Ice Prince

1149 Kata
Kanaya mengerjapkan matanya bingung, menatap Alfian yang kini duduk di hadapannya dengan wajah dingin andalannya. Tadi sepulang sekolah, kanaya pulang dan mengganti pakaian nya. Setelahnya ia memutuskan untuk makan di sebuah restauran. Karena dirinya yang malas untuk sekedar memasuki dapur. Dan entah angin dari mana tiba tiba Alfian duduk di hadapannya, membuatnya panik sekaligus heran. Mengapa Alfian bisa mengenalinya? Pasalnya Kanaya duduk dengan baju yang lumayan tertutup hoodie kebesaran serta celana jins panjang berwarna biru dongker, serta lensa kontak dan rambut yang ia kepang menjadi satu. Tidak lupa juga kanaya memoleskan sedikit make up untuk menyempurnakan misi penyamarannya. Kulit yang semula nya putih ia ubah menjadi sedikit kusam seperti tak terawat. "Ehmmm, maaf siapa ya?" Tanya Kanaya dengan nada kikuk. Bukan apa apa, jantungnya sudah berdetak kencang, takut takut ia akan mudah di kenali dan di seret pulang ke rumah besar keluarga Dananjaya. "Alfian" Jawab singkat Alfian. Kanaya yang mendengarnya hanya bisa menggerutu dalam hatinya. "Ya gue tau lo alfian bego." Gerutu Kanaya dalam hati. Siapa yang tak mengenal Alfian Graham Dirgantara? Laki-laki tampan bertubuh jangkung, dengan rahang tegas serta di lengkapi ekspresi wajah datarnya. Putra bungsu Dirgantara itu menatap kanaya lekat. Sedangkan kanaya yang sedang makan merasa sedikit risih, sehingga ia mempercepat makannya. Naas, karena terlalu terburu buru, dirinya tersedak oleh makanan. Membuatnya terbatuk batuk hingga menyadarkan Alfian yang semula memandangi kanaya. "Ehhh, nih minum dulu. Mati keselek kan gak lucu" Ucap Alfian kepada kanaya sembari menyodorkan minuman yang tadi kanaya beli. Kanaya langsung menenggak minuman itu hingga tandas. "Makasih" Ucapnya kepada Alfian. Alfian hanya menganggukkan kepalanya. "Eumm, kenapa ngeliatin Saya kayak gitu ya kak?" Ucap kanaya sedikit kikuk dengan gaya bicaranya sendiri. Sungguh kanaya tak pernah berbicara se formal ini dengan orang yang menurutnya sebaya dengannya. Bahkan kakak kelas sekali pun ia tak peduli, yang penting ia nyaman menggunakan bahasanya. "Lo mirip seseorang" Jawab Alfian, kembali mata indahnya menatap kanaya lekat. Seolah olah sedang menatap lawannya takut takut ia kabur. "Siapa?" Tanpa sadar kanaya berucap. Dengan segera ia menutup mulutnya, bukankah itu bukan urusannya? Mengapa dirinya di anugrahi sifat yang kepo? "Calon istri gue yang kabur" Jawab Alfian enteng. Kanaya hanya bisa diam membisu, apakah ia ketahuan sekarang? Apa yang harus ia lakukan jika ia ketahuan? Apa nanti ia akan di paksa nikah oleh Alfian? Laki laki dingin itu? Oh tidak!! Kanaya tak mau menikah dengan kulkas berjalan itu. Dirinya tak mau menghadapi tingkah membosankan Alfian nanti. "O-oh ma-maaf" Entah apa lagi yang akan Kanaya ucapkan, namun ia tak terpikirkan. Hanya maaf yang keluar dari bibir tipisnya. "He'em" Alfian mengangguk-anggukan kepalanya tanda tak apa apa. Matanya masih menatap lekat Kanaya. Kanya menghela nafasnya kasar. Ia tak tahan jika harus berhadapan dengan Alfian dan tatapan dinginnya itu. "Emm kalo gitu saya permisi dulu" Ucap Kanaya seraya bangkit dari duduknya lalu mulai membereskan barang barang nya, seperti handphone serta tas selempang yang tadi ia bawa. "Ehh tunggu, gue boleh minta nomor lu gak?" Cegat Alfian. Tangan kekar Alfian kini telah melingkar sempurna di pergelangan tangan Kanaya. "Emmm, maaf saya buru buru" Dengan segera ia melepas paksa tangan Alfian, kemudian berlari keluar restauran dengan secepat kilat. Kanaya takut penyamaran nya akan terbongkar semudah itu. •••°••• Dengan nafas tersenggal, Kanaya berhenti tepat si hadapan unit apartemen miliknya. Dengan segera ia menekan tombol yang menjadi pengamanan apartemen nya. Ia masuk dan segera mendudukkan dirinya di sebuah sofa panjang, tanpa menyadari seseorang yang tengah memandangnya heran. "Ngapa lo?" Ucap orang itu. Kanaya berjengit kaget, ia menatap horor laki laki yang kini menatap nya heran. Manuel memang tau kata sandi apartemen nya, namun tak Kanaya sangka bahwa kakak nekat nya ini akan berkunjung untuk kedua kalinya. "Ngapain njir lo disini?" Tanya Kanaya sewot. Entah karena apa Kanaya jadi kesal sendiri mendapati makhluk tak ada akhlak ini di apartemen bagusnya. "Dih, gue disini pengen liat lu masih idup apa nggak, terus itu kenapa muka lo tengil banget. Pake lensa kontak lagi. Cupu abis" Ledek Manuel dengan tatapan merendahkan miliknya. Kanaya menggerang kesal kepada kakaknya itu. "Suka suka gue lah, ngapa lo? Hidup gue nih, kok lo yang ribet" Sarkas Kanaya. Manuel menatap adik nya lamat lamat, lalu ia berkata dengan polosnya, "PMS ya?" Kanaya yang mendengarnya hanya mendengus kesal lalu bergegas menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Ia belum mandi semenjak pulang dari sekolah, malas rasanya melakukan apapun jika belum makan. "Serah dah" Ucapnya seraya berlalu meninggalkan Manuel yang menatapnya. "Dasar cewek"                                 Alfian                                Online | P | P | Nuel? Imanuel |Hoh? |Ngapa dah | Masa tadi gue ketemu orang Imanuel |Trs? | diem dulu bambang Imanuel | oke lanjut.... | Diem anjir!! | orang nya mirip Kanaya | tapi dia tu item gak putih kek kanaya. | walau buluk tapi sumpah mirip banget Imanuel |Nah terus? |Kenapa? |gak papa Imanuel |Yeu sih anying, gak guna banget.!! Read Manuel mendengus kesal ketika mendapati pesannya yang hanya di baca oleh sahabat nya itu. "Dia kali yang bikin anak pungut ngambek" Gumam Manuel. Kanaya berjalan menghampiri Manuel yang kini tengah tiduran santai di sofa miliknya. Matanya fokus terhadap ponsel pintar nya, dan televisi yang menyala. "Lo ngapain sih ma? TV nyala, lo malah main HP. Hemat listrik, lo gak bayar juga" Omel Kanaya yang hanya di anggap angin lalu oleh manuel. "Eh nay, lo ketemu Fian ya?" Tanya manuel sembari mengambil posisi duduk setelah Kanaya duduk di sebuah sofa single dan mulai menonton TV. "Hm" Jawabnya singkat. Manuel berdecak kesal. "Ck, singkat amat. Idup lo ntar di singkatin baru tau rasa" Dumelnya. "Kalo idup gue singkat, idup lo lebih singkat. Secara Lo kan biangnya dosa gue" Balas Kanaya santai. Manuel mendengus kesal, dan kembali bermain ponselnya. •••^••• Kanaya berbaring dengan memandang langit langit kamarnya. Ia telah selesai membersihkan dirinya dan bersiap untuk tidur. Perkataan Manuel tadi sore membuat kanaya terus memikirkan nya. "Pulang lo, mama sama papa khawatir. Jangan kayak bocah deh, dikit dikit ngambek terus kabur dari rumah. Selesain lah dengan bijak, jangan kekanak-kanakan" "Apa gue pulang aja?" Gumam Kanaya setelah mengingat omongan Manuel. "Ah enggak, ntar kalo ima boong kan gak lucu. Terus malah langsung di nikahin. Gak elit banget gila" Gumam nya lagi. "Eh tapi kalo bener gimana ya?" "Tapi masa cuma bertahan tiga hari?" "Gak yakin gue" Kanaya terus saja bermonolog memikirkan banyak kemungkinan di balik ucapan Manuel itu. Mungkin ia akan mengurungkan niatnya Tiba tiba suara dering ponselnya mengagetkan kanaya yang sedang bermonolog. Ia meraih ponsel canggihnya yang ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya.                       +628xxxxxxxxxx                                Online | di mana? Kanaya |Sp y? | blm sv no gue y lo | batu bgt Kanaya |Hah?! |Mksdnya? | Alfian Kanaya. |Ohh ok |Ngapain chat malem²? | plg lo, ortu nyariin |Urusan sm lo ap |Siapa siapa jg bkn |Jgn sok peduli deh Read "Gak jelas banget jodoh orang." Gumam kanaya kesal menatap ponselnya yang masih menampilkan Room chat nya dengan Alfian. Perlahan mata cantik Kanaya mulai terpejam, dan menaungi alam mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN