awal masuk sekolah ini.
"Hm"
"Wih tambah ganteng aja pujaan hati" Ucap Bianca dengan mata yang tak lepas dari Manuel, yang sekarang sedang duduk dengan teman teman nya di salah satu meja yang tak jauh dari tempat duduk mereka.
"B aja keles" Ucap Andhara jengah dengan segala tingkah yang di buat Bianca.
"Ehh tunggu, itu alfian ya? Itu bukan sih yang lo maksud nay?" Tanya Bianca, mencoba menghiraukan ucapan Andhara tentang dirinya.
Kanaya hanya menganggukkan kepalanya singkat. Malas menanggapi segala ocehan yang Bianca tanyakan.
•••*•••
Kanaya dan teman teman nya sedang menikmati makan siang mereka, beberapa menit setelah kedatangan mos wanted sekolah itu, Laurent datang dengan membawa nampan yang berisi mie ayam dengan diikuti wanita paruh baya yang membawa empat es teh manis ke meja mereka.
"Ehhh lo cium bau sampah gak?" Tiba tiba datang Rachel dan dayang dayang nya ke meja Kanaya dan teman temannya.
"Ih iya bau sampah ya" Sahut Ela menanggapi ucapan Rachel barusan.
Kanaya tau, mereka sedang membicarakan dirinya.
"Eh lo anak baru kan? Mending makan sama kita aja yok. Dari pada deket deket sama sampah kek dia kan. Bikin iritasi kulit" Ucap Dina memanasi kondisi.
Namun ucapan ucapan mereka hanya dianggap angin lalu oleh Bianca dan Andhara. Mereka muak dengan cabe cabe seperti Rachel, Ela, dan Dina.
Sudah biasa bagi mereka untuk tak meladeni ucapan tak bermutu dari beberapa gadis yang suka mencari perhatian seperti Rachel dan kawan kawan nya.
"Eh lo denger gak kata sahabat gue??" Tanya Rachel mulai geram.
Merasa tak ada sahutan Rachel menggebrak meja tempat mereka makan.
BRAKKK...
"JAWAB b**o, JADI ADEK KELAS AJA SONGONG LO" Ucap Rachel setelah menggebrak meja.
Suara bising yang di hasilkan meja, mulai mengalihkan atensi seluruh penghuni kantin. Tak ada yang berani menghentikan aksi ratu Bullying di sekolah itu. Mereka takut dan tak mau mencari cari masalah dengan mereka bertiga.
Andhara yang kebetulan makanannya sudah habis, dan meninggalkan kuah mie ayam. Langsung menyiramkan kuah mie ayam tersebut ke muka Rachel.
Mereka yang melihatnya membelalakkan matanya terkejut dengan aksi berani Andhara. Kanaya dan Laurent juga terkejut dengan aksi gila kawan nya ini.
Sedangkan Bianca, ia dengan santai menyeruput es teh manis miliknya.
"LO APA APAAN HAH?! NYIRAM SAHABAT GUE PAKE KUAH MIE AYAM? LO MAU TANGGUNG JAWAB KALO SAHABAT GUE KENAPA KENAPA, HAH!?" teriak murka Ela, ia maju dan hendak meraih tubuh Andhara, namun sebelum berhasil menyentuh tubuh Andhara, tangan nya sudah lebih dulu di cekal oleh Bianca.
Bianca dengan santainya mendorong Ela hingga ia terduduk di lantai kantin. Kanaya hanya diam melihat kedua sahabat nya berulah, dia tak ingin ikut campur. Penyamarannya akan di pertaruhkan di sini.
Semua yang dikantin sudah melupakan aktifitas mereka sebelumnya, kini mereka sedang merekam dan menonton adegan drama yang sedang di tayangkan oleh Rachel dan kawan kawan serta Bianca dan Andhara.
"Sampah ngomong sampah" Ucapan sarkas Bianca membuat mereka bungkam.
Bahkan kantin yang sedang riuh pun ikut bungkam, termasuk empat mos wanted yang sedari tadi menonton.
"Lo tau gak, manusia kayak lo, hanya bisa membuat dunia tambah kotor." Lanjut Bianca.
Matanya memandang sinis Rachel yang sedang terduduk di lantai sembari menutupi muka nya yang tersiram kuah mie ayam tadi.
Andhara berjalan mendekati Dina yang sedari tadi bergetar, namun mata nya sedang berusaha menampilkan sorot menantang.
Andhara tersenyum miring, ia suka melihat pemandangan dimana lawannya gemetar ketakutan seperti sekarang. Ia hendak melayangkan tamparan, namun di cegah cepat oleh Kanaya.
"Udah stop!!" Teriak Kanaya.
Matanya menatap tajam Andhara, menyorot dengan tajamnya bagaikan pisau belati yang siap di hunuskan kapan saja.
"Kalian anak baru, tidak seharusnya membuat keributan seperti ini" Ucapnya
Andhara tau, kanaya sedang menahan amarahnya. Tangan gadis itu terkepal kuat, membuktikan bahwa dirinya sedang dalam selimutan amarah yang kental.
Perlahan Andhara berjalan kembali ke tempat duduk nya, dan menyeruput es teh manis yang belum sempat ia minum tadi.
Suasana kantin masih hening, tak ada yang berani angkat bicara satu orang pun.
Hari pertama yang di lalui oleh Andhara dan Bianca sungguh rusuh. Emosi mereka memang sangat sulit untuk di kendalikan, bahkan mereka bisa saja menghabisi nyawa seseorang yang membuat mereka kesal.
Tak lama setelah kejadian itu, sekelompok guru berbondong-bondong menghampiri meja Kanaya yang tampak berantakan dengan tiga sosok, yang tampilannya sudah berantakan.
"Ada apa ini sebenarnya?" Seorang pria berkepala plontos bertanya, di ketahui dari name tag yang tertera di seragamnya, bernama Sugino.
"Pa-pak ke-kedua an-anak ba-baru i-ini nyi-nyiram Rachel sa-sama kuah mie ayam pak" Dengan suara bergetar, Dina menjelaskan. Ia sedikit melirik takut ke arah Bianca dan Andhara yang menatap tajam ke arahnya.
"Anak baru?" Pak Sugino mengalihkan tatapannya dari Dina ke arah Bianca yang sedang tersenyum miring, penuh makna. "Apa benar yang di katakan Dian?" tanyanya kepada Bianca.
"Ya" jawaban singkat Bianca membuat para guru membelalakkan matanya terkejut.
"kenapa kamu melakukan hal itu Bianca" Tanya seorang wanita dengan tubuh gempal dan make up nya yang tebal, Bianca berpikir bukan bedak yang di gunakan untuk merias wajah, tapi tepung.
"Saya ralat pak, bukan saya yang nyiram. Tapi Andhara" Jelas Bianca santai, mengabaikan pertanyaan dari guru wanita yang di anggapnya badut itu.
"Lalu mengapa kamu mengakuinya?" Tanya pak Sugino.
"Kan bapak tanya, bener gak omongan dari cabe merah ini? saya jawab 'ya' dong, karena emang bener dia disiram kuah mie ayam sama Andhara" Jelas Bianca kesal. Matanya menatap tajam ke arah pak Sugino, yang mungkin akan kehilangan pekerjaan nya sebentar lagi.
"Ekhem... Baiklah, silahkan Bu Mira di bawa Rachel dan Ela ke UKS untuk pengobatan. Dan kalian berdua, bisa ikut saya ke ruang kepala sekolah?" Pak Sugino memberi titah.
Bianca dan Andhara hanya mengikuti saja, karena mereka jengah di jadikan bahan tonton gratis sedari tadi.
Kanaya menghela napasnya lelah, tak habis pikir dengan kedua sahabatnya yang tampak sangat kekanak-kanakan..