Tanpa Sekat

1096 Kata
Perihal hati tidak pernah ada yang tahu seperti apa wujudnya. Sebagian orang menyembunyikan lukanya dalam bentuk gelak tawa; ada juga yang bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku salah satunya. Namun, adakalanya hati ini tidak sanggup lagi untuk terus berpura-pura. *** "Lagu ini gue persembahkan spesial buat kalian semua." Mendengar suara itu, aku yang sedang bicara dengan Zahra langsung menatap lurus ke arah panggung. Dia juga rupanya membalas tatapanku, sembari memetik gitar yang membuat hati ini hanyut dan hampir tenggelam. Lagu 'Kita' milik Sheila On Seven mulai dia nyanyikan. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa mendengar kembali suara merdunya. "Aku baru tahu kalau Reno dan Melisa akan menikah," ujar Zahra di saat aku sedang meresapi lirik lagu yang mengalun, memenuhi ruang telinga. Menanggapi ucapannya, aku hanya tersenyum dan kembali menatap ke depan, sama sekali tidak ingin membahas apa pun tenang mereka. "Tapi sepertinya, Reno masih mencintaimu. Tatapan dia masih sama seperti dulu," sambungnya lagi, membuat hati ini semakin tidak karuan. "Tidak perlu dibahas, Ra. Tidak baik membicarakan masa lalu di saat orang itu akan menikah." Aku kembali tersenyum palsu. Sebenarnya itu tidak baik buatku, karena hati ini tidak tahan lagi mendengarnya saat kisah itu kembali diungkit. "Zi ... maaf, ya, tadi anaknya si Ratna nangis jadi kita tinggalin, deh," ujar Anggi seraya menepuk pundakku. "Kalian pindah, dong. Kita mau duduk di sini," pinta Anggi seenaknya. "Eh, jangan! Lebih baik aku saja yang pindah. Kita bisa cari tempat yang kosong, Gi," ujarku tidak enak. "Gak usah, biar mereka aja yang pindah." Mereka tampak kesal karena diusir secara terang-terangan oleh Anggi. Dulu, ini adalah hal yang biasa bagiku. Saat kantin penuh, selalu meminta orang lain untuk pergi. "Zi, aku ke sana dulu, ya. Di panggil lagi sama Alfian." Zahra tiba-tiba ikutan pergi. Entah benar dipanggil Alfian atau sengaja menjauh, karena tidak nyaman bersama mereka. Aku hanya menatapnya yang berjalan semakin menjauh. "Jadi, ceritanya sekarang itu ada yang sahabatan sama Zahra, nih." Ratna sepertinya sengaja menyindir. "Udahlah, Na ... biarin aja kenapa, sih?" Tanggapan Anggi justru biasa saja. "Oh, iya. Tadi kayanya anaknya Ratna nangis. Sekarang di mana?" Aku sengaja bertanya untuk mengalihkan perhatian mereka dark bicara tentang Zahra. "Lagi dibawa jalan-jalan sama suami gue." Aku tidak lagi bertanya, karena tiba-tiba sepasang netra mendapati Melisa dan Reno berjalan mendekat. Keduanya saling menggenggam. Ada beberapa teman lain juga bersama mereka. Mereka langsung mengambil duduk di antara aku, Anggi dan Ratna. Tatapanku dan Reno sempat saling bertemu. Namun, kemudian aku segera berpaling. "Ini seriusan Zizi?" Seseorang kulihat melebarkan mata menatapku, Hari namanya. Salah satu anggota tim basket sekolah juga. "Eh, iya ... gue baru ngeuh. Lo beneran, Zizi?" Satu lagi menanggapi dengan reaksi yang sama. Kali ini Andre, teman satu kelasku dulu. "Biasa aja reaksinya ... bisa, 'gak?" Reno merespons dengan nada bicara seperti tidak terima mereka menatapku dengan seperti itu. Sementara itu aku mendapati Melisa mendelik dan melepas tangannya yang sejak tadi melingkar di lengan Reno. "Apaan, sih, No? Lo, tuh, yang biasa aja," Ratna ikut menanggapi dengan nada bicaranya yang sini. Reno langsung bungkam. Aku kembali memutar tubuh dengan menghadap ke depan, menahan cairan bening yang sudah tergenang di pelupuk mata. Tempat dan situasi ini benar-benar membuatku tidak nyaman. Perihal hati tidak pernah ada yang tahu seperti apa wujudnya. Sebagian orang menyembunyikan lukanya dalam bentuk gelak tawa; ada juga yang bersikap seolah semua baik-baik saja. Aku salah satunya. Namun, adakalanya hati ini tidak sanggup lagi untuk terus berpura-pura. Aku tidak tahan lagi, Yaa, Allah. "Anjir gue telat banget! Mobil gue mogok masa!" Seseorang baru saja datang dan aku hafal suaranya, itu pasti Andri. "Hei, cantik geser, dong ... orang ganteng mau duduk di sini," katanya lagi. Ya, sudah aku pastikan itu memang Andri. Aku masih bertahan dengan posisi menatap lurus pada panggung. Pak Sugi, salah satu guru berdiri di atas sana, menyanyikan tembang lawas berjudul 'Widuri'. Lagu favoritnya, karena sejak dulu selalu lagu itu yang dia nyanyikan. Ragam aktivitas teman-teman saat ini. Ada yang menikmati makanan, ada yang sibuk mengobrol, ada pula yang ikut bernyanyi bersama Pak Sugi. Sementara teman-temanku dari belakang mereka terdengar asyik menggoda Andri yang datang terlambat. "Gue juga kalau 'gak mogok tuh mobil, 'gak bakalan telat." Terdengar Andri memberikan pembelaan diri. "Ganti, tuh, mobil pakai becak biar kagak mogok! Sisanya pake modal kawin!" Kini terdengar Reno yang bicara. "Diem, lo! Mentang-mentang mau kawin. Gak usah ledek gue!" Senyum dari bibirku seketika lenyap, setelah mendengar perkataan Andri. Lagi, aku berusaha untuk tetap tenang; kembali fokus menatap ke depan sembari menikmati sisa makanan yang belum sempat kuhabiskan. "Eh... No, ngomong-ngomong si Zizi gak datang, ya? Gue enggak lihat bentuk keseksiannya itu anak. Kayanya doi enggak datang, karena tahu lo mau merit kali, ya." Meski setengah berbisik aku masih mampu mendengar semua kalimat yang diucapkan Andri pada Reno. Kontan hati ini merasa nyeri dan perih; seperti ada sesuatu yang menancap begitu tajam dalam hatiku. Mataku mulai panas. Namun, segera aku mengendalikan diri. Tidak sepantasnya aku meratapi semuanya. Allah telah mengatur segalanya dengan sangat sempurna. Pertemuan aku dan Reno di masa lalu hanyalah sebuah persinggahan dalam kehidupan kami berdua. Allah berhak mempersatukan siapa pun yang Dia kehendaki, termasuk Reno dan Melisa. Tidak ada yang menjawab, hingga Zahra kembali dan duduk di sampingku. Dia bilang, "Maaf, ya, Zi ... tadi ada urusan kepanitiaan." Terdengar suara batuk dari belakang. Kemudian tiba-tiba saja Andri sudah berada di depanku, duduk di kursi kosong yang berhadapan denganku. Reno menatapku dan Andri mengikuti arah pandangnya. "Zi ... lo jadi guru ngaji sekarang?" ceplosnya dengan mata lebar. "Anjir! Sumpah ... gue enggak percaya kalau ini Zizi si cewek yang hitz, ketua geng, populer, cantik, seksi, galak, mantan ceweknya kapten basket yang kalau marah bisa ngancurin sepuluh lapak di pasar," cerocosnya seperti sedang mengabsen dengan pandangan menatap kepadaku. Aku langsung tertunduk. Seburuk itu aku di masa lalu? Sampai abadi dalam ingatan semua orang. Tiba-tiba tangan Zahra bergerak menggenggam tanganku. "Lo, kalau ngomong suka minta ditimpuk, deh!" Anggi melemparkan sendok es krim tepat di kepala Andri. Aku menoleh dan Anggi langsung menenangkan, "Enggak usah dimasukin hati, Zi. Ini makhluk emang otaknya dapat nyicil dan belum lunas, makanya kalau ngomong suka enggak pakai otak." "Gue kalau ngomong suka minta diterima, Gi," responsnya sembari tertawa. "Diterima apa?" "Diterima nikah dan kawinnya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar kontan," jawabnya menirukan seseorang yang sedang mengucap ijab kabul. "Najiiis lo!" Anggi kembali melemparkan sesuatu kepadanya. Seketika perasaanku membaik setelah melihat tingkah mereka. Sejak dulu mereka memang selalu seperti itu. Aku kembali menoleh pada Anggi dengan senyum yang terlukis di bibir. Namun, senyum itu perlahan lenyap ketika pandangan beradu dengan sepasang netra milik Reno yang sedang menatapku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN