Reuni

1429 Kata
Semua orang melalui prosesnya dengan cara yang berbeda-beda. Nikmatilah prosesmu. *** Sudah setengah jam aku berada di sini, di antara para panitia yang sibuk menyiapkan segala keperluan. Di balik jendela terlihat tamu undangan mulai berdatangan. Alfian masih belum kembali. Aku merasa asing di sini, meski sebagian dari mereka menyambut dengan hangat. Seperti Zahra misalnya. Namun, tetap saja masih ada juga yang memandang sinis. Allah, sungguh Engkau maha membolak-balikkan segalanya. Dulu aku begitu percaya diri dan berani berhadapan dengan mereka. Namun, kali ini sungguh aku malu berhadapan dengan mereka. Bahkan sekarang aku hanya diam, saat beberapa orang saling berbisik membicarakan. "Tenang, Zi. Jangan dengar perkataan buruk dari orang lain tentang kamu dulu atau sekarang. Semua orang melalui prosesnya dengan cara yang berbeda-beda. Nikmatilah prosesmu." Alfian tiba-tiba datang dan mengatakan semuanya. Membuat orang-orang itu langsung menutup mulutnya tak berkutik. "Yuk, di luar sudah mulai banyak yang datang," ajaknya kemudian. "Ayo, Zi. Pekerjaanku juga sudah selesai." Zahra mengulurkan tangan padaku. Aku terdiam beberapa saat, menatapnya yang masih menunggu balasan untuk uluran tangannya. Dia kemudian menarik tanganku, setelah tidak juga mendapatkan respons. Langkah kami mulai berjalan menuju lapangan sekolah, tempat digelarnya acara; Alfian mengekor. Aku sempat menoleh dan dia hanya tersenyum seraya mengangguk. Begitu sampai di sana aku masih saja menjadi pusat perhatian. Ratusan pasang mata menatap ke arahku, yang langsung memalingkan wajah; enggan membalas tatapan mereka. "Kita duduk di sana," ajak Zahra, sedangkan Alfian berjalan menuju arah panggung. Kedatanganku dan Zahra cukup menyita perhatian banyak orang. Wajar saja dulu kami berhubungan tidak baik. Selain itu banyak yang saling berbisik mengomentari penampilanku begitu melewati mereka. 'Butakan matamu untuk mereka yang memandang sinis terhadapmu. Tulikan telingamu untuk mereka yang berkata buruk tentangmu.' Kalimat itu melintas dalam ingatanku, yang diucapkan Alfian ketika kami dalam perjalanan menuju sekolah. "Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatu. Selamat sore Ibu, Bapak guru dan teman-teman sekalian." Alfian mengucap salam, sebagai tanda acara dimulai. Fokusku tertuju kepadanya yang tampak memesona dan berkarisma. Senyum tipis terlukis di bibirku ketika memandangnya. "Zi." Suara seorang perempuan menyerukan namaku. Aku menoleh, mendapati seorang wanita paruh baya berjilbab putih menghampiri. Lekas aku meraih tangannya dan menyalami; bergantian dengan Zahra. "Kamu pangling, Zi ... cantik sekali," ujarnya memuji, seraya membelai kepalaku. Aku hanya tersenyum tipis. Mata beliau menatap dengan berkaca-kaca. Beliau ini adalah Bu Wahyuningsih, anak muridnya biasa memanggil dengan sebutan Bu Wahyu. Beliau juga wali kelasku ketika kelas satu SMA. "Pada hakikatnya manusia diciptakan untuk belajar. Terus belajar, perbaiki dirimu. Jangan mudah puas dengan semua yang kamu jalani saat ini," ujarnya lagi menasihati. Mendengar nasihatnya, hatiku selalu dibuat terenyuh. Beliau adalah guru yang paling sabar dan penuh pengertian dalam menghadapi anak muridnya. Tidak pernah sekali pun aku melihatnya marah. Di saat semua guru memberikan penghakiman pada anak-anak yang dianggap pembuat onar, tidak dengan Bu Wahyu. Caranya menasihati selalu penuh dengan kasih sayang dan lemah lembut. Hari ini pun beliau masih sama, sikapnya yang hangat selalu membuat siapa pun tenang. Di saat kami tengah asyik berbincang, seseorang datang menghampiri; memintanya untuk menemui salah satu guru. Bu Wahyu pun pamit. "Nanti kita bicara lagi, ya." Beliau lekas beranjak, lalu pergi. Alfian sudah tidak lagi berada di atas panggung. Entah sejak kapan dia turun. Kulihat dia ada di samping panggung bersama dengan panitia acara. Tampak sedang berbicara, serius sekali. Kini Pak Maman yang berada di atas panggung; menjadi perwakilan dari guru-guru untuk memberikan sambutan. Beliau terlihat sudah tua sekali dengan rambut yang memutih seluruhnya, serta keriput yang hampir memenuhi seluruh bagian wajahnya. "Pahlawanmu dan anak-anak yang berlangganan masuk ruang BP," bisik Zahra diselingi tawa kecil. Aku pun turut tertawa. Iya ... beliau kerap menyelamatkanku dari hukuman, termasuk anak-anak yang lain. Meski demikian, bukan berarti beliau membela yang salah. Namun, beliau selalu memiliki cara sendiri untuk menegur anak-anak muridnya. Beliau selalu menasihati tanpa menghakimi, apalagi sampai mempermalukan anak-anaknya. Bahkan anak-anak lebih segan dan menurut kepadanya, dibandingkan kepada Guru BP yang seharusnya bisa menjadi tempat ternyaman untuk anak-anak muridnya. Namun, yang terjadi justru selalu penghakiman dan label pembuat onar yang diberikan. Aku pun tersenyum memandang sosok di atas panggung; senang sekali bisa kembali bertemu dengan beliau. "Zi, aku ke sana dulu, ya. Alfian manggil soalnya. Kamu mau ikut atau ...." "Aku ikut," ujarku menyela. Kami beranjak menuju Alfian. Tiba-tiba saja Zahra memberitahukan keberadaan ketiga temanku. Pandanganku pun beralih mengikuti arah terlunjuk Zahra. "Kamu mau temui mereka? Aku ke sana, ya." Tanpa menunggu jawabanku, Zahra pergi. Rupanya ketiganya sudah menyadari keberadaanku. Setelah menghela napas, langkahku mulai bergerak menghampiri mereka. "Zizi ... ini seriusan lo?" Ratna menatapku dari ujung kaki hingga kepala. "Sumpah ... lo beda banget, Zi," Anggi menyambung, menatap dengan mulut yang sedikit terbuka. Hanya Melisa yang tidak bereaksi. Dia hanya menatapku dan ketika aku membalasnya, dia menurunkan pandangannya. "Kalian apa kabar?" tanyaku mengalihkan topik. Anggi langsung memeluk, mengatakan kalimat rindu. Sungguh aku pun merasakan hal yang sama. Terisak Anggi dalam pelukanku. "Aku juga kangen banget sama kalian," balasku, mengeratkan pelukan. "Lo beda banget, Zi. Kita sempat kaget saat ngelihat lo kaya gini. Sekarang ngomongnya aku kamu lagi," ujarnya lagi melepaskan pelukan. Aku tidak menanggapi, pandangan kini kembali tertuju kepada Melisa. Hening sesaat tanpa ada obrolan. Perempuan yang saat ini mengenakan mini dress dengan rambut dibuat kriting pada bagian bawahnya itu tampak memalingkan wajah, terlihat gelisah. Sama seperti yang aku rasakan saat ini. "Mel ... selamat, ya. Aku dengar kamu dan Reno akan menikah." Di hadapannya aku pura-pura bahagia. Baru dia menatapku, berkaca-kaca. "Maafkan gue, Zi ...!" Suaranya terdengar sangat lirih. Pisau seperti menancap di ulu hati, menyisakan perih dan sakit yang kurasakan. Sekuat tenaga aku menahannya. Setiap takdir memiliki jalannya masing-masing. Mungkin ini sudah menjadi jalan kami. Kembali aku tersenyum, usai berusaha mengendalikan diri. "Allah sudah menakdirkan kamu bersama Reno. Takdir Allah tidak pernah salah, Mel. Jadi untuk apa kamu meminta maaf?" Dalam hati ingin sekali menjerit, aku ini memang munafik; berlagak baik-baik saja, padahal tidak. Cairan bening dalam sepasang netraku sempat jatuh dan langsung kuhapus. Melisa kemudian memelukku, terisak. "Mel ... udah, deh. Enggak ada yang salah. Lagian Zizi sama Reno udah enggak ada apa-apa," ujar Ratna, menjauhkan Melisa dari tubuhku. Ada sesak yang kurasakan. Kenapa Ratna bicara seperti itu? Sementara itu Anggi hanya diam, tidak berpihak. "Lagi pula dia juga menikah. Iya, 'kan, Zi?" "Lo jahat banget, Zi ... nikah enggak undang-undang kita." Baru Anggi ikut menanggapi. Aku langsung diam. Kabar pernikahan memang sudah aku sampaikan pada mereka. Namun, saat pernikahan itu batal aku tak lagi mengabari mereka. "Elah ... malah bengong." Aku kemudian kembali mengangkat wajah dan mengulas senyum tipis. "Aku belum nikah, kok." "Seriusan, Zi? Bukannya dulu ...." Anggi tidak melanjutkan kalimatnya. "Ah, bagus, deh. Jadi gue ada temannya," lanjutnya, kemudian tertawa. Ternyata Anggi pun belum menikah. Ratna kemudian mengalihkan topik, menyinggung tentang Zahra yang tadi sempat bersamaku. Tidak ingin bercerita panjang lebar, aku hanya mengatakan kebetulan. "Banyak banget yang berubah dari lo ternyata. Pakaian tertutup, bicara santun, berteman sama Zahra juga sekarang," ujar Ratna terdengar seperti mencibir. Tidak semua hal baik akan diterima baik oleh orang lain. Mungkin seperti itu kondisi saat ini. Aku pun tidak bisa memaksa semua orang untuk mendukung perubahan ini, untuk itu aku memilih diam.Di sela obrolan ponselku berdering. Nama Alfian berada dalam panggilan. "Aku angkat telepon dulu, ya," izinku pada mereka. "Ya, sudah ... kita tunggu di sana, ya, Zi" Anggi menunjuk ke arah kursi kosong paling belakang. Aku hanya mengangguk, lalu pergi. Panggilan tidak lama berlangsung. Alfian hanya memberitahu, kalau dia harus pergi sebentar, ada kebutuhan acara yang harus dia beli. Tak lama usai menerima panggilan, aku berniat untuk menghampiri Melisa, Ratna dan Anggi. Namun, begitu berbalik badan seseorang berdiri sembari menatapku. Reno, dia kini nyata dalam pandangan. Banyak hal yang berubah dari sosoknya. Dia jauh lebih tampan dibandingkan saat bersamaku; tubuhnya semakin terlihat atletis; ada kumis tipis yang menghiasi wajahnya. "Zi ...!" panggilnya dengan suara parau. Pelupuk mataku menghangat. Segera aku palingkan wajah, tidak tahan lagi melihat wajahnya. "Apa kabar, Zi?" Dia kemudian bertanya. "Baik, Alhamdulillah. Kamu sendiri?" tanyaku di akhir kalimat dengan memberanikan diri menatapnya beberapa saat. "Aku pikir akan baik-baik saja saat kita bertemu lagi, tapi ternyata tidak." Aku berusaha untuk mencerna kalimatnya. Tidak, aku tidak bisa. Dadaku semakin sesak. Tanganku pun semakin dingin dan gemetar. Oh, Allah, dia akan menikahi temanku. Jangan biarkan aku berdosa, karena rasa ini. Segera aku pamit, undur diri dari hadapannya. "Kamu cantik dengan seperti itu, Zi," ujarnya pelan, tetapi masih bisa ku dengar. Langkahku sempat terhenti, dalam sesaat langsung kembali melangkah. Hati ini meminta untuk tetap tinggal. Namun, setiap hubungan memiliki batasan. Aku dan Melisa bersahabat baik. Apa pantas, jika hati ini masih berharap pada laki-laki yang akan menikahi sahabatku sendiri?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN