Berakhir?!

1203 Kata
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Kini kanaya resmi kabur dari rumah selama satu bulan penuh. Selama itu pula, tak henti hentinya Manuel selalu mengunjunginya, membuat kanaya sedikit jengah dengan tingkah abang satu satunya itu. Tapi di balik sikap Manuel yang seperti itu, kanaya tau, abangnya itu bisa di andalkan dalam menjaga rahasia. Terbukti dirinya yang tak mendapat teror dari keluarganya maupun keluarga Alfian. Mungkin mereka tak tau keberadaan nya, setelah kejadian Alfian yang menghubunginya dulu, kanaya berinisiatif untuk menonaktifkan nomor dan membeli nomor baru. Tentu saja untuk menghindari pelacakan dari keluarga nya, walau itu mustahil dapat berhasil. Bukankah sudah di bilang? Kanaya adalah seorang hacker profesional. Kanaya dapat dengan mudah menghalangi rencana keluarganya yang melacak nya kelak. Namun kanaya tak akan mau mengambil resiko jika terus menggunakan nomor itu. Kanaya berjalan dengan tenang menuju kelasnya, tentunya dengan tampilan nerd nya. Sepanjang jalan menuju kelasnya, koridor sekolah penuh dengan hinaan serta cacian untuk Kanaya. Beruntung Kanaya sudah terbiasa dengan itu, jadi ia tak mau menghiraukan nya. Masa bodo dengan semua respon berlebihan bagi mereka mungkin? Oh ya, tentang Kanaya yang menyamar menjadi nerd di sekolah milik keluarga Dirgantara itu, telah di ketahui oleh Manuel. Laki laki itu tak sengaja menemukan perlengkapan nerd yang Kanaya simpan di bawah kasurnya. Mungkin Kanaya lupa untuk memasukan perlengkapan itu ke dalam sebuah kotak berwarna biru langit yang sengaja ia siapkan untuk menyimpan barang rahasianya. Awalnya Manuel tak percaya dengan ide konyol Kanaya, namun dirinya percaya Kanaya dapat menjaga dirinya dari beberapa orang yang mencoba membully nya. Sudah di bilang bukan, Kanaya juga jago dalam hal bela diri. Setelah sepanjang jalan kenangan yang telah Kanaya lalui, ia akhirnya sampai di tempat singgah sementara selama di sekolah itu. Yakni kelas tercinta nya. Dengan malas Kanaya masuk dan langsung menduduki tempat duduknya. Terlihat Bianca dan Andhara yang sedang berbincang ringan dengan Laurent. Mereka tampak sudah akrab. Fakta tentang Kanaya yang ternyata putri bungsu keluarga Dananjaya itu sudah di ketahui oleh Laurent tempo hari. "Kenapa lo? Kusut amat muka" Celetuk Bianca sembari memakan keripik singkong dengan rasa lada hitam itu. Pagi ini, Kanaya sedikit Bad mood karena abangnya yang tak henti hentinya, menyuruh ia pulang. Dan sekarang, mood nya yang buruk, berimbas pada semua orang. "Ba to the cot bacot" Jawab Kanaya cepat. Dengan kesal ia mengeluarkan buku novelnya. Dan membacanya dalam diam. Andhara, Bianca dan Laurent menatap bingung Kanaya yang cemberut entah karena apa. "Ngapa sih nih bocah?" Bisik Andhara kepada Bianca, dan sialnya langsung di dengar baik oleh Kanaya. "Stttt" Desis nya menatap tajam ketiga temannya yang sudah bungkam sembari menatapnya dengan raut yang sangat di paksa untuk takut. Tak lama seorang guru masuk dan memulai pelajaran sesuai jadwal yang sudah di atur. •••|••• kelakuan buruk Rachel dan teman temannya hanya mendapatkan hukuman berupa skorsing selama satu Minggu. Ini karena pihak orang tua, tidak setuju anak mereka di keluarkan dari pihak sekolah dengan alasan sepele bagi mereka. Kini setelah selesai menjalani masa skorsing nya, Rachel dan antek antek nya membuat ulah lagi. Kanaya menatap datar Rachel dan antek antek nya yang lagi lagi mengacaukan makan siang nya. Untung saja ia sudah menghabiskan seporsi mie ayam yang tadi ia pesan. Di samping kanan kanaya terdapat Bianca yang sedang santai menikmati makanannya. Di hadapan kanaya, Andhara dan Laurent sama santainya dengan Bianca. "Heh cupu, beliin gue bakso sana" Ucap Rachel keras. Seluruh isi kantin menatap ke arah mereka, tak kecuali Manuel, dan teman-temannya. Manuel menatap khawatir Rachel, ia tau betul sifat adik satu satunya itu. Ia tak segan segan menghabisi orang yang menganggu makannya. Termasuk Manuel sekalipun, jadi Manuel akan berpikir seribu kali untuk mengusili adiknya yang sedang makan. "Punya tangan, kaki, mata, mulut gak di pake dengan benar ya. Percuma njir Tuhan titip tuh indera buat melengkapi fisik manusia" Celetuk Andhara, ia masih fokus mengunyah potongan bakso yang tadi ia pesan. "BILANG APA LO?!" Bentak Dina, salah satu pengikut Rachel yang setia menemani dari episode kemarin. "Udah gak tau malu, tuli lagi" Ujar Bianca menatap Rachel dan teman temannya remeh. Rachel hendak melayangkan sebuah tamparan di wajah mulus Bianca yang tepat berada di hadapannya. Namun sebelum itu sebuah suara yang dingin dan penuh penekanan mampu membuat seluruh kantin bergetar ketakutan. "Berani sentuh sahabat gue, gue patahin kedua tangan lo sekarang juga" Ucap kanaya dengan pandangan yang menusuk Rachel. Jika tatapan mata kanaya di ibaratkan sebuah pisau, maka di pastikan Rachel akan tamat sekarang. "Hah?! Bisa apa lo?" Ela yang sedari tadi diam pun akhirnya mulai tersulut emosi, menghiraukan kondisi kantin yang mulai hening. Bahkan sepertinya suara nafas pun tak akan terdengar. "Dia bisa beli harga diri lo" Jawab Laurent dengan pandangan sinis mengarah tepat pada manik Ela yang menatapnya nyalang. "GADIS BEASISWA KEK DIA? " tanya Ela dengan nada yang naik satu oktaf, Bermaksud merendahkan kanaya. Kanaya hanya diam, ia tetap mengawasi ketiganya. Jika mereka menyentuh seujung rambut sahabat nya, maka di pastikan diamnya kanaya sekarang belum tentu bisa menyelamatkan nasib tangan mereka kelak. "Gadis beasiswa yang lo kira itu adek kandung gue. Gimana dong?" Sebuah suara santai mengalihkan perhatian semua orang. Menatap bingung Manuel, alfian, Liam serta Bisma yang berjalan mendekati mereka. "A-adek?" Gagap Rachel menatap tak percaya kanaya yang kini sudah bangkit menatap nyalang Rachel. "Pergi deh hama. Muak soalnya gue ngeliat cewek murahan kek lo. Seberapa miskin nya sih keluarga lo sampe gak bisa beli baju sekolah yang lebih layak dari yang lo pake itu" Ucapan sarkas kanaya mengundang tawa bagi Bianca. Diantara mereka semua, Bianca yang dapat di kategori kan sebagai makhluk ter-receh segeng mereka. "Gosah tawa lu upil badak" Ketus Andhara menatap Bianca yang kini tertawa dengan memegangi perutnya sembari memukul meja. Alhasil beberapa minuman dan bahkan beberapa mangkok yang semula terisi dengan kuah pun habis. "HAHAHAHA, Ngakak bazeng" Ucap Bianca disela sela tawanya. Manuel menatap datar teman adik nya itu, apa ia tak bisa membaca situasi? Di saat seperti ini ia malah tertawa? Unik sekali teman adiknya ini. "Tu-tunggu gak mungkin anak beasiswa kayak dia, anak konglomerat" Sanggah Dina. Matanya tetap memandang remeh kanaya, walau tersirat ketakutan di kedua matanya itu. Kanaya sedikit memiringkan kepalanya, menatap Dina dengan pandangan polosnya, bak anak kecil yang mendapat omelan dari orang tua nya namun tak mengerti arti bahasa yang di gunakan. "Loh kenapa? Anak konglomerat sekalipun tetap manusia yang ingin mendapat beasiswa. Beasiswa bukan sekedar membiayai sekolah doang tau, tapi juga bisa mengukur tingkat kecerdasan" "Berarti kalo gue dapet beasiswa, kemampuan gue sebagai murid cerdas di akui oleh negara, bukan hanya diakui sebagai putri bungsu keluarga Dananjaya." Ucapan kanaya membuat Dina diam menahan malu. Sebenarnya kata kata kanaya ini ia dapat dari sebuah website Quotes yang ada di internet, faktanya kanaya tak terlalu cerdas hingga bisa mendapatkan beasiswa. Ia hanya mampu membuat surat palsu atas pengakuan tentang dirinya yang mendapat beasiswa, memang tak mudah melakukannya, namun mau bagaimana lagi? Ini semua demi misi penyamarannya yang mungkin akan terbongkar sekarang. "Sejak kapan lo pinter?" Celetukan polos Andhara membuat Manuel menyemburkan tawanya. Kanaya menatap sinis Andhara yang kini tengah menatapnya. "Tidak usah merusak suasana sekali aja, bisa gak?" Tanya kanaya disertai tatapan tajamnya. Andhara hanya menggaruk tengkuk nya yang mungkin tak gatal. Seperti biasa Bianca juga tertawa mendengar celetukan Andhara. "Ck, diem ah." Kanaya langsung melenggang pergi, meninggalkan teman temannya yang masih tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN