Kunjungan Tak Terduga

1164 Kata
Pagi minggu ini, Kanaya habiskan dengan bermalas malasan di kasurnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, namun Kanaya belum ada niatan untuk bangkit dan pergi mandi. bergelung di bawah selimut dengan AC menyala, pada siang hari yang terik membuat Kanaya nyaman. Bel pintu berbunyi nyaring. Kanaya mengerjapkan kedua matanya, dan memandang jam weker yang berada di nakas samping tempat tidur. Dengan mendesah malas, ia bangkit dan berjalan sempoyongan menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang berani mengganggu waktu bersantai nya. mata yang semula sayu, berubah melotot begitu melihat siapa yang berada di balik pintu. Kedua orang tuanya menatap Kanaya dengan pandangan bersalah. Di belakang mereka, terlihat Imanuel yang telah menyengir seolah tak berdosa. Ima s****n rutuk nya dalam hati. "Kanaya.... " Suara lirih dari mama nya, membuyarkan lamunan yang berisi u*****n untuk abang tersayang nya. Mata Riana berkaca-kaca begitu melihat anak bungsunya berada di hadapannya dalam keadaan baik baik saja. "ehmmm....... Masuk dulu, gak enak di liatin orang." Mereka semua masuk, termasuk Imanuel yang menatap jahil ke arah Kanaya. Ingin rasanya Kanaya menghanyutkan abangnya itu ke sungai sss, agar tak pernah kembali lagi di hidupnya. Kanaya membawa nampan berisi minuman segar yang cocok untuk cuaca yang lumayan panas ini. Tak lupa juga Kanaya telah membersihkan dirinya, dengan mencuci muka dan sikat gigi, kalo mandi kelamaan. "Nih silahkan diminum, khusus untuk Ima. Minuman kopi pahit" Kanaya tersenyum miring, tahu bahwa Abang tersayang nya ini membenci kopi. Imanuel menelan ludah nya susah payah, dia menatap adiknya dengan pandangan memelas. Kanaya acuh dengan tatapan melas Imanuel, di berjalan dan duduk di sofa single. "Kanaya... Udah besar" Suara Rania menyambut begitu Kanaya mendaratkan bokongnya di sofa. Kanaya berdehem, merasa bangga dengan ucapan mamanya. "Iyalah.. Kanaya gak mau jadi kayak Ima yang kekanak-kanakan" Imanuel melotot kan matanya sebal. Sudah pasti, Imanuel akan mendapatkan balasan seribu kali lebih berat dari kesalahan yang ia perbuat. Kanaya selalu melakukan itu jika ia membuat salah. "Karena Kanaya sudah besar, dan mempunyai penghasilan sendiri, jadi Kanaya gak perlu di jodohin!!" Tegas Kanaya. Ia tak akan terlena dengan wajah berurai air mata milik mamanya. "Papa sih juga maunya gitu... Tapi, gimana ya..." Arthur menggantung ucapannya, ingin melihat reaksi putri semata wayangnya ini. "Kalo gak mau Kanaya bisa ke London, atau ke negara mana pun. Dan akan di pastikan kalo kalian gak akan bisa nemuin Kanaya kali ini" "Eh....?" Raina terkejut dengan ancaman Kanaya. Dia menoleh dengan cepat ke arah Arthur yang duduk di sampingnya. Mengerti arti tatapan dari istrinya, Arthur mengangguk dan menatap serius ke arah Kanaya. "Kamu boleh pilih akan melanjutkan perjodohan atau tidak setelah pendekatan dengan Alfian nantinya. Jika dalam Jangka waktu 1 tahun kamu tetap gak mau milih Alfian jadi suami kamu...." Arthur berdehem, dan melanjutkan. ".... Kamu boleh nolak Alfian dengan catatan, sebelum berbicara dengan mama dan papa kamu bisa bicarakan baik baik dengan Alfian" Kanaya mencerna ucapan Papanya dengan seksama. Lalu menatap papanya itu ketika ia merasa ragu, "Jaminan nya apa? Kalo misalkan mama dan papa tetep paksa Kanaya setelah 1 tahun itu, Gimana?" "Papa akan kasih 3 cabang Perusahaan papa. Dan akan di balik nama menjadi namamu" Tawaran ini cukup menggiurkan... Imanuel yang sedari tadi mendengarkan, melotot tak percaya.. Kalo begini caranya, ia juga mau di jodohkan. "Kok gak adil. Manuel juga mau!" Imanuel menyerukan pendapat. Arthur menghela napasnya, "Kamu akan mewariskan setidaknya enam puluh persen dari total" Giliran Kanaya yang melotot, "Gak adil! Masa kanaya cuma 3 cabang perusahaan, itu pun kalo jadi." Protes nya. "Kanaya akan mewarisi empat puluh persen dari total kekayaan papa, dan akan dapat sekitar lima puluh persen dari warisan eyang" Mendengarnya Kanaya berbinar. Eyang dari pihak papanya ini sangat baik padanya, bahkan eyang akan menjadi Sekutu yang menguntungkan dirinya. Warisan eyang nanti akan sangat banyak, dan dengan mendaptkan setengah nya saja bisa membuat Kanaya jingkrak jingkrak kesenengan. Dia akan sedikit sombong nanti. "Ekhem...." Kanaya terbatuk palsu. "Kanaya Terima tawaran papah" Ucap Kanaya dengan tampang yakin. Arthur tersenyum senang dan menjabat tangan Kanaya, tanda perjanjian itu di mulai. ••••• Kanaya merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang berada di ruang tamu. Setelah orang tuanya dan Imanuel pamit pulang, dengan senyum lebarnya. Kanaya meraih ponsel nya yang berada di meja depan sofa. Ia men scroll media sosial miliknya. Merasa bosan, Kanaya memutuskan untuk berhenti bermain ponsel dan pergi membersihkan dirinya. Lebih baik Kanaya berbelanja di super market dekat apartemen nya, kebetulan juga bahan makanan nya sudah mulai menipis. 30 menit ia habiskan untuk bersiap. Kanaya menggunakan Hoodie putih oversize dan di padukan dengan Celana pendek Jeans sepanjang paha. Kanaya memoles kan make up tipis ke wajahnya. Setelah dirasa cukup, Kanaya keluar Apartemen dengan tas slempang kecil berwarna hitam. Rambut yang ia cepol dengan membentuk donat menambah aksen cantik pada diri Kanaya. Kanaya mengendarai mobil sport kesayangannya dengan kecepatan di atas rata rata. Tak memakan waktu lama, ia tiba di supermarket yang dekat dengan apartemen nya. Kanaya mendorong troli menyusuri rak bagian snack dan mengambil banyak jenis ciki untuk ia makan nanti. Kanaya mendorong troli menuju rak sayuran, ia memilah sayuran yang sekiranya bagus untuk di konsumsi. Setelah cukup, gadis cantik itu melanjutkan mengambil daging sapi cincang dan sepotong ayam yang telah bersih. Kanaya juga mengambil beberapa bumbu yang sekiranya habis, tak lupa juga ia membeli beberapa kebutuhan lainnya. Setelah menghabiskan hampir dua jam, akhirnya Kanaya selesai dengan 2 troli penuh dengan belanjaannya. Sepanjang perjalanan menuju kasir, banyak pasang mata yang menatapnya heran. Mungkin mereka heran dengan banyaknya barang yang telah Kanaya beli. Kini giliran ia tiba untuk membayar di kasir. Sang kasir menghitung total belanjaan Kanaya. "Total belanjaannya satu juta dua ratus rupiah kak, ingin di bayar cash atau debit?" Tanya penjaga kasir, tak lupa ia tersenyum ramah pada Kanaya. "Cash" Kanaya mengeluarkan dua belas lembar uang seratus ribu dan membayarkan ke kasir. Kanaya keluar dari parkiran supermarket setelah sebelumnya memasukkan semua barang belanjaannya ke garansi. Di perjalanan menuju Apartemen nya, Kanaya melihat ada toko es krim yang cukup unik. Tanpa pikir panjang kanaya membanting stir mobilnya ke arah toko es krim itu. Dengan perasaan senang dan penasarannya, Kanaya masuk. Bunyi lonceng tanda orang memasuki toko itu berbunyi. Kanaya berbinar takjub melihat interior dari toko ini. Tokonya nyaman dengan beberapa Air Conditioner yang di letakkan di hampir setiap sudut. Toko eskrim ini di hias dengan cat warna Lilac dengan kursi dan meja yang berwarna Merah muda. "Aku pesan es krim coklat dan es krim stoberi aja" Ucap Kanaya pada penjaga kasir. "Baik kak, Silahkan di tunggu" Kasir itu memberikan sebuah kertas semacam kupon yang bergambar sebuah es krim yang mempunyai mata dan mulut. Setelah nya Kanaya duduk menunggu es krimnya tiba. Pandangannya mengedar, meneliti setiap sudut toko, hingga tak sengaja ia menangkap sosok yang terlihat familiar di matanya. Sosok itu duduk bersama seorang perempuan asing. Mereka tampak saling berbincang, dengan tatapan berbinar cerah dari sang perempuan dan tatapan datar. Sesekali laki-laki kulkas itu tersenyum tipis. Kanaya tersenyum sinis, menatap mereka. "semua cowok sama aja" batin Kanaya kesal. "silahkan kak pesanannya" Seorang pelayan wanita datang membawa pesanan Kanaya. Kanaya tersenyum tipis sebagai sopan santun. "Selamat menikmati" Ramah pelayan. Kanaya menghabiskan es krim yang ia pesan dengan semangat. Seolah lupa dengan apa yang tadi ia lihat. Setelah habis, Kanaya bangkit menuju kasir, dan membayar pesannya. Kanaya berlalu pergi dari toko dengan hati senang, makanan manis terutama es krim adalah makanan kesukaan Kanaya, tapi ia tidak terlalu suka permen. Kanaya tidak menyadari, sepasang mata yang menatap nya tajam sedari Kanaya memakan es krim miliknya hingga selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN